Review: The Dark Knight Rises

written by Rangga Adithia on July 23, 2012 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with 12 comments

“…I think you and I are destined to do this forever.”, sayangnya kalimat Joker tersebut hanya sebatas memori manis. Setelah kematian Heath Ledger yang memainkan sang badut gila dengan sangat sempurna, walaupun fans, termasuk saya menginginkan Joker kembali, akan sangat konyol untuk menampilkan musuh yang sama tanpa Heath Ledger dibalik polesan make-up badut dengan senyum khasnya itu. Tolol juga jika “The Dark Knight Rises” akhirnya memakai bantuan CGI untuk menghidupkan kembali Joker versi Ledger, seperti yang pernah diisukan (untungnya hanya rumor bodoh tidak penting). Well, sama seperti Joker dan kalimat-kalimat ajaibnya yang kemudian menjadi semacam memori manis, “The Dark Knight” pun jadi sedemikian manisnya nyangkut di hati saya, sebuah lanjutan kisah “ksatria” penyelamat Gotham yang dikemas sensasional oleh sutradara jenius bernama Christopher Nolan. Kita, mungkin tidak akan lagi melihat Joker “bermesraan” bersama Batman di film yang menurut Nolan adalah seri terakhirnya untuk Batman, tapi setelah usaha pedekatan Nolan dalam “Batman Begins”-nya yang sukses membuat saya jatuh cinta kembali dengan Batman, kemudian “The Dark Knight” yang membuat saya mempunyai rasa memiliki seorang superhero, sepertinya Nolan sudah membuat saya terikat. Dalam “The Dark Knight” saya diajari betapa sakitnya jatuh dan kehilangan seseorang yang dicintai, tanpa adanya Joker, sulit tapi saya harus move on dan hubungan mesra saya dan Batman akan ditentukan ending-nya di “The Dark Knight Rises”.

Ujian terbesar tidak saja bagi Nolan tapi juga penontonnya, apakah akan menerima begitu saja jika “The Dark Knight Rises” adalah perjalanan terakhir mereka bersama Batman? Bagi Nolan pertanyaannya sederhana, bagaimana dia bisa melampaui “The Dark Knight” yang terlihat sangat superior itu? yang diagung-agungkan selama ini, apalagi dengan kehadiran seorang Joker disana. Untuk sekarang, setelah penantian panjang, setelah akhirnya saya bisa menyaksikkan kembalinya si manusia kelelawar di layar lebar, pertanyaan pertama mudah dijawab: saya akan menjawab tidak bisa menerima jika Nolan harus mengakhiri kisah epiknya, tipikal seseorang yang susah sekali move on. Sedangkan pertanyaan kedua, sangat sulit untuk menentukan mana yang lebih saya cintai, “The Dark Knight” atau “The Dark Knight Rises”, sebagai film yang berdiri sendiri TDKR adalah film yang sangat luar biasa, tapi harus diakui jika (dipaksa) harus membandingkan dengan TDK, saya harus memilih tersenyum lebih lebar untuk TDK. Duh, bukan berarti TDKR seburuk itu, head to head banyak poin yang seimbang antara TDK dan TDKR, terutama dari sisi ceritanya yang sama-sama berdiri diatas ide yang menarik, karakter-karakter kompleks dan bagaimana Nolan masih membungkus sebuah kisah superhero yang begitu manusiawi. Namun sekali lagi diatas kertas, TDK lebih punya presentasi yang rapih, ketimbang TDKR, yang di beberapa bagiannya terlihat tidak meyakinkan. Setidaknya bagian “belakang” Anne Hathaway dengan balutan kostum kucing garong, tetap ditampilkan meyakinkan.

Ok, mari beralih dari Anne Hathaway sebelum otak saya mulai kotor kemana-mana, dan berbicara segala hal yang menarik tentang TDKR, walaupun bagian “belakang” itu tetap masuk ke dalam daftar (dipelototin Bane). Saya akan tampak bodoh untuk membandingkan TDKR dengan “The Avengers”, karena bingung untuk memulainya darimana, tapi yang jelas keduanya dibuat dengan pendekatan yang berbeda. Nolan membuat trilogi Batman-nya dari awal sudah diarahkan untuk menjadi realistik dan begitupula dengan TDKR. Sedangkan film superhero keroyokan yang satu itu sudah jelas dibuat untuk membuat penontonnya tercengang-cengang dengan segala obral spesial efek. Saya menyukai keduanya, tapi lebih mencintai Batman. TDKR memang tidak segila “The Avengers” dalam urusan efek, namun walaupun tanpa efek khusus komputer yang gila-gilaan, Nolan masih mampu membuat saya tercengang dua kali lipat dan merinding lebih sering ketimbang saat menonton “The Avengers”, karena Nolan tahu bagaimana membangun setiap cerita dan bagian aksinya untuk menyatu bersama, saling bekerja-sama untuk menyentil emosi penonton tanpa harus dipaksa melihat muslihat efek komputer yang berlebihan. Tidak ada “alien” yang punya niat menyerbu bumi, sebaliknya se-realistik mungkin Nolan menghadirkan deretan plot yang gampang dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Amerika, seperti misalnya jatuhnya “Wall Street”, dan ketakutan dunia terhadap teroris.

