Review – Don’t Breathe (2016)

written by Rangga Adithia on September 2, 2016 in American Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Sedikit tahu tentang Don’t Breathe maka akan lebih baik, jadi beruntung orang-orang yang datang ke bioskop bermodal pengetahuan minim dari hanya melihat poster, lalu berekspektasi menonton film rumah berhantu. Tidak bisa bayangkan bagaimana raut wajah mereka ketika menyadari ternyata Fede Alvarez membuat film horor tanpa penampakan, sebagai gantinya ada Stephen Lang yang tak kalah menyeramkan dari dedemit penunggu kabin tua di tengah hutan. Well, hanya ada dua kemungkinan: mereka terkejut dengan muka penuh senyum atau sebaliknya manyun karena merasa sudah kena tipu oleh poster. Sedangkan saya sendiri ada di posisi orang yang tanpa sengaja ter-spoiler-kan, agak kesal tetapi saya percaya Fede mengarahkan Don’t Breathe tak sekedar untuk memanjakan penonton yang mementingkan sebuah twist. Karena pada akhirnya, apa yang menjadikan Don’t Breathe berhasil sebagai film horor yang ngehe, bukan saja bersumber dari twist yang bikin hidung saya mimisan, tapi juga dari cara Fede menyiapkan permainan “kucing-kucingan” yang menyesakan selama 90 menit.

Ingin merasakan sensasi tercekik hingga kesulitan bernafas tapi tetap tersenyum lebar bahagia, maka Don’t Breathe memberikan pengalaman “istimewa” tersebut begitu kita sampai di rumah daredevil tua bangka berkedok veteran perang. Fede memperkenalkan kita dengan trio kwek-kwek yang kerjanya ngerampok rumah demi membeli impian pindah ke tempat yang lebih baik, yaitu California. Namun sayangnya kali ini rumah yang diincar Rocky (Jane Levy), Alex (Dylan Minnette), dan Money (Daniel Zovatto) ternyata dihuni si buta dari gua hantu yang tak akan membiarkan para perampok keluar hidup-hidup. Maka terjadilah aksi “Tom dan Jerry” antara si empunya rumah yang pernah ngebantai penduduk asli Pandora versus cewek yang pernah kerasukan Kandarian Demon. Fede si raja tega benar-benar terampil memanfaatkan desain rumah yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki beberapa kamar ini untuk jadi arena bermainnya. Seluruh ruang, mulai dari pojokan kamar mandi hingga basement pengap bau kotoran tikus yang nanti menjadi saksi kebangsatan Fede dalam menciptakan mimpi buruk, terutama bagi Rocky dan kawan-kawannya yang bernasib malang.

Don’t Breathe memang keji, memberi saya sedikit waktu untuk menghirup nafas, sebelum Fede kemudian mempertontonkan atraksi brengsek “bagaimana survive dari rumah Stephen Lang, tanpa kena pukul, bacokan, atau ditembak.” Tentu saja penonton dibiarkan untuk menumpuk rasa cemas sekaligus penasaran, apa nanti Jane Levy bisa selamat dari kemurkaan Norman Nordstrom alias The Blind Man, atau justru malah tertangkap. Sambil terus dibuat bertanya-tanya, Fede siapkan juga banyak aksi “petak umpet” yang begitu efektif dalam tujuannya membangun ketegangan bercampur dengan ketakutan. Oh, siapa bilang sumber rasa takut itu hanya berasal dari penampakan hantu yang kena tumpahan tepung, horor dapat datang dari bentuk dan situasi yang bermacam-macam, entah itu dikejar zombie yang melempari kotoran seperti yang diperlihatkan Zombie Ass: The Toilet of the Dead, atau bertemu dengan pemilik rumah yang mengerikan kaya Stephen Lang, yang mampu mengubah hari indah jadi mimpi buruk, dua hal yang berbeda tapi sama-sama memproduksi rasa takut.

Don’t Breathe bukanlah Evil Dead, walau Fede Alvarez tidak lagi butuh bergalon darah dan banyak efek praktikal untuk ciptakan adegan ultra-gore, “anak asuh” Sam Raimi ini tetap dapat bersenang-senang dengan konsep kebrutalan barunya yang dirancang bersama Rodo Sayagues. Bangunan ketegangan dan ketakutan di Don’t Breathe mampu menghasilkan dampak yang maksimal ke penontonnya tak saja karena Fede mengerti bagaimana menyusun adegan demi adegannya, tetapi juga berkat permainan editing yang ketat dan penempatan tata suara yang tepat. Tak terkesan terburu-buru, susunan ketegangan yang dikreasikan Fede perlahan tapi pasti akan mulai mengganggu aliran oksigen menuju ke otak, berujung pada kesulitan bernafas, memicu jantung untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. Sensasi tercekik yang sungguh nikmat, dorongan adrenalin yang menyenangkan, dan rasa berdebar-debar yang mengasyikkan. Fede Alvarez sekali lagi membuat saya bahagia sebagai penyuka horor, dan Don’t Breathe adalah horor teranjing yang saya tonton tahun ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Cipali KM 1...
Review - The Wailing...
Review - Warkop DKI ...
Review - The Girl wi...