Review: Night of the Living Dead (1968)

written by Rangga Adithia on August 5, 2011 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror and Independent Film with 3 comments

Review Night of the Living Dead (1968)

Kawanan zombie memakan daging manusia dalam kemasan visual hitam putih, itu sangat seksi, mungkin jika George A. Romero tidak membuat film ini seperti apa yang saya lihat sekarang, hitam putih, pandangan klasik atas “Night of the Living Dead” (NOTLD) bisa saja berkurang. Padahal keputusan membuat film ini dalam hitam putih sebetulnya bukan karena disengaja tapi semata-mata karena kekurangan dana, namun justru visual NOTLD tersebutlah yang menjadikan film panjang pertama Romero ini lebih diingat, lebih punya ciri khas unik ketimbang film-film zombie lain, apalagi NOTLD bisa dibilang root dari film-film Romero selanjutnya, khususnya yang bertema zombie. Bukan saja visual hitam putih itu yang sebenarnya membuat film ini klasik dan bisa dibilang film terbaik Romero, tapi keseluruhan cerita, termasuk sisipan moral dan “ledekan” tersembunyi, yang nanti akan selalu ada di film zombie-nya opa yang tahun ini berusia 71 tahun.

NOTLD, seperti juga film-film Romero kelak, dibuka dengan sebuah pertanyaan pintar-pintar bodoh, darimana datangnya cinta… ampun deh! Maksud saya virus? Romero yang membuat film ini karena bosan dengan pekerjaannya membuat iklan televisi pun, seperti tidak peduli dengan pertanyaan tersebut. Lihat saja ketimbang memikirkan asal muasal si virus, Romero lebih memilih mengumpulkan orang-orang kampung dan membuat mereka menjadi mayat hidup berjalan. Urusan virusnya datang darimana, itu nanti dijelaskan tapi memang rada konyol dan saya tidak peduli. Di NOTLD ini juga Romero mewariskan apa yang kita kenal dengan zombie berjalan, yah Romero mungkin saja sudah punya pikiran untuk membuat mereka berlari-lari seperti sekarang, tapi biarkan anak-anak muda seperti Snyder yang melakukan itu, Romero lebih asyik dengan zombie berjalannya.

Membuatnya hitam-putih dengan gerombolan zombie nyantai, tidak serta merta membuat NOTLD menjadi “impoten” dalam urusan menakuti, dari awal pun ketika Barbra (Judith O’Dea) dan Johnny (Russell Streiner) baru sampai di pemakaman untuk mengunjungi makam sang ayah, kemudian dikejutkan oleh seorang pria pucat sempoyongan yang pada akhirnya membunuh Johnny. Romero sudah memberikan ketegangan yang pas, dari situ saya sendiri tidak menyangka zombie berjalan bisa begitu “menggemaskan”, walaupun dengan tata rias ala kadarnya, jika dibandingkan film kekinian, mungkin karena visual hitam putih-nya juga turut membantu meningkatkan efek spooky ke dalam NOTLD. Film tahun 1968 ini lalu dilanjutkan dengan Barbra yang lari tunggang-langgang menjauh dari kejaran si pria tua pucat, sampai akhirnya ia sampai di sebuah rumah yang tidak terlihat satupun penghuninya, kecuali mayat di ruangan atas. Dilanda ketakutan yang kronis dan melihat zombie-zombie mulai berdatangan, ia malah memutuskan keluar dari rumah, disaat itulah Barbra kedatangan Ben (Duane Jones) dengan mobil truk pickup-nya.

Review Night of the Living Dead (1968)

Dikepung oleh pasukan zombie, hanya berdua di dalam rumah, Romero kemudian mulai bermain-main dengan horor-psikologis, berinteraksi dengan penonton melalui dua orang survivor, Ben dan Barbra (selintas Duane Jones saya pikir Ken Foree), menyampaikan sebuah kengerian—bagaimana jika kita (penonton) berada di situasi yang sama. Walau terkadang terlihat kaku, dua pemain ini mampu membuat kondisi mereka semakin nyata dengan akting yang mumpuni, apalagi Judith O’Dea yang bermain sebagai Barbra, lihat saja mimik wajahnya yang ketakutan namun kosong, benar-benar sanggup memberitahu bahwa dia dalam keadaan tertekan, depresi, sekaligus sangat ketakutan, bisa dibilang juga hampir gila. Sedangkan Duane Jones terlihat sebaliknya, dia tipe orang yang tidak mau menyerah begitu saja, sibuk bertahan hidup dengan membuat barikade di sekitar rumah, dan berharap bantuan segera akan datang… zombie semakin banyak.

Lucunya setelah selang beberapa lama mengira mereka hanya berdua, tiba-tiba sekarang muncul beberapa survivor lagi, yang dari awal ternyata bersembunyi di ruang bawah tanah rumah tersebut. Romero dengan keterbatasan dana yang dia miliki pun cerdik, jika dia tidak bisa banyak-banyak bermain bersama zombie, kenapa dia tidak memanfaatkan sekelompok manusia yang sedang mencoba bertahan hidup saja. Perang psikologis pun kembali dimainkan, Romero memperlihatkan bagaimana manusia sangat berubah ketika mereka sudah berada di ujung tanduk, saat ego lebih menonjol ketimbang akal sehat dan kemanusiaan. Karakter-karakter disini mampu dihidupkan dengan baik oleh Romero, yah walau sekali lagi ada beberapa bagian yang terkesan kaku, tapi tidak mengganggu.

Film yang ditulis oleh Romero sendiri bersama sahabat karibnya John A. Russo ini tentu saja tidak melupakan zombie-zombie imut yang dikumpulkan di luar rumah. Kemasan yang hitam putih telah menjadikan zombie-zombie ini kian menyeramkan saja, menutupi balutan make-up yang sederhana, termasuk efek darah yang terbuat dari sirup cokelat dan isi perut yang disumbangkan dari sebuah toko daging, yang pemiliknya bermain juga di film ini. Dengan kesederhanaan dari berbagai elemen, dari akting hingga efek zombie, kemasannya yang sangat berbau independen tersebut tidak membuat NOTLD menjadi karya yang terlihat asal-asalan, Romero justru membuatnya “berkelas” sebagai sebuah film zombie. Gayanya yang unik, membuat saya betah tanpa rasa bosan, mengikuti alur ceritanya yang memang lambat, dan menyaksikan nasib masing-masing karakter di akhir cerita. “Night of the Living Dead” yang kelak di-remake hingga dua kali, salah satunya disutradarai oleh Tom Savini ini, jelas merupakan masterpiece dari Romero, yang akan kita kenal sebagai ‘The Father of Zombie Films”. [Spoiler] Momen terbaik: di saat Karen berubah menjadi zombie dan membunuh ibunya…

Rating 4 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Some Kind o...
Review - Ada Apa Den...
Tujuh Film Horor Fav...