Review: Dedemit Gunung Kidul

written by Rangga Adithia on December 30, 2011 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 3 comments

Review Dedemit Gunung Kidul

Setelah terakhir berhasil dibuat menderita lahir dan batin oleh master-piece-of-syit KKD yang judulnya “Pelukan Janda Hantu Gerondong”, demi keselamatan dan masih sayang nyawa, nyawa gw cuma satu men, gw mutusin untuk stop nonton film-filmnya doi, berat juga sih (gila!). Tapi begonya gw masih setia sama yang namanya Nayato, itu sama juga boong. Judul demi judul keren macam “Pacar Hantu Perawan” dan “Arwah Kuntilanak Duyung” yang fenomenal dikenal di penjuru dunia dan pelosok neraka, terpaksa gw rela nga nonton, desas-desus yang gw denger dari mulut bau ke mulut abis muntah sih film-film doi makin arthouse—nga mao kalah sama yang namanya “Tree of Life”. Menjelang akhir tahun, ketika orang-orang sibuk ngabisin stok film-film berbau award dan berlomba mempublikasikan daftar film terbaik mereka tahun ini, gw malah lebih milih film yang dikhususkan untuk orang cacat mental, “Dedemit Gunung Kidul”, yang sebetulnya tidak manusiawi juga kalo film macam gini dijejalin ke otak orang gila dan psikopat sekalipun. So, gw resmi nonton film KKD lagi (bangga banget), gitu ceritaku, gimana ceritamu?

Mao mulai darimana, “Dedemit Gunung Kidul” tetap masih punya formula busuk yang dipakai KKD di film-film sebelumnya, walaupun hanya berdurasi 70 menitan (termasuk film KKD yang paling pendek), siksaan dahsyatnya tidak berkurang sedetik-pun. Dimulai dari menit pertama, otak sudah diajak untuk mengkerut, logika seperti ditantang bertinju dan film ini tidak akan pernah mau mengalah, lagipula logika dan otak memang tidak lagi diperlukan ketika menonton film-film KKD, salah besar saudara-saudara sebangsa! Beda dengan film-film si Nishimura yang memang fun dan semakin menyenangkan ketika kita sengaja menekan tombol off di otak, film-film KKD se-wajibnya tetap membiarkan otak menyala, sebagai filter, menyaring visual menjijikan yang ditampilkan di layar, tidak ada pengaruhnya sih, toh yang disaring juga kotoran semua, tapi setidaknya kita tidak keluar dari studio dan menjadi gila setelah menontonnya. Berduet lagi bersama sutradara Yoyok Dumprink, KKD sepertinya sudah menemukan soulmate-nya dalam menghasilkan karya-karya spek-TAI-kuler, semoga perfilman kita diberi kekuatan dan ketabahan menerima cobaan dari dua orang ini… ayo semua bilang “amin”. Amiiiin.

“Kita ini mafia, mafia tidak mengenal kata cinta”, dialog-dialog mengenaskan macam itu akan menjadi santapan selama gw dikurung dalam tempat berak yang belum dibersihkan bernama “Dedemit Gunung Kidul”. Film KKD yang satu ini seperti kembali ke jaman-jaman awal keemasannya, belum bisa mengalahkan “Genderuwo”, “Skandal Cinta Babi Ngepet”, “Hantu Binal Jembatan Semanggi”, dan “Darah Janda Kolong Wewe”, tapi ada unsur kemurnian film busuk khas KKD disini, kadar busuknya pas tidak berlebihan, pas untuk menghempaskan otak gw ke tanah dan hancur berkeping-keping. Film yang lagi-lagi ditulis oleh penulis kedemenannya KKD, Melonys ini, tidak ada henti-hentinya ingin menjejalkan otak gw dengan berbagai ketololan dan keidiotan, menantang sejauh mana otak manusia bisa bertahan meladeni kejeniusan KKD dan kotorannya.

Seperti yang gw bilang sebelumnya, “Dedemit Gunung Kidul”, itu seperti mengajak gw kembali menonton film “Genderuwo” dan kawan-kawan sebangsat-nya, sebelum KKD terobsesi mendatangkan legenda film dewasa dari luar negeri ke film-filmnya dan justru merusak kemurnian filmnya sendiri, kebusukannya ternodai. Di film ini KKD tidak perlu memboyong artis-artis panas senilai satu milyar, karena film ini murni dibuat untuk yah bisa dibilang bersenang-senang, niat tulus untuk membuat film sehancur-hancurnya. Suka sekali ketika KKD kembali dengan percaya diri memasukkan ketololannya dalam soal menakut-nakuti, gw yakin “Dedemit Gunung Kidul” itu film drama yang disisipi horor yang berdiri sendiri, dramanya keluyuran tak karuan, setan-setan berwajah pantat ayam belum cebok pun dengan asyik asal nongol di sembarang tempat tanpa kejelasan maksud dan tujuannya. Setan-setan KKD memang terkenal pantang menyerah, walau selalu gagal dalam urusan menakuti, mereka selalu sukses bikin kantung muntah terisi penuh sampai luber dan isi otak gw mencair keluar dari kuping.

Segini kangennya-kah gw sama KKD? sampe nulis review “Dedemit Gunung Kidul” pun sampai sebegitu serius dan menghabiskan waktu dan paragraf terbuang percuma. Tahun ini ada film paling jelek juga yang gw tonton, “Misteri Hantu Sembelit…eh Seluler” dan “13 Cara Memanggil Setan”-nya Ki Kusumo, tapi walau otak udah berdarah-darah, dua film itu belum bisa menandingi apa yang ditawarkan “Dedemit Gunung Kidul”, ini film oldskul-nya KKD, yang dibuat seniat-mungkin untuk menjadi busuk. Lihat saja posternya yang sudah mewakili betapa cacat filmnya, menjiplak poster “Drive Angry” sekaligus menculik salah-satu anggota X-Men, “Beast” untuk mejeng di poster. Padahal di filmnya jauh dari kesan mobil-mobilan atau bercerita tentang mutan. Ya udah lah yah, ini filmnya KKD udah jadi signature-nya dia kalau bikin poster pun mesti sehancur filmnya, maka dari itu posternya nga ada yang masuk daftar poster terbaik gw tahun ini, maaf KKD. So, gw masih berharap KKD bikin film zombie tapi lebih berharap lagi tahun depan nga ada lagi film-film doi, atau justru lebih parah…  “Dedemit Gunung Kidul” dengan ini gw nyatain film terburusuk (buruk dan busuk) tahun ini. *cek tekanan darah*

Rating 5 Kancut

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Wailing...
Review - Don't Breat...
Review - Train to Bu...
Review - Lukisan Ber...