Review: Oblivion

written by Rangga Adithia on April 22, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with 3 comments

Sebegitu cintanya Joseph Kosinski dengan film science fiction, selang 3 tahun setelah “Tron: Legacy”, ia tetap membuat film ber-genre serupa, tidak kapok walaupun film debutnya bisa dibilang mendapat kritikan dari sana-sini. Well, kebanyakan memang mempermasalahkan ceritanya, terlalu dangkal, katanya. Saya, sebaliknya menyukai “Tron: Legacy” sebagai sebuah sajian visual yang memanjakan mata, dan menurut saya ceritanya tidak sejelek yang digunjingkan orang-orang, yah walaupun saya akui tidak seimbang dengan tebalnya muatan visual efeknya yang ambisius dan agak gila itu, ceritanya memang “tipis”. Ah, tapi tetap saja, toh Joseph Kosinski sudah berhasil membuat saya terpesona dengan “Tron: Legacy”-nya, The Grid, dunia digital dengan neon-neonnya yang memukau. “Oblivion” sebetulnya punya formula yang tidak jauh beda dengan “Tron: Legacy”, porsi visual menutupi layer ceritanya yang lebih tipis, tapi lewat film inilah, Joseph Kosinski makin mempertegas kecintaannya pada genre fiksi ilmiah. Untuk sebuah film yang dari awal memang ditujukan sebagai surat cinta Kosinski pada film-film fiksi ilmiah, dan memang terlihat jelas seperti itu, “Oblivion” tertulis dengan manis, berbunga-bunga, layaknya seseorang yang menuliskan surat pada orang yang dicintainya. Jika kemudian “Oblivion” tampak tidak orisinil, terlihat jiplak film ini dan film itu, saya tak akan banyak mengeluh, Kosinski sengaja dan itu cara dia bilang ”I love you”, dengan segala gombal yang dia tebarkan nantinya.

Bumi diceritakan sudah ditinggalkan penghuninya yang sekarang tinggal di planet bernama “Titan”, salah-satu bulan yang mengelilingi planet Saturnus. Setelah perang berskala besar melawan serbuan mahkluk asing berjuluk Scavengers, Bumi tak lagi dianggap layak huni, akibat penggunaan senjata nuklir untuk memenangkan perang. Well, manusia menang, bebas dari invasi tapi kehilangan Bumi yang tak lagi mampu menopang kehidupan akibat radiasi nuklir, bulan pun ikut hancur terkena dampak perang. Bumi sekarang tak ubahnya seperti “rumah tua yang tak lagi terurus”, lewat seorang teknisi bernama Jack Harper (Tom Cruise), kita diperkenankan melihat apa yang ditinggalkan oleh perang, yah sebuah kehancuran. Bumi hanya tampak seperti lahan tandus ketika Jack mengajak kita “tur” sambil dia pun menyelesaikan misinya, memperbaiki robot-robot yang rusak diserang oleh Scavengers, yang ternyata tetap masih berkeliaran di Bumi, layaknya burung pemakan bangkai yang mengintai sisa-sisa “makanan” diantara puing-puing yang dulunya bernama Bumi. Robot-robot ini punya tugas menjaga mesin-mesin raksasa penyedot air, satu-satunya sumber daya alam yang masih tersisa. Jack tidak sendiri, dia ditemani rekan kerja sekaligus bisa dibilang kekasih, Victoria (Andrea Riseborough), yang menjaga komunikasi dengan pusat selagi Jack bekerja. Mereka dijanjikan akan bergabung dengan manusia lain di Titan, setelah menyelesaikan semua pekerjaan, kira-kira dua minggu lagi masa tugas Jack dan Victoria berakhir. Tinggal menghitung hari saja dan semua berjalan normal seperti biasanya. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi…dan mengubah semuanya.