Mungkin jika Nolan mau, ia bisa saja menyuruh Bane dan pasukan terorisnya untuk menghancur-leburkan kota Gotham sampai rata, tapi atas dasar “realistik” tadi pun Nolan hanya (ingin) menghadirkan sebuah gambaran paling realistis ketika sebuah kota megapolitan, yang disini diwakili oleh Gotham tengah berada dalam ancaman sekumpulan teroris, dipimpin oleh pria botak bertopeng berbadan pegulat. Jadi tak semua bangunan yang ada di Gotham dihancurkan, Bane bukan Hitler dengan Nazi yang mampu meluluh-lantahkan kota London sekali serangan udara, ia dan pasukan kecilnya hanya mampu melakukan kerusakan “ala-kadarnya”. Disinilah ekspektasi saya akan sebuah teror yang mencekam dari Bane terpaksa merasa dihianati oleh Nolan, jika dibandingkan lagi satu orang Joker masih lebih sukses membangun teror yang lebih sinting ketimbang Bane. Ketika Gotham sedang dalam status dikuasai oleh Bane, saya akui tema chaos yang ditampilkan punya skala yang lebih besar dari apa yang pernah diperlihatkan di TDK, beberapa saat setelah Bane memulai aksinya, saya bisa merasakan Nolan sukses membuat saya ikut ketakutan bersama dengan penduduk Gotham, namun beberapa saat kemudian teror itu seperti hilang begitu saja, ketika di beberapa adegan TDKR memperlihatkan jalanan Gotham seperti tak terjadi apa-apa, tidak ada kesan kota sedang dikuasai teroris. Bane tidak eksis.

Lupakan Joker untuk sesaat, karena TDKR kali ini punya musuh yang tidak saja akan membuat seisi Gotham ciut nyalinya, tapi juga membuat Batman kewalahan, Bane punya segalanya untuk ditakuti, dan di komiknya, Bane adalah musuh yang sukses meremukkan punggung Batman. Dalam Batman versi Nolan, yang untungnya tidak menampilkan Bane setolol versi “Batman & Robin”, Bane betul-betul ditampilkan sangar tapi tentu saja tidak komikal, ia adalah pemimpin teroris yang ideal, seperti yang saya sering lihat di game macam “Call of Duty”. Lengkap dengan topeng dan pakaian kebesarannya, disertai gaya khas kedua tangan memegang baju armor di dada, Bane tampil sangat-sangat mengintimidasi tapi juga sekaligus charming. Yah sudah sepantasnya Batman untuk takut dengan Bane yang tinggi besar segede gaban itu (walau aslinya Christian Bale lebih tinggi sedikit dibanding Tom Hardy). Berbeda dengan Joker yang tidak diberi latar belakang apa-apa, kecuali cerita sinting kenapa dia punya luka sayatan yang membentuk mulutnya seakan tersenyum, itupun dari mulut Joker sendiri dan berbeda-beda setiap saat. Bane oleh TDKR diberi masa lalu yang tidak jauh berbeda dengan Bruce Wayne a.k.a Batman, mereka berdua berbagi curhatan kelam dalam TDKR. Tom Hardy memang bukan Heath Ledger, tapi olehnya Bane berhasil menjadi sosok yang menakutkan dalam artian yang sebenarnya, dan secara bersamaan juga seorang pembaca pidato yang mampu menggerakkan emosi, dengan suaranya yang tertutup topeng. Tom telah melahirkan seorang musuh yang “pantas” untuk Batman, sebuah kenikmatan ketika melihat mereka berduel.

Walaupun Bane adalah musuh yang tidak mengecewakan, Joker tetap soulmate yang terbaik untuk Batman, karena dia murni seorang bangsat. Se-bangsat itu juga Nolan sukses menggarap seri terakhir dari perjuangan Batman menyelamatkan Gotham. Setelah di dua film sebelumnya, Nolan dengan apik tidak hanya merakit kisah sang manusia kelelawar untuk mudah dicintai, dengan balutan ceritanya yang terstruktur rapih, kompleks, manusiawi dan juga dijejali tingkat emosional yang pas. Di Batman Begins dan TDK, Nolan juga membimbing penontonnya untuk punya ikatan dengan seorang Bruce Wayne yang kemudian memutuskan untuk jadi pembela Gotham, tak hanya kepada Batman, Nolan juga berhasil membuat saya peduli dan terikat kepada masing-masing karakter yang ia munculkan, termasuk seorang Alfred Pennyworth yang dimainkan oleh Michael Caine. Di TDKR, Alfred diberikan porsi lebih banyak untuk “berduel” dengan majikannya, Bruce Wayne, dengan akting maksimal Caine, karakter Alfred juga jadi salah-satu yang sukses “mencubit” emosi saya. Nolan tahu benar bagaimana membungkus TDKR menjadi penutup sebuah trilogi yang tak saja epik, dalam skalanya mempresentasikan teror seorang Bane dan menggambarkan kebangkitan Batman, tapi juga menyentuh setiap sendi tersensitif saya. Musik Hans Zimmer pun jadi pelengkap yang tak kalah epik, saat Nolan menyajikan adegan demi adegan untuk membuat saya tercengang dan merinding, Hans dibalik instrumennya, seakan menjadi seorang pemimpin revolusi yang membuat emosi saya meronta dan memberontak. Jadi setelah PDKT di “Batman Begins”, lalu diobrak-abrik di TDK oleh Nolan, “hubungan” kita dengan Batman ditentukan di TDKR. Sebagai penutup trilogi, kita tahu perjalanan Batman akan berakhir di TDKR, apakah nantinya perpisahan itu akan baik-baik saja atau sebaliknya, saya tidak akan membongkarnya disini. Nah pertanyaan mendasarnya kembali pada kita, apakah kita akan bisa move on setelah semuanya berakhir. Sebuah penutup yang berkelas! Thanks Nolan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Ada Apa Den...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Under the S...
Review - Headshot