Review – Wewe (2015)

written by Rangga Adithia on April 16, 2015 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 7 comments

Mereka yang berharap Rizal Mantovani bakal balik membuat film horor seseram “Jelangkung” (2001) atau “Kuntilanak” (2006), tampaknya sudah saatnya harus menerima kenyataan bahwa Rizal memang sudah kehilangan sentuhan horornya sejak dia mulai asyik membuat film horor bermodal obral kutang. “Jenglot Pantai Selatan” (2011), “Taring” (2010) dan “Air Terjun Pengantin” (2009) barangkali sudah membuat seorang Rizal lupa bagaimana caranya menakuti-nakuti. Walau tak menerapkan template penampakan seribu kali per adegan ala film-film horor gadungan dan terbelakang yang najis untuk saya sebut judulnya disini, formula menakuti yang dimiliki Rizal harus diakui tak semempan dulu. Meskipun kurang diesekusi dengan baik, “Kesurupan” (2008) dan “Mati Suri” (2009) bisa dikatakan lebih greget dalam menghadirkan rasa takut ketimbang horor seksi-seksian yang belakangan digarap Rizal. Ah, saya terlalu serius, toh wajar apabila Jenglot serta kawan-kawannya itu sama sekali tidak menyeramkan, karena fokusnya hanyalah membuat “tegang” bukan tegang—ngerti kan maksud saya. Tetapi bukan berarti film horor berkonten seksi-seksian tidak bisa bagus, semuanya balik lagi pada bagaimana penggarapannya. Mau itu film horor reliji penuh muatan ajaran moral dan kebaikan pun kalau buatnya asal-asalan…yah hasilnya tetap jelek.

“Wewe” punya potensi untuk menjadi comeback-nya Rizal, tapi sayangnya ketika credit title menggulung tanda film usai, saya hanya bisa menghitung tiga adegan yang betul-betul bisa disebut menyeramkan. Sisanya? Kumpulan jump scare basi yang daya kejutnya begitu lemah, walaupun sudah digenjot scoring jrang-jreng-jring di setiap adegan yang disiapkan untuk menakuti dan mengagetkan. Tanpa dukungan penceritaan yang betul-betul solid, sudah tampak terlihat sejak paruh pertama film, satu-satunya alasan yang membuat saya tetap “betah” dan enggan pergi meninggalkan kursi saya, hanya keinginan untuk memberikan waktu untuk Rizal supaya bisa menakut-nakuti saya. Bisa dibilang saya sudah pasrah tak lagi peduli dengan cerita dan berbalik menantang “Wewe” untuk menaklukkan nyali saya yang memang gampang ciut oleh film horor—mudah takut karena penakut. Tapi tantangan saya tidak digubris oleh “Wewe”, ketimbang susah-susah bangun atmosfir yang (sebenarnya) sangat dibutuhkan oleh film ini, entah kenapa Rizal malah menyuapi saya berulang kali dengan adegan ranjang tua terbuat dari kayu, yang berukiran seorang wanita sedang celangap. Saya tahu ada sesuatu dengan ranjang tersebut, tetapi apakah sebegitu perlunya kita terus diingatkan “ada yang aneh dengan ranjang ini” sampai berkali-kali.

Amatlah mubajir sekian banyak durasi hanya dihabiskan untuk sebuah ranjang, toh rumah baru Jarot (Agus Kuncoro) dan keluarga yang segede gaban itu perlu untuk diperkenalkan. Alih-alih dibuat takut oleh atmosfir rumah Nabilah JKT48, “Wewe” malahan sibuk sendiri dan buang-buang waktu menjejalkan penonton dengan drama pertengkaran suami-istri yang tiada habisnya. Walaupun bagian Jarot vs. Irma (Inong Nidya Ayu) itu memang diperlukan film ini sebagai sebuah alasan kenapa pada akhirnya si wewe gombel menampakkan dirinya. Hanya saja porsinya terlalu melebar dan “Wewe” tidak punya banyak waktu untuk bangun atmosfir yang layak. Well, untuk menutupi atmosfirnya yang kurang terasa, film sudah menyiapkan scoring jrang-jreng-jring yang akan menemani saya melewati serangkaian penampakan wewe gombel yang doyan celangap itu. Untuk urusan musik, Andi Rianto sudah melakukan pekerjaannya dengan baik dalam mengisi kekosongan atmosfir di “Wewe”, begitu juga Khikmawan Santosa yang bertugas mengolah dan menata suara beserta bebunyian lainnya di film produksi rapi film ini. Sayangnya scoring dan tata suara yang baik tidaklah cukup, film horor tetap butuh adegan seram yang layak untuk kita nikmati.

Untuk film horor bertema creature atau mahkluk jejadian, saya harus menilai fair dan mengakui kalau Rizal memang tak pernah main-main untuk urusan desain-mendesain keseluruhan artistik dalam filmnya. Begitupula di “Wewe”, sejak awal desain untuk si wewe gombel sendiri sudah menyita perhatian saya, menjanjikan sebuah teror yang menakutkan, walaupun konsepnya terpengaruh “Mama” tapi dengan citarasa lokal. Makanya saya sungguh menyayangkan ketika desain yang sudah keren tersebut tidak dimaksimalkan, desain dan konsep lagi-lagi haruslah mengalah pada esekusi yang begitu lemah dan serba instant—di beberapa scene malah tampak murahan. Rentetan jump scare yang sudah disiapkan tak berhasil menciptakan ketakutan yang saya damba-dambakan dari si wewe gombel, walau rahangnya sudah lelah celangap hampir di tiap adegan dia menampakkan wujud. Dengan setting rumah yang sudah begitu mendukung, amat disayangkan “Wewe” tak bisa memanfaatkannya untuk menciptakan rasa cekam dan rasa ngeri. Untuk urusan akting, saya pikir semua bermain aman sesuai dengan porsinya masing-masing termasuk juga Nabilah JKT48 yang di beberapa adegan memang terlihat kaku dan kurang meyakinkan dalam merespon rasa takut. Saya justru kemudian dibuat takjub oleh Khadijah Banderas, berkat perannya sebagai Aruna ini setidaknya saya bisa melupakan sejenak kekurangan “Wewe”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Warkop DKI ...
Review - Lukisan Ber...
Review - Telaga Angk...