Jika membaca cerita saya diatas, mungkin kalian menemukan adanya kejanggalan, well, begitu juga saya sesaat setelah Tom Cruise…maksud saya Jack Harper selesai bercerita kenapa Bumi jadi seperti rumahnya Hades di neraka sana. Tampak seperti sebuah plothole, tapi setelah cerita bergulir dari menit ke menit, saya baru tersadar Joseph Kosinski, William Monahan, Karl Gajdusek, dan Michael Arndt yang menulis skrip film ini keroyokan memang sengaja menaruh kejanggalan itu disana, jelas dan membiarkan penonton asyik menerka-nerka. Saya tidak mau membuka kejanggalan apa yang saya maksud, biarlah itu jadi misteri bagi yang belum menonton, bagi yang sudah, mungkin mengerti, atau malah tidak sama sekali, ya sudahlah. Paruh awal di “Oblivion” memang penuh keasyikan menerka-nerka “apa?” “kenapa?” dan “siapa?”, saya juga ikut terjebak dalam permainan puzzle yang coba film ini tawarkan, hanya saja saya tidak mau terlalu ribet bertanya ini dan itu. Memang pada akhirnya, saya jadi lebih menikmati “Oblivion” ketika melahap menit demi menitnya, tanpa merasa terbebani oleh banyaknya pertanyaan. Berusaha mengabaikan tapi tetap mencatat poin-poinnya, pertanyaan dan petunjuk-petunjuk yang dibeberkan. “Oblivion” pun jadi asyik ketika saya tak perlu pusing kira-kira apa yah twist-nya, seperti biasa saya akan berpura-pura jadi orang bodoh jika berhadapan dengan film sejenis, pura-pura tak pernah menonton film-film fiksi ilmiah. Walaupun strategi saya kadang meleset dan tetap ketika “Oblivion” menebarkan referensi-referensi beberapa film sci-fi-nya, saya langsung berteriak dalam hati “Film A!”, “Film B!”, dan “Film C!”.

“Oblivion” benar-benar sebuah surat cinta, secara tidak langsung saya dan penonton yang memang gemar film-film fiksi ilmiah pasti sudah termakan gombalannya, sial memang si Kosinski ini, jago banget “modus”. “Oblivion” memang tidak bisa kabur begitu saja dari upayanya yang tidak maksimal, ketika berhubungan dengan urusan merangkai kisah, atau setidaknya menghadirkan karakter-karakter yang diberikan identitas lebih dalam lagi, lebih bikin saya peduli. Saya akui, Kosinski memang agak kurang greget dalam mengembangkan cerita ketika melompat ke paruh kedua, film jadi terasa dipanjang-panjangkan. Namun, Kosinski mampu menambal kekurangan film ini dengan keistimewaan lain, yang membuat saya lupa jika “Oblivion” memang punya layer cerita yang tipis, setipis chemistry yang dihadirkan oleh Tom Cruise dan Olga Kurylenko yang memainkan karakter bernama Julia. “Oblivion”, mewarisi apa yang sudah pernah Kosinski tawarkan di “Tron: Legacy”, visual efek dan scoring-nya yang menakjubkan. Dua elemen itulah yang membuat “Oblivion” tetap berdenyut hidup hingga film selesai. Visual hasil polesan CGI-nya tidak saja memanjakan mata dan menipu siapa saja yang melihat, tapi mampu melebur ke dalam sinematografi indah hasil sulapan Claudio Miranda (Life of Pi), membuat “Oblivion” benar-benar sedap dipandang selama dua jam. Sinting. Belum lagi scoring hasil gubahan keroyokan Anthony Gonzalez dan M83-nya bersama Joseph Trapanese, membuat emosi serta mood ikut menyelam dalam setiap adegan di “Oblivion”, entah itu ketika porsi action mulai dilucuti satu-persatu, atau pada saat dramanya sedang berusaha “mengemis” simpati penonton. Saya benar-benar menikmati sekali membaca surat cinta Joseph Kosinski ini, gombal sekaligus puitis… itulah “Oblivion”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Juara (2016...
Review - Munafik (20...
Review - Ouija: Orig...