Review: Sinister

written by Rangga Adithia on February 24, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 7 comments

Saya mungkin bisa melupakan begitu saja “The Day the Earth Stood Still”, tapi tidak dengan yang namanya “The Exorcism of Emily Rose”, salah-satu film horor bertema pengusiran setan yang cukup menyeramkan, dan punya adegan paling diingat yang cukup bisa dibilang disturbing. Dari orang yang sama, Scott Derrickson, lahirlah film yang hype-nya tinggi, film horor yang paling ditunggu-tunggu, termasuk ada dalam daftar film yang wajib ditonton ketika rilis di bioskop—mengulang apa yang sudah pernah dilakukan Insidious. Sayangnya, saya harus dipaksa menanti lama, berbulan-bulan sampai akhirnya ditayangkan juga di bioskop lokal untuk pemutaran midnight show. Waktu yang pas untuk menonton film horor yang kata orang-orang salah-satu yang menyeramkan tahun lalu. Well, buat yang mengira “Sinister” akan menjadi film horor ter-Insidious (apa hanya saya saja yang punya ekspektasi demikian), mungkin bisa merobek-robek bayangan akan sebuah sajian horor yang menyenangkan. Scott justru lebih memilih horor yang sepanjang film akan membuat penontonnya depresi berat, sambil sesekali berusaha untuk menakuti…benar-benar menakuti, Jadi saya sarankan untuk persiapkan nyali dan mental.

Sebenarnya apa yang nantinya akan diekspos Scott lewat “Sinister”-nya tidak akan lari terlalu jauh dari apa yang kita lihat ketika film baru saja dimulai, yup opening-nya yang mengganggu secara mental dan batin itu kurang lebih sebuah kesimpulan dari apa yang ingin film ini hadirkan selama 110 menit ke depan. Jika pembuka film yang menghadirkan gambar satu keluarga digantung di pohon itu sudah membuat perasaan tidak nyaman, tidak enak, gelisah dan apapun itu, maka itu belum ada apa-apanya, belum seberapa jika dibandingkan dengan tingkat ketidaknyamanan yang “Sinister” tawarkan di sisa durasinya, masih terlalu dini untuk menyerah, film baru saja akan mulai. Setelah tayangan tidak menyenangkan di awal sambil mengenalkan judulnya yang nyempil dipojokan kanan bawah, penonton kemudian diperkenankan untuk kenalan dengan Ellison Oswalt (Ethan Hawke) dan keluarganya yang sedang beres-beres rumah baru mereka. Pekerjaannya sebagai penulis novel cerita kriminal yang didasarkan kisah beneran, dan alasan untuk menyelesaikan buku barunya jadi alibi kuat untuk meyakinkan istri dan anak-anaknya pindah rumah. Kecuali Ellison sendiri, mereka tidak tahu jika rumah tersebut bekas TKP pembunuhan dimana satu keluarga tewas terbunuh, iya keluarga yang kita lihat digantung di awal film tadi.

So, semuanya baik-baik saja sampai akhirnya Ellison menemukan kotak yang berisi sebuah proyektor dan beberapa reel film 8 mm. Bukan…isi filmnya bukan mengenai kecelakaan kereta api yang membawa muatan alien, melainkan footage sungguhan kejadian pembunuhan beberapa keluarga, termasuk keluarga yang digantung. Well, footage-footage yang punya durasi tidak sampai 5 menit itulah “atraksi” paling gila di film ini, sebentar tapi begitu menampar mental dan bekasnya terbukti akan lama hilangnya. Sebetulnya apa yang disajikan footage-footage tersebut biasa saja, adegan sadis yang masih bisa dibilang bersahabat, tapi pengemasannya yang terlihat nyata dan ditambah tempelan scoring yang mencabik-cabik mental, belum lagi cara-cara pembunuhan yang menyayat-nyayat nurani, telah sukses menjadikan “Lawn Work ’86” dan teman-temannya suguhan yang sangat-sangat membuat tidak nyaman. Yah mungkin ini berlebihan, tapi jika saya menonton “Sinister” di rumah, ini adalah jenis film seperti “V/H/S”, apa itu? ambil remote control dan menekan tombol pause. Tapi karena saya sedang berada di bioskop, tidak mungkin saya teriak-teriak menyuruh proyeksionisnya untuk menghentikan film. Tidak nyaman, tentu saja dalam artian yang positif, memang akan jadi bagian dari “Sinister”, seperti yang saya singgung di awal paragraf, film ini berusaha keras untuk membuat penontonnya depresi selagi menonton. Bermacam cara dilakukan agar penonton merasakan langsung apa yang dirasakan oleh si tokoh utama, Ellison Oswalt, dan “Sinister” melakukannya dengan sangat baik, tapi tunggu dulu itu baru bagian yang membuat saya tidak nyaman.

Bagaimana usaha “Sinister” untuk menakuti saya? tidak ada yang baru, bisa dibilang menakuti-nakuti hanya “kerjaan sampingan” film ini, karena begitu fokus untuk yah tadi itu, membuat kenyamanan saya terusik. Namun saya akui Scott menyuguhkan kejutan, penampakan, dan segala tetek-bengek adegan yang membuat penontonnya takut dengan cara yang saya inginkan. Tidak berlebihan dan walaupun standart tapi masih mampu membuat saya beberapa kali mengeluarkan sumpah serapah, yang artinya memang ada beberapa adegan yang cukup ngehe disana. Sekali lagi scoring banyak sekali membantu adegan-adegan yang sudah disiapkan Scott untuk entah itu menakut-nakuti atau membuat saya ingin bunuh diri. Alunan musik yang minimalis, bebunyian yang seperti bisik-bisik di kuping, suara-suara teriakan tidak jelas, suara-suara mengerang kesakitan, sampai yang berisik secara tiba-tiba, jadi satu-kesatuan untuk memberikan penonton rasa tidak nyaman yang klimaks, perasaan ketakutan yang utuh dan mood dengan beraneka rasa, kebanyakan rasa pahit dan getir. Sayang ketika “Sinister” mampu memainkan semuanya dengan rapih, termasuk memainkan misteri dan teka-tekinya dengan cukup baik, alhasil membuat rasa penasaran saya tidak tiba-tiba saja drop, Scott terkesan terburu-buru untuk menyudahi semuanya. “Oh gitu doang”, kira-kira begitu respon kecewa saya ketika melihat sang Bogeyman alias Bughuul alias Mr. Boogie alias Mr. Black Metal (yang terakhir itu julukan dari saya), menyudahi teror-terornya. Buang kata menyenangkan jauh-jauh dari film ini, karena “Sinister” hanya bisa mengeja kata “depresi”, horor yang membuat saya tak nyaman sekaligus juga betah…disuguhi visual-visualnya yang disturbing.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - A Copy of M...
Review - Train to Bu...
Review - Under the S...