Review: Dendam Pocong Mupeng

written by Rangga Adithia on March 16, 2010 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 13 comments

Cintamu Palsu ~ Pocong

Setelah mengalami apa yang dinamakan pendarahan otak tingkat akut, akibat menonton sekaligus me-review “Affair” yang notabennya film slasher bersimbah darah ini (maaf, ini cuma ada diotak saya, jangan dianggap serius), sepertinya orang yang sekarang lagi menulis review ini tak ada kapok-kapoknya menyita waktu berharganya menonton film tak wajib tonton, apalagi sempat-sempatnya meluangkan waktu mengetik beratus-ratus kata, padahal film sejenis ini cukup direview dengan beberapa kata saja (sesi curhatnya nanti aja boy!!). K2K production strikes back!! KK Dheeraj yang sudah terkenal dengan film-film maha-dasyatnya kembali menggebrak perfilman tanah air, kali ini di tahun 2010, KKD (jangan tertukar dengan Kim-Ki Duk sutradara 3-iron itu yah, KKD disini yah siapa lagi kalau bukan singkatan dari KK Dheeraj) mempersembahkan “Dendam Pocong Mupeng”. Film yang sebelumnya sempat dilarang tayang di bioskop karena banyak mengumbar adegan “17 tahun ke-atas” ini, akhirnya tayang juga tuh dengan mengganti judulnya (Hantu Puncak Datang Bulan) dan tentu saja sensor sana-sini yang berakibat film ini makin aneh bin mejiiiik. Ini pun kali pertamanya gw berkesempatan nonton film dari  orang  yang bertanggung jawab penuh dengan film-film macam “Genderuwo” dan “Darah Janda Kalong Wewe”, di bioskop (bangga sekali anda beroooo!!).

Berbeda dengan Nayato yang terlihat niat mengemas filmnya menjadi bagus, namun berakhir dengan hasil “kurang” memuaskan (duh gw sopan sekali). KKD sepertinya memang sudah dari awal niat untuk membuat film “serba kurang” (kaya Toserba donk yah, semuanya ada), hasilnya pun minus dari segi kualitas maupun hiburan. Alkisah film yang punya judul super-mind-catching ini menceritakan dua pasang kekasih sebut saja namanya Putri dan Putra (males juga gw inget-inget nama karakternya), yang sedang memadu kasih di daerah puncak, di dinginnya malam dan di pinggir kolam renang (dude!! come on!! get a room). Ketika sedang “tanggung” Putri masuk ke dalam rumah, sedangkan Putra justru malam mengintip apapun itu (apa yang diintip Putra tidak pernah diperlihatkan, atau kena sensor juga, atau dia jangan-jangan ngintip pak produser sedang mandi kali yah *muncrat perkedel). Sialnya, pada saat Putri memergoki Putra, dia malah jatuh dari tingkat dua karena pagarnya tiba-tiba roboh (duh ini nih yang namanya pinal destinesien), begitu pula dengan Putra yang tiba-tiba terlilit kabel lalu tersetrum listrik (jadi si putra ini matinya kesetrum apa kelilit kabel, bodo ah…). Keduanya pun tewas dengan bersimbah darah di rumah tersebut.

Film ini tanpa basa basi mengeluarkan jurus twist briliannya dan mematahkan kata-kata romantis “hanya kematian yang bisa memisahkan cinta kita”, karena ternyata setelah kematian Putri dan Putra masih tetap bisa berhubungan, Putra menjadi pocong dan Putri entah jadi setan apa, malah mirip penyanyi dangdut yang habis digebukin penonton. Rumah mewah ini pun sekarang dihuni oleh anak-anak muda yang kost, setelah dibeli oleh si pemilik kost dari pemilik lama. Satu-persatu dari mereka pun mulai diganggu oleh arwah penasaran…errr ini mah setan jail bin dekil (mukanya item-item kaya ditempelin kotoran kerbau *muncrat popcorn ke penonton di depan). Putra yang masih saja mata keranjang, padahal sudah jadi pocong ini, masih sempat-sempatnya mengintip penghuni kost yang diperankan oleh Andy Soraya. Namun bukannya menjerit ketakutan, si pocong justru dilempari bermacam-macam barang di kamar mandi (dan satupun tidak ada yang kena). Sebelumnya si pocong juga mengintip penghuni lain, tapi berakhir dengan dia dilempat celana dalam yang kali ini pas mendarat di wajahnya (pocong muka kancut, duh). Seperti tak mau kalah, setan Putri juga mulai mengganggu penghuni kost laki-laki, kali ini dipergoki oleh pocong Putra. Disinilah drama cinta alam gaib dimulai. Toooeeet!!

Film ini jadi semakin terasa aneh dan lompat kesana-kemari seperti pocong karena sensor yang kasar, memperparah cerita yang memang sudah terkemas ancur lebur, terlanjur sudah jadi bubur…cur…ancurrr!! Tak ada plot di film ini yang bisa cocok dengan logika manusia normal, mungkin film ini bisa jadi tontonan reguler di rumah sakit jiwa, baru bisa cocok sebagai hiburan disana (itu pun masih terlihat tidak manusiawi, kesian juga orang gila dikasih nonton film ini…hiks). Terlihat dari banyaknya potongan di film ini, kita bisa melihat adegan “gorengan” cukup mendominasi dengan 30 menit total durasi. Hasilnya hanya satu jam sisa film yang masih “lolos” untuk ditayangkan, isinya pun tidak lebih dari komedi konyol dan adegan-adegan bodoh lengkap dengan dialog-dialog dari planet lain. Jika itu tak membuat anda berasa seperti di dunia lain, karena disini waktu terasa sangat lama (serius, padahal sejam tapi kerasa kaya 400 menit),

Film ini punya karakter-karakter dukun yang siap menghibur anda, sebut saja dukun wanita yang punya “anu” yang terlalu besar (awas tumpaaaah). Film ini sebenarnya punya misi mulia lho, yaitu memanusiawi-kan para setan. Pocong dan Setan dangdut pun diperlihatkan bisa pacaran, ditambah dengan adegan ala film-film cinta, sayang adegan mesra ini tidak dikemas dengan gaya film Nayato, pasti akan lebih indah. Bagaimana tidak mesra, pocong mengungkapkan isi hatinya kepada setan dangdut dengan kata-kata pamungkas “cintamu palsu” (daaaaaaaaang!!!). Adegan yang sudah pasti mengalahkan semua film cinta yang pernah ada ini, dengan latar belakang lampu-lampu berkedap-kedip pun dipenuhi curhatan antara mereka. Sepertinya mood menulis gw udah nol persen, ini tinta mesin tiknya juga udah habis…sayang sekali padahal masih banyak yang ingin gw bagi kepada para pembaca nih (kaya ada yang baca aja). Oh iya jika sebelumnya saya menantang Nayato untuk membuat film zombie, kali ini saya menantang KKD untuk kolaborasi dengan Nayato…(btw, setan di poster kok nga ada di film yah). Epic fail!!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Lights Out
Review - Munafik (20...
Review - Train to Bu...