Review: Evil Dead (2013)

written by Rangga Adithia on May 6, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 11 comments

Don’t f*ck with the original! itu kata Sidney Prescott di “Scream 4”, sebuah aturan yang biasanya diacuhkan para pembuat remake. Banyak remake, khususnya film horor, yang kemudian jadi gagal karena terlalu maksa untuk lebih bagus dari film original-nya. Cobalah tengok “Friday The 13th” dan “A Nightmare on Elm Street”, yang justru menjatuhkan harga diri Jason Voorhees dan Freddy Krueger sebagai icon film horor, image-nya tercoreng karena filmnya jelek. Well, tidak semua film remake itu hina, ada yang bagus: “Dawn of The Dead”, “The Hills Have Eyes” dan “Piranha 3D” besutan Alexandre Aja itu misalnya. Judul-judul tersebut, walaupun ingin terlihat modern dengan dukungan teknologi terkini, CGI, namun tidak lupa untuk tetap memberikan respek pada film original-nya. Nah, beruntung si Fede Alvarez tidak takabur dan kemudian jadi golongan sutradara murtad. Berkiblat pada aturan bagaimana sebuah film remake dibuat, debutnya “Evil Dead” sukses memuaskan saya yang memang mencintai trilogi “Evil Dead”-nya Sam Raimi itu, khususnya film pertama. Bermodalkan pengalaman membuat film-film pendek, termasuk yang paling hits “Ataque de Panico!” (Panic Attack!), Alvarez terbilang memikul beban cukup berat, me-remake salah-satu horor klasik terbaik, tapi jika seorang Raimi saja percaya pada visi Alvarez, dengan terlibat duduk di bangku produser bersama Rob Tapert (produser di trilogi aslinya) dan Bruce Campbell (yang nga kenal orang paling badass ini sih kebangetan), saya hanya bisa nunduk dan menunggu hasilnya seperti apa tanpa banyak omong.

Nurut pada aturan tidak nge-f*ck film aslinya, bukan berarti Alvarez jadi seperti orang terpasung. Justru idenya dibiarkan bebas mengayun-ngayun, hasilnya bisa dilihat dari betapa menyenangkan “Evil Dead” versinya, yang dia tuliskan bareng Rodo Sayagues. Batasan tetap ada, tetap ada “jembatan rusak” agar Alvarez tidak keluar jalur kemana-kemana, akhirnya dibiarkan terperangkap, asyik berlarian setengah sinting sambil menyiram tempat syuting dengan bergalon-galon darah. Jadi sinting memang diperlukan Alvarez, dan kesintingannya membuahkan hasil, remake “Evil Dead” sesuai dengan ekspektasi saya ketika melihat trailer-nya. Ini memang bukan remake yang se-bangsat film aslinya, tapi menurut saya Alvarez sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan nilai cukup baik. Murni untuk membuat sebuah remake yang masih menghormati film asli, tanpa teracuni yang namanya obsesi salah kaprah, yang justru malah “memperkosa” film asli. Nonton “Evil Dead” sih saya bilang hanya perlu siap mental menerima segala kegilaannya dalam mengobral habis-habisan kesadisan. Tidak perlu segitu serius menanggapi ceritanya yang memang hanya jadi sebuah pendamping aksi-aksi memotong dan mengiris-ngiris yang brutal bukan main. Sebenarnya, belum pernah menonton film aslinya, bukan berarti tidak bisa menikmati versi remake ini, nikmati sajalah apa yang disumpalkan Alvarez, mereka yang suka film berdarah-darah ya tinggal menghabiskan hidangan berdarahnya, sajian gore beraneka rasa, lezat pula.

David, Eric, Mia, Olivia dan Natalie (coba perhatikan nama mereka, jika diambil huruf depannya saja, akan merangkai kata DEMON) merencanakan liburan, well tepatnya sih liburan terselubung, dalam rangka “menyembuhkan” Mia, yang juga adik David, dari ketergantungan narkoba. Niat baik sekaligus ajang reuni sesama sahabat ini dari awal memang sudah agak chaos, apalagi Mia yang mulai “sakau” dan memperlihatkan tanda-tanda tidak betah dan maunya cepat pulang, namun teman-temannya tahu ini hanya siasat Mia untuk “make” lagi. Semua diperburuk ketika David dan kawan-kawan menemukan ruang bawah tanah kabin dipenuhi hal-hal yang ganjil, dari bangkai kucing bergelantungan sampai buku aneh yang dibungkus plastik. Bodohnya, salah-satu dari mereka membaca mantra terlarang yang tersembunyi dalam buku berjuluk “Naturom Demonto” (Book of the Dead) tersebut… dan mengundang masuk dedemit-dedemit jahat ke alam manusia. Yah harus ada orang bodoh yang sok penasaran untuk memicu kekacauan, dan orang bodoh seperti ini memang diperlukan di film horor, bergandengan dengan segala macam bentuk ke-klise-an yang hukumnya wajib ada. “Evil Dead” pun memiliki daftar klise yang panjang, tapi tentu saja saya tidak peduli, karena toh si Alvarez sadar klise itu kadang jadi terlihat awesome jika dibuat dengan benar, dan diakui Alvarez memang mengemasnya dengan benar, yang terpenting dia membuatnya dengan enjoy, hal tersebut membuat “Evil Dead” juga jadi menyenangkan.

Menyenangkan memang kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang disuguhkan “Evil Dead”, selain nantinya disusul dengan kata bangsat, anj*ng dan sederet sumpah-serapah. Bukan berarti “Evil Dead” film jelek, sumpah-serapah di film horor itu buat saya bagaikan penonton yang meludah ke arah panggung di konser-konser musik punk, yang berarti penghormatan. Respon jujur mewakili rasa suka setelah dikageti, ditakuti atau sekedar dibuat puas melihat orang yang kerasukan setan Candarian—apapun namanya disini, kemudian menjilati pisau cutter layaknya lolipop, menggiurkan. Sekali lagi apa yang membuat “Evil Dead” jadi anak soleh, karena Alvarez mengemasnya sebagai sebuah tribut, walaupun tidak sepenuhnya, tapi jelas memberikan rasa hormat kepada film aslinya. Bagi yang sudah menonton film asli, melihat sekecil apapun pernak-pernik dari film yang dibintangi Bruce Campbell tersebut pastilah jadi momen girang tersendiri, termasuk yang paling kelihatan shotgun dan gergaji mesin. Tidak hanya itu, yang membuat saya makin respek dengan Alvarez adalah penggunaan practical effects ketimbang tergiur untuk memakai polesan CGI seperti film-film horor sekarang. Kesan “Evil Dead” sebagai film horor oldskul pun makin terasa, diantara nuansa modern yang membungkus selama 90-an menit durasinya. “Evil Dead” remake memang tidak sekonyol film asli, tapi untuk film yang punya trailer jahanam, yah saya memang tidak berharap untuk jadi selucu film 1981-nya. Walau ada kalanya saya tertawa melihat tubuh dipotong-potong seenaknya. Ada drama yang sedikit menyek-menyek, chemistry hambar antara kakak-beradik, akting biasa pemain-pemainnya, akan terlihat sebagai kekurangan yang minor saja, karena toh pada akhirnya “Evil Dead” telah menutupi nilai minusnya dengan niat baik, membuat film remake yang nga nyolot sama film original. Membuat saya senang (kembali) duduk di bioskop dan diguyur darah serta adegan-adegan gore-nya yang sedap. Selamat menikmati!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Bone Tomaha...
Review - Juara (2016...
Review - Munafik (20...