Review – Bone Tomahawk

written by Rangga Adithia on February 25, 2016 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Gw nga akan heran kalau pada akhirnya Craig Zahler memilih bikin pilem macam Bone Tomahawk sebagai debut penyutradaraanya—setelah sebelumnya pernah menuliskan skrip untuk Asylum Blackout (The Incident), film horor asal Perancis garapan Alexandre Courtes yang meramaikan INAFFF di tahun 2011 silam—bisa dikatakan pilem yang dibintangi Kurt Russell dengan kumis badass-nya tersebut memang mewakili kecintaan Craig terhadap dunia western dan horor. Craig yang lebih dikenal sebagai penulis novel memang dekat dengan yang namanya koboi-koboi-an, salah-satu novel hasil karangannya, A Congregation of Jackals berkisah tentang geng perampok bank berlatar belakang di jaman koboi. Sedangkan untuk horor, Craig mengaku penggemar berat pilem-pilem horor sejak umur 13 tahun, dari karyanya Dario Argento dan George A. Romero sampai Sam Raimi, Night of the Living Dead adalah salah-satu pilem horor favoritnya. Kecintaan akan pilem horor dan kedekatannya dengan tema western, nga hanya bikin Craig ngerti ama materi pilem yang bakal dia sutradarain, tapi juga kayaknya bikin dia tahu harus ngapain ama Bone Tomahawk, hasilnya sebuah debut yang amat mengejutkan.

Bone Tomahawk bakal ngajak kita ke tahun 1890-an, lebih tepatnya ke kota kecil bernama Bright Hope yang damai. Dijaga ama Sheriff Franklin Hunt yang badass dan keliatannya nga pernah takut ama apapun, kecuali mungkin istrinya. Maling atau rampok kayaknya bakal mikir dua kali buat cari ribut di kota tersebut, siapa juga yang mau kena kibas kumisnya si Sheriff yang lebih mematikan dari peluru. Well, semua berubah kala suku Troglodyte mampir ke kota buat bikin keonaran, selain ninggalin mayat, mereka juga nyulik tiga orang: penghuni penjara, istrinya Patrick Wilson, ama anak buah Sheriff Hunt. Tahu istrinya diculik, Patrick tentu nga tinggal diam, walau kakinya terluka dan jalannya pincang, dia ngotot ikutan nyari istrinya dan orang-orang yang diculik. Maka berangkatlah Sheriff Hunt dan rombongan ke tempat bernama “Valley of the Starving Men” (nama yang keren), buat nyamperin suku Troglodyte yang katanya kanibal alias makan daging orang. Damn! Gw nga bakal nyangka klo cerita Bone Tomahawk segokil ini, klo biasanya film koboi lawannya suku indian, kali ini Kurt Russell harus ngelawan kanibal.

Lupakan sejenak aksi tembak-menembak ala film koboi yang emang minimalis di Bone Tomahawk, atau kebrutalannya pas ngeliatin adegan-adegan kematian, gw pikir Craig Zahler harus disalutin karena skrip yang udah ditulisnya. Selain Craig nyumpelin ide yang sangat ngehe buat gantiin suku indian ama suku Troglodyte, penghuni gua yang bentukannya mirip personil band Motograter yang kena gigit mahkluk di The Descent dan bertingkah brutal kaya orang-orang mutan dari The Hills Have Eyes. Craig juga membuat skrip untuk pilem berdurasi 130 menit lebih tapi terasa tidak membosankan. Gw setuju sama kalimat slow isn’t always boring, karena Bone Tomahawk menunjukkan klo pilem yang bergerak pelan-pelan juga bisa terlihat menarik, (jika) ditangani dengan benar. Craig engga menyia-nyiakan skrip yang ditulisnya, pondasinya yang sejak awal emang sudah kuat, kemudian mempermudah Craig untuk mengesekusi setiap halaman cerita. Walau pace-nya merangkak, Bone Tomahawk perlahan-lahan mampu mencengkram hebat, makin jauh perjalanan Sheriff Hunt, semakin menarik juga apa yang Craig coba tawarin di pilemnya. Kita emang dituntut buat sedikit bersabar, tapi semua sepadan.

Bone Tomahawk nga akan langsung jedar-jedor, Craig memilih untuk ngasih kita banyak waktu untuk ngenalin kota kecil Bright Hope beserta penghuni di dalam, termasuk empat karakter utama yang nantinya ngemban misi untuk nyari orang-orang yang diculik suku Troglodyte. Dari yang awalnya asing ama Sheriff Hunt, Arthur O’Dwyer, John Brooder dan Chicory, sampai kemudian gw ngerasa punya hubungan unik dengan mereka. Craig men-treatment karakternya dengan begitu baik, nga hanya ngebuat masing-masing karakternya menarik, tapi juga nantinya masangin chemistry yang klop antara Sheriff Hunt dan yang lain, khususnya Hunt dengan deputy-nya yang suka bercanda tapi juga paling bijak, Chicory. Daya pikat Bone Tomahawk salah-satunya datang dari karakter-karakternya itu, udah begitu didukung pula ama performa akting yang luar biasa. Kurt Russell ama kumisnya tampil memukau, Richard Jenkins sangat menyita perhatian, Patrick Wilson dan Matthew Fox total dalam meranin Arthur dan John Brooder yang songong. Craig membuat perjalanan berhari-hari jadi tidak terasa dan tidak membosankan.

Bone Tomahawk emang penuh kejutan, siapa sangka, setelah Craig membungkus bagian western-nya dengan begitu apik, sutradara yang juga tergabung ama band black metal “Charnel Valley” ini kemudian menyodokkan horor yang ekstrim. Ya, gw nga menyangka Bone Tomahawk akan nampilin adegan-adegan gore berlevel terkutuk. Gw kayak diajak balik nonton Cannibal Holocaust, gw tahu bakalan ada adegan sadis tapi ternyata ekspektasi gw kaya dibacok ama Craig terus dimakan. Kesadisannya bikin pilem kayak The Green Inferno nga ada apa-apanya, malahan pilemnya Eli Roth itu lebih mirip kartun di Disney Channel. “Valley of the Starving Men” menyimpan mimpi buruk, sesuai dengan namanya yang mengerikan, orang Troglodyte kayak udah dipersiapkan buat bikin perut elo bergejolak nga bakalan kuat nahan kesadisan yang disodorkan. Sampe gw nulis review ini, gw masih aja ngerasain ngilu, efek dipertontonkan adegan kematian “menggemaskan” ciptaan si Craig, yang nga cuma jago nulis skrip tapi juga jahanam ketika ngurusin bagian horornya yang bikin penonton mau muntah. Bone Tomahawk adalah salah-satu pilem horor ter-anjing yang pernah gw tonton, unik sekaligus juga sakit.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Ghost Diary...
Review - Indonesia K...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Lukisan Ber...