Review: Selimut Berdarah

written by Rangga Adithia on July 28, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 13 comments

Sadis, seram, tegang…dan bikin muntah!

KKD (saya tidak perlu menyebut kepanjangannya) sepertinya selalu bisa melihat celah sempit—sesempit pikirannya—dan sanggup memanfaatkannya menjadi sajian amburadul bin dangkal berkedok judul yang tak kalah menyesatkan, tidak beda jauh dengan judul “Selimut Berdarah” ini. Ketika sineas yang tahu malu enggan terang-terangan menjiplak cerita film lain, makhluk jejadian ini dan sekte sesat K2K-nya justru seperti tidak punya malu dan bangga bisa mencontek “Memento”-nya Nolan atau kebanyakan menyebut film India “Ghajini” (tapi sayang saya belum menonton film ini). Tentu saja kemasan KKD akan lebih brilian, seperti biasa dengan kadar mesum yang ditinggikan volumenya, dosis intelektual yang diturunkan menjadi nol persen, dan plot yang ditumpuk-tumpuk seperti ingin terlihat pintar namun sebenarnya tak lebih dari sekedar adonan otak kotor sang KKD sendiri yang dicampur dengan muntahannya. Menonton seri ke dua dari “cutter killer” ini tidak hanya membuat saya mual-mual (serius saya muntah ketika sampai dirumah) tapi memberikan efek idiot stadium akut selama 2 hari, jadi wajar ketika saya baru bisa menulis review ini sekarang.

Kemungkinan setelah menulis ini pun saya akan kembali idiot dan terpaksa saya lagi-lagi harus meminum obat, lalu melakukan scan otak, dan bertemu dengan dokter ahli syaraf, terakhir istirahat total selama satu minggu. Separah itukah film ini? saya akan menjawab tidak…maksudnya tidak salah lagi, terlalu parah untuk bisa dikatakan sebagai film yang pantas ditayangkan di bioskop, semoga nanti juga ada fatwa haram peredaran film ini dalam bentuk dvd/vcd. Saya tidak lagi akan “memuja-muja” bagaimana film ini sanggup dengan begitu cerdas memasukkan adegan-adegan tidak berhubungan hanya untuk tampil semesum-mesumnya. Saya juga tidak akan buang-buang waktu membanding-bandingkan film ini dengan bahan contekannya, toh nulis ini aja sudah buang-buang pahala.

Jika pada “Rayuan Arwah Penasaran” KKD berhasil memboyong artis jepang no. satu, kali ini umpan dia untuk memancing penonton adalah dengan mengajak artis korea yang lagi-lagi di poster hanya dituliskan penampilan khusus artis korea (tanpa nama). Terlintas sejenak di pikiran, kira-kira siapa lagi yang akan diguna-guna si KKD untuk tampil apa-adanya di film selanjutnya. Mungkin artis dari hutan amazon atau jangan-jangan akan ada penampilan khusus artis dari planetnya, planet? lho memangnya tidak ada yang tahu yah kalau produser yang satu ini berasal dari planet mesumnus. Di film, seperti si artis jepang yang tidak diberikan dialog (hanya desahan), artis korea ini sama sekali tidak memiliki dialog. KKD hanya menempatkan dia sebagai “etalase” menggiurkan, untuk dipakai di adegan-adegan “iklan susu” dan pamer bikini merk KKD tailor.

Sedangkan Enno Lerian hanya tampil sebentar, bermain sebagai Ria dan Pinkan Mambo lebih parah lagi hanya diberi adegan dia sedang menyanyikan lagu paling mengganggu-sejagad. Keduanya adalah adik kakak, Ria-lah yang membuat kehidupan Dicky berakhir berantakan. Presiden direktur yang hobi foto-foto cewek berbikini dan doyan bolos untuk bertemu Ria ini, sekarang tak lebih dari seonggok memori malang. Otaknya memberikan dia jatah 10 menit untuk mengingat sesuatu, lalu setelah itu hilang begitu saja, bahasa kerennya Short Term Memory Loss Syndrome. Jadi untuk memudahkan dia mengingat sesuatu, termasuk mengingatkan dia sedang syuting film KKD (karena sepertinya semua pemain di film ini hilang ingatan dan menyangka sedang syuting dengan Nayato, sama aja donk!), Dicky mengandalkan sebuah kamera polaroid dan catatan kecil yang dibawa-bawa kemanapun dia pergi. Tujuan hidupnya cuma satu, yaitu membunuh orang bernama Rehman, tapi bodohnya dia justru membunuh orang yang salah, padahal jelas-jelas dia sudah punya foto Rehman dan targetnya ini orang terkenal yang sering muncul di tv.

Bodoh memang sudah jadi kata yang khas untuk menemani review film-film sang master penculik moral yang satu ini. “Selimut Berdarah” pun tidak jauh berbeda, malah film ini seperti gabungan dari kebodohan yang pernah dibuat KKD sebelumnya. Coretan di tubuh Dicky (supaya terlihat keren dan kelihatan psikopat) misalnya, untuk memberi kesan itu adalah tato, film ini tidak perlu repot memperlihatkan adegan Dicky sedang mentato. KKD cukup membelikan spidol murahan yang itu pun hasil hutang dari warung sebelah, lalu mulai mencoret-coret badan Dicky dengan kata-kata seperti bunuh rehman, selimut (saya sampe sekarang tidak mengerti apa hubungan tato selimut dengan judul film dan isinya), nama KKD sendiri dengan penuh simbol lope, dan daftar hutang yang harus di bayar di warung. Tidak cukup bersalah mencoret-coret badan Dicky (seperti halnya KKD merasa benar ketika terus menerus mencoreng kualitas perfilman lokal), seisi kamar pun dicoret-coret asal-asalan yang penting ada kata bunuh! dan…ah saya hilang ingatan.

