Review: Finding Srimulat

written by Rangga Adithia on April 17, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with 3 comments

“Selamatkan Indonesia dengan tawa!”, tidak saja jadi tagline “Finding Srimulat” semata, tapi juga semacam misi mulia yang diemban film yang disutradarai oleh Charles Gozali (Rasa, Demi Dewi) ini. Mengembalikan komedi-berhati ke tengah masyarakat kita, yang sekarang lebih sering dipusingkan oleh dagelan politik, tv isinya ribut-ribut mulu, itu namanya jahat, kejahatan toh tidak melulu harus ada kelihatan orangnya, fisiknya, mencuri tawa dari orang-orang itu juga kejahatan namanya. Sudah saatnya negeri ini membutuhkan superhero, tidak dalam wujud Superman, Batman, Iron Man ataupun Spider-Man, tapi Srimulat. Grup pelawak yang dibutuhkan untuk membela Indonesia dari mereka yang dengan tega sudah mencuri tawa, kita tidak butuh tim superhero macam Justice League ataupun The Avengers… Srimulat yang kita cari hahahaha. Lewat “Finding Srimulat”, kita akan diperlihatkan bagaimana seorang Charles Gozali berusaha untuk mengumpulkan mereka, Srimulat, diwakili karakter Adika Fajar yang dimainkan Reza Rahadian. Pahlawan-pahlawan super yang ternyata juga manusia biasa kaya kita-kita, yang membedakan hanyalah kekuatan yang mampu membuat kita tertawa. Melorot dari kursi, mata tertuncep jari, itu “Srimulat banget”, sudah saatnya kejahatan berkedok tayangan yang mencuri tawa diberantas, Indonesia bebas dari manyun.

“Finding Srimulat” adalah jawaban dari kegelisahan saya, resah melihat film-film komedi kita yang belakangan ini bersembunyi di balik judul-judul jorok dan otak ngeres pembuat filmnya. Charles Gozali bersama “Finding Srimulat”-nya datang untuk menyelamatkan perfilman Indonesia, membuktikan jika bangsa ini masih punya film komedi yang berbudaya, kita masih punya Srimulat dengan deretan pelawak-pelawaknya yang memang cinta untuk membuat orang tertawa. Film ini adalah nostalgia sekaligus sebuah surat cinta yang ditulis dari hati, hasilnya yah ngena ke siapa saja yang menonton, apalagi mereka yang tumbuh bersama Tessy dan kawan-kawannya. Menceritakan Adika Fajar yang mimpinya harus kandas ketika berhadapan dengan kenyataan pahit dikhianati oleh rekan kerjanya, well perusahaan tempatnya bekerja tidak hanya bangkrut setelah itu, tapi kemudian juga menyisakan tumpukan masalah untuk Adika. Belum lagi sang istri, Astrid Lyanna (Rianti Cartwright) akan segera melahirkan dalam beberapa minggu lagi. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Adika adalah Srimulat, setelah bertemu langsung dengan Kadir, dia pun punya ide untuk mengajak Srimulat pentas lagi. Adika kemudian menyambangi satu-persatu anggota Srimulat: Gogon, Mamiek Tessy, Nunung dan Ibu Djudjuk. Tapi ada saja rintangan untuk mementaskan lagi Srimulat. Layaknya film-film superhero, jalan untuk menyelamatkan Indonesia dengan tawa, ternyata memang tidak mudah, eh kok serius amat.

Nonton “Finding Srimulat” memang tidak perlu sok serius, itu namanya menolak tawaran film ini untuk diselamatkan…dengan tawa. Belum nonton sudah bilang film ini mirip “The Muppets” (2011), saya akui tema “reuni”-nya memang bukan sesuatu yang baru, namun “Finding Srimulat” tidak menjiplak film manapun kok. Ceritanya tidak sebrilