Review – The Possession of Michael King (2014)

written by Rangga Adithia on June 2, 2015 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 2 comments

“The Possession of Michael King” memang bukan film horor found footage paling seram, tapi setidaknya David Jung sudah berusaha untuk membuat film horornya untuk tidak terlihat buruk. Saya akui tema yang diusung David pun tak lagi dapat dikatakan baru, sudah banyak film horor yang menceritakan tentang kerasukan, tapi untungnya film debut penyutradaraan David ini juga membawa konsep yang lumayan membuat saya penasaran. Bukankah film horor selalu dimulai dengan orang-orang yang penasaran—penasaran pergi ke tempat-tempat yang angker, penasaran membuka pintu yang terbuka sendiri, penasaran melihat ada siapa di balik jendela. Rasa penasaran sudah cukup untuk jadi alasan saya untuk mutusin menonton “The Possession of Michael King”, jika kemudian ternyata ada sesuatu yang membuat saya makin tertarik, well itu karena film ini juga menawarkan hal-hal yang berbau okultisme lengkap dengan segala ritual-ritual black magic serta pemujaan setan—iya, saya memang suka dengan semua itu. Jadi, sebetulnya film ini “cocok” dengan selera saya, termasuk dihidangkan dengan found footage, well sekarang tinggal bagaimana David meraciknya saja, apakah konsep tersebut bisa dimasak jadi tontonan yang enak atau malah sebaliknya justru bikin muntah.

“The Possession of Michael King” akan mengajak kita berkenalan dengan Michael (Shane Johnson), seorang pembuat film yang memutuskan—setelah ditinggalkan oleh istrinya dan mengalami depresi—akan membuat proyek dokumenter yang berfokus pada pertanyaan apakah Tuhan dan iblis itu ada. Nantinya, Michael tak hanya akan belajar macam-macam ritual dari buku yang dia baca, tapi juga akan mendatangi banyak pakar dengan keahlian yang berbeda-beda, dari hanya untuk ditanyai soal keberadaan setan sampai mempraktikkan ritual, dari berinteraksi dengan seorang peramal hingga bertemu dengan para pemuja iblis. Awalnya tak terjadi apa-apa dan Michael menganggap dirinya benar bahwa iblis, setan, hantu atau apapun itu namanya tidak ada. Well, tampaknya Michael lupa jika iblis akan melakukan apapun untuk bisa mengajak manusia jadi teman mereka di neraka, dan proyek dokumenter sesat yang dilakukan Michael seperti sebuah undangan bagi iblis untuk datang menjemputnya. Ketika nantinya Michael akhirnya sadar sudah berbuat bodoh, sudah sangat terlambat baginya untuk menyesal.

“The Possession of Michael King” tidaklah seburuk rating Rotten Tomatoes atau IMDB, lagipula saya memang jarang akur dengan penilaian dua website tersebut. Menurut saya film ini tipikal film yang harus ditonton sendiri tanpa perlu repot-repot cari pendapat orang lain—itulah yang selalu saya lalukan jika berurusan dengan yang namanya film horor. Dapat review jelek bukan berarti saya lalu tak jadi menonton, buat saya membaca review sebuah film (apapun genre-nya) tidak menentukan pada akhirnya saya jadi menonton atau enggak, tujuannya sekedar untuk menyetel ekspektasi ke posisi yang tepat saja. Saya melakukan hal serupa pada “The Possession of Michael King”, sebelum menonton saya baca review dulu tapi tetap menekan tombol play walaupun review tersebut bilang “filmnya jelek”. David yang katanya terinspirasi dengan “The Last Exorcism” (2010) memiliki ide dan konsep yang menarik untuk filmnya, terlalu disayangkan jika hasil akhirnya sepertinya kurang dimasak dengan matang. Kelemahan David pun amat terlihat ketika kita tiba di bagian-bagian yang harusnya menegangkan, tapi terasa kurang digarap dengan maksimal dan beberapa jump scares-nya pun tidak efektif.

Terlepas dari kekurangannya, termasuk terlalu berlebihannya penggunaan suara berisik dan efek distorsi untuk memberi kesan lebih mencekam pada film, harus diakui kalau saya terhibur oleh “The Possession of Michael King”. Dengan durasi 83 menit, setidaknya David sudah berusaha menghadirkan sebuah film bertema kemasukan setan dengan sudut pandang yang unik. Kali ini kita melihatnya dari sudut pandang Shane Johnson yang memerankan Michael King, melihat langsung before dan after-nya dan bagaimana karakternya secara bertahap berubah tidak hanya dari fisik yang terlihat makin berantakan, tapi juga lebih ke dalam jiwanya yang perlahan habis dilahap iblis laknat. Shane Johnson tidak saja asal berperan sebagai orang yang kelihatan sinting, tapi dia harus bisa meyakinkan saya bahwa dirinya sudah dalam kendali iblis alias kerasukan. Hebatnya, Shane bisa lakukan itu walaupun ada beberapa bagian yang terlihat agak konyol, setidaknya Shane mampu membuat saya tidak bosan menonton film yang semua durasi dihabiskan oleh adegan Michael ngomong sendiri ke kamera. Dengan performa akting yang mumpuni dari Shane, kita tidak saja dibuat bersimpati oleh karakternya tapi juga peduli ketika melihat perjuangan Michael melawan iblis di dalam tubuhnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Some Kind o...
Review - Juara (2016...
Review - Munafik (20...
Review - Under the S...