Kebodohan tato cap warung yang terlihat bohongan karena luntur dimana-mana—sama seperti IQ saya yang mulai luntur—ditambah tolol ketika berbagai tulisan menghiasi seisi kamar Dicky. Tembok penuh dengan kata-kata bunuh rehman lagi dan catatan-catatan yang bagi orang normal saja susah diingat apalagi bagi Dicky yg hilang ingatan, disitulah kejeniusan KKD berperan, dia tidak peduli dengan kebodohannya sendiri. Dicky dipaksa mengingat semua coretan yang ada dikamarnya, termasuk laptop yang di label dengan tulisan laptop. Separah itukah hilang ingatan Dicky sampai harus melabeli laptopnya? oh ternyata semua barang di kamarnya memang dilabeli. Kotak penuh label dengan tulisan: jam tangan, memori saya, pistol, dan entah apalagi karena terlalu banyak kebodohan yang dilabeli. Jadi setiap hari Dicky harus mengingat ratusan label yang ada dikamarnya, saya seharusnya cepat-capet mengganti label laptop dengan “kue ulang tahun, lemparkan ke muka KKD”. Bahkan ada catatan berupa daftar apa yang harus dilakukan Dicky ketika baru bangun tidur, pertama dia harus ingat untuk bunuh rehman dan seterusnya (film bahkan belum sampai setengah main, saya sudah mengumpulkan kantong muntah, film ini punya rekor kantong muntah terbanyak tahun ini).

Bagaimana dengan ceritanya? apakah saya masih harus menumbalkan jari-jari saya untuk mengingatkan anda betapa briliannya film ini. Seperti halnya film-film KKD sebelumnya yang terlampau cerdas dalam mengeksploitasi jalan cerita hingga tak sanggup di cerna oleh otak (apa yang mau dicerna jika filmnya sendiri dibuat tanpa jerih payah otak), namun justru cepat sekali merangsang lambung untuk mual, film “Selimut Berdarah” ini adalah akumulasi dari keseluruhan hasil karya masterpiece KKD yang dijadikan satu. Film ini terus saja berputar-putar menyajikan formula selangkangan dicampur plot jenius yang awalnya ingin terlihat pintar namun tergelincir ke selokan dan terpaksa semua pemain dalam film ini sepertinya berlomba-lomba menjelaskan apa maksud film ini? dari istilah Short Term Memory Loss Syndrome sampai motif Dicky membunuh orang-orang. KKD yang merasa dirinya jenius tentu saja baik hati menyisipkan narasi dan dialog yang tujuannya memudahkan saya dan penonton untuk mengerti filmnya (ayo semua bilang terima kasih *bacok kepala sendiri). Tapi toh hasilnya, sudah dijelaskan seperti anak SD yang baru masuk sekolah, film ini tetap saja tak mudah untuk dijelaskan, terlalu banyak kode dan simbol yang hanya dapat dipecahkan oleh penghuni mesumnus.

Jika saya punya lampu ajaib berisi jin, permintaan saya adalah memberikan otak kepada KKD, supaya dia bisa membuat film yang setidaknya tidak hanya diperuntukan untuk penghuni rumah sakit jiwa (orang gila pun sepertinya sulit mencerna film ini). Tunggu saya baru ingat lagi (terima kasih untuk tato di badan saya yang seksi ini), film ini tidak hanya mendaur ulang cerita yang sudah ada menjadi sampah dan membabi buta menjejali visual dengan obat penurun IQ dan sukses meningkatkan tekanan darah. Film ini juga memberi perlakuan kejam kepada indera pendengaran dengan efek-efek suara norak dan musik latar yang saya tidak bisa ungkapkan apa itu. Film ini entah menambahkan suara-suara darimana, ketika saya sudah mual dengan filmnya, musik berisi desahan lelaki dan cekikikan wanita (masih banyak lagi suara aneh) ini berhasil menyiksa telinga. Parahnya diakhir film, “Selimut Berdarah” dengan percaya diri menambahkan theme song dari film yang menceritakan tentang Jack Sparrow.

Seburuk wajah hantu di film-filmnya, “Selimut Berdarah” lebih buruk lagi. Duh ingat setan KKD, saya kesal karena di film ini tidak ada satupun penampakan setan (karena) saya kangen sekali dengan mereka (tulisan ini tanda kelunturan otak saya sudah mencapai 75%). Tapi cukup senang karena melihat pembunuh yang lagi-lagi bersenjatakan cutter (cutter killer). Saya yakin cutter tersebut pinjam dengan pemilik warung, mungkin tidak dikembalikan untuk properti syuting selanjutnya. Jika trilogi cutter killer sudah rampung, tampaknya tidak mustahil kelak bencong keliling akan punya tandingannya di film “BELING vs. CUKIL” (cukil=cutter killer), disutradarai oleh duo KKD dan Nayato. Berisi semua penghuni mesumnus, pocong disko, kuntilanak jeruk parut, babi ngepet keselek biji salak, zombie gondrong ketombean, sebuah film antar galaksi dan antar dimensi gaib. Sudah cukup saya mengumpulkan dosa dengan review ini, semoga kita tak lagi bertemu, yang artinya perfilman tanah air sudah terbebas dari invasi planet mesumnus…amin!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Tujuh Film Horor Fav...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ouija: Orig...
Review - Under the S...