Review – Cipali KM 182

written by Rangga Adithia on April 23, 2016 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 6 comments

Di sebuah ruangan meeting, KK Dheeraj duduk dengan raut wajah penuh gelisah, sudah setengah jam sejak rapat dimulai tapi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut si bos. Orang-orang yang berada di ruangan tersebut hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya masing-masing, berspekulasi sendiri mengartikan diamnya Bos mereka. Sampai akhirnya KK Dheeraj berdiri dari kursinya, mendekati salah-satu jendela besar dan menatap ke arah jalanan yang kala itu sedang macet. Akan lebih mendramatisir jika ditambahkan dengan rintikan hujan yang menciptakan bulir-bulir air di kaca, ala adegan di film-film Nayato. KK Dheeraj kembali duduk, kali ini dia akan mulai bicara, tensi ketegangan mulai terasa meninggi, semuanya fokus ke arah bibir KK Dheeraj, bahkan gerakan mulutnya tiba-tiba jadi terkesan slow motion. “Saya mau bikin film horor lagi? kira-kira ada yang punya ide cerita bagus?” tanya KK Dheeraj sambil melihat enam orang yang sedang kebingungan. Setelah hening lima menit, penulis skrip yang sudah ikut lama sama KK Dheeraj tunjuk tangan. “Film horor macam gimana, Bos?” tanya si penulis. “Pokoknya tak seperti film horor saya yang dulu, mesti beda dan tanpa esek-esek!” jelas si Bos.

“Saya kasih waktu sampai besok siang abis lunch, ceritanya harus yang orisinil, saya nga mau film saya dicap nyontek film lain lagi seperti Selimut Berdarah yang katanya niru Memento, saya kena tipu penulis kacrut yang bilang itu cerita karya orisinil, ternyata hasil nonton trailer dan baca sinopsis di wikipedia. Huh! Untung sudah saya pecat!” KK Dheeraj bercerita sambil kesal. Keenam orang yang hadir di rapat pun keluar ruangan dengan muka seperti habis Diperkosa Setan, mikirin batas waktu yang dikasih Bos membuat mereka lemas. “Gila!! bagaimana caranya cari ide cerita yang orisinil dalam semalam!!”, bentak salah-satu penulis yang tak mau nama aslinya disebut, jadi panggil saja dia Muhidin. “Tenang dong bro, kan ada youtube, hahahaha!” balas (sebut saja) Sulam dengan santai. “Wah bunuh diri kau, sudah lupa yah cerita Bos barusan!!” tegas (sebut saja) Dorman. “Yah jangan bego kaya orang yang dipecat Bos-lah bro, usahakan cari triller film horor yang jarang ditonton orang dan nga tayang di bioskop sini,” lanjut Sulam sambil mulai mengetik “triller film horor” di kotak pencarian youtube. Muhidin, Sulam, Dorman dan tiga temannya yang lain pun langsung bertapa di meja masing-masing, pakai headphone, dan menjelajah cuplikan demi cuplikan film horor Barat dan Asia.

“Nah! Saya suka yang ini, punya siapa nih? Punya kamu pasti, Din?” tanya si Bos, sambil menunjuk Muhidin. “Bukan Bos, punya saya yang ceritanya tentang lima anak muda yang chatting-an pakai skype terus salah-satunya ternyata hantu, dan mereka satu-persatu diteror.” Muhidin menjelaskan. “Cerita punya saya yang Bos pegang itu.” Sulam menimpali. “Okay, good job Sulam, sekarang lanjut bikin skrip, saya mau jangan banyak penampakan, kita fokus ke si Ayah yang kerasukan batu Bleneng, maksud saya penghuninya yang jin itu ya, saya suka ini sangat lokal dan pasti laku bawa-bawa nama Tol Cipali yang emang angker itu.” jelas KK Dheeraj. Setelah Bosnya pergi, Sulam langsung mengusap dada seraya berkata “untung si Bos belum menonton filmnya, mampus kalau ketahuan nyontek The Possession of Michael King modal ngintip trailer dan baca sinopsis”. Kasihan KK Dheeraj sekali lagi harus kena tipu tim penulisnya, padahal dia mau membangun K2K yang baru tanpa image horor belahan ketek…eh tetek. Cipali KM 182 harusnya jadi perayaan kembalinya sang master of horror, sayangnya saya dibuat kecewa.

Tol Cipali KM 90-182 adalah Areal Kerajaan Jin, mungkin punya metode menakuti yang sedikit lebih baik atau bisa dibilang “normal”, ketimbang film horor produk K2K terdahulu yang biasanya mudah bikin otak geser dan pendarahan. Tapi niat untuk mengubah citra penghasil horor kacrut harus tercemar karena K2K tetap tidak bisa hilangkan kebiasaan buruknya, yakni nyontek film lain. Cipali KM 182 adalah “daur ulang” yang gagal dari The Possession of Michael King. Okay, mereka (K2K) mungkin khilaf dan mari anggap saya tidak pernah tahu tentang film horor garapan David Jung tersebut, toh saya akan tetap kecewa besar karena harapan dipertontonkan sebuah film mega kacrut musnah. Cipali KM 182 tidak lagi punya sensasi kebusukan murni ala Dendam Pocong Mupeng ataupun Dedemit Gunung Kidul. Satu-satunya yang masih bisa menghibur saya hanya posternya, gambar di poster sama sekali tidak ada dalam adegan Cipali KM 182, dan itu seperti sebuah homage ke film-film horor K2K ketika logonya masih berbentuk piramida gaib. Kalau AADC saja bisa punya sekuel setelah 14 tahun, bukan tidak mungkin suatu saat nanti K2K bakalan mempertimbangkan untuk membuat Genderuwo 2.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Lights Out
Review - Warkop DKI ...
Review - Lukisan Ber...