Review: Mati Suri (2009)

written by Rangga Adithia on August 18, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with no comments

Review Mati Suri

Hari yang dinanti-nanti sudah di depan mata, semua sudah siap, termasuk undangan yang akan disebar dan baju pengantin, Abel (Nadine Chandrawinata) tentu saja bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Wisnu (Yama Carlos). Namun seorang perempuan hamil yang mengaku mengenal calon suaminya itu, tiba-tiba datang mengetuk pintu dan menghancurkan segala impian Abel. Sangat terpukul mengetahui Wisnu menghianatinya dan sadar semua telah berakhir, pilihan yang ada di kepala Abel untuk mengobati rasa depresinya adalah meminum satu botol pil. Upaya bunuh diri Abel syukurnya gagal dan dia masih bisa diselamatkan, namun sejak saat itu hidupnya tidak akan sama lagi. Charlie (Keith Foo), sahabat Abel, membawanya ke sebuah vila milik keluarga, selain mencoba untuk memberikan tempat agar sahabatnya itu bisa menenangkan diri, alasan lain adalah menjauhi dia dari Wisnu. Supaya Abel punya kesibukan selama di vila, Charlie meminta dia untuk mendesain ulang interior rumah, yang banyak memiliki barang antik tersebut.

Kalau saya jadi Abel, mungkin saya lebih memilih untuk minta pulang saja. Tapi karena ini film horor, jadi si tokoh utama tidak punya pilihan lain selain terpaksa menginap, agar filmnya pun bisa berlanjut. Charlie juga agak pintar-pintar bodoh, meninggalkan sahabat yang notabene pernah mencoba untuk bunuh diri sendirian di vilanya, tidak sendirian sih tapi ditemani oleh pasangan suami istri penjaga vila, Bapak dan Ibu Kus. Tapi mereka pun tidak seharian ada di vila, sebelum malam mereka harus sudah pulang ke rumahnya. Maka sendirianlah Abel di vila besar yang menyeramkan itu, beruntung tiba-tiba seorang gadis yang mengaku anak penjaga vila mau berbaik hati menemani Abel. Keberuntungan Abel ternyata tidak bertahan lama, karena tidak lama kemudian dia mulai diganggu oleh sesuatu yang tidak masuk di akal, diiringi bisikan-bisikan yang berulang kali sampai ke telinga Abel, “mati tidak cukup sekali”.

“Mati Suri”, walau tidak memenuhi ekspektasi saya sebagai sebuah film horor seram tapi setidaknya film ini masih dibuat dalam koridor “bener”, dalam artian memang niatnya ya ingin menakut-nakuti gitu. Karena setelah ini bisa dibilang Rizal Mantovani “terpeleset” dan asyik menghasilkan karya-karya horor-seksi; “Air Terjun Pengantin”, “Taring”, dan terakhir ada “Jenglot Pantai Selatan”, yang kesemuanya saya labeli kancut (buruk). Rizal yang kita kenal dengan “Jelangkung”, salah-satu film horor terbaik/terseram sampai saat ini, jelas masih mengadaptasi formula “Kuntilanak”, film horor buatannya yang masih bisa dikatakan seram juga. Bedanya Julie Estelle di film itu bisa akting, sedangkan dalam “Mati Suri” Nadine Chandrawinata jelas tidak bisa berakting. Imbasnya langsung terasa ketika perannya yang seharusnya bisa memberikan tambahan aura “ngeri”, dalam setiap adegan yang disiapkan untuk horor, sebaliknya pada saat Rizal sudah susah payah dalam membangun atmosfir horor dan membentuk mood yang tepat, akting buruk Nadine pada saat itu juga langsung menghancurkan semuanya. Aktingnya lebih horor ketimbang film yang sedang saya tonton, diperparah lagi dengan deretan pemain lainnya.

Review Mati Suri

Keith Foo yang punya porsi lebih besar daripada pemain lain seperti Yama Carlos, atau Tyas Mirasih, sama-sama berbagi akting buruk dengan Nadine. Sebagai seorang sahabat yang normal, aktingnya masih bisa diampuni tapi ketika perannya mengharuskan dirinya untuk bertransformasi menjadi seorang psikopat. Jadi saya bukannya diberi ujian mental dalam bentuk penampakan-penampakan khas Rizal, tapi justru disodorkan aksi Nadine versus Foo dalam soal siapa yang paling buruk dalam berakting, sebuah ujian yang berat. Baiklah sekarang saya singkirkan persaingan antara Nadine dan Foo, keduanya berhak mendapat lima kancut dari saya. Bagaimana dengan horornya sendiri? Well bisa dibilang mengecewakan dan kengerian yang saya tunggu-tunggu ternyata muncul pada sekitar 15 menit akhir film, jika tidak salah ingat. Menggabungkan horor hantu-hantuan dan thriller psikopat, “Mati Suri” seakan kebingungan dalam mencari jalan yang tepat, membaurkan keduanya ke dalam satu jalinan kisah yang nyaman untuk diikuti. Hasilnya dengan akting yang buruk dari Foo, misteri tersebut sebetulnya sudah mudah ditebak dari raut wajahnya sejak awal film ini memperkenalkan karakter tersebut.

Saya tidak akan memaklumi akting jelek Nadine, tapi jalan ceritanya yang mudah ditebak bisa saya tolerir, asalkan mampu ditutupi dengan horornya yang memuaskan. Walaupun porsi horor sudah didesain dengan lumayan baik, ditambah dengan setting rumah yang sebetulnya sudah cukup mendukung, namun penampakan dan hantu-hantuan yang nanti muncul terlihat berlebihan dan basi. Dengan jalan cerita yang membosankan, saya pun akhirnya hanya bisa manyun melihat hantu demi hantu yang muncul, seharusnya kreatif sedikit dengan menekan tombol percepat sampai ke 15 menit terakhir saja. Saya akui di “Mati Suri”, ada momen-momen yang seharusnya bisa menyeramkan, tapi sekali lagi si Nadine menggagalkan upaya menakuti penonton tersebut. Saya akui juga film ini punya hantu yang cukup keren, lumayan mengerikan, tapi saya dipaksa bersabar untuk terlebih dahulu melewati serangkaian akting buruk Nadine dan Foo, sampai akhirnya saya melihat kalau film ini punya sesuatu yang keren, yah si hantu di akhir film itu. Oh tunggu dulu, ternyata “Mati Suri” semakin bertambah minus ketika dengan sok-sok-an film ini ingin mencekoki kita dengan sebuah pesan moral. Bukan nilai moral yang didapat sendiri oleh penonton tapi dijejalkan bahwa “bunuh diri itu dosa”. Ketimbang mengurusi tetek bengek pesan moral kenapa tidak fokus saja untuk menakuti atau mengganti Nadine.

Rating 2 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Indonesia K...
Review - Don't Breat...
Review - Ratu Ilmu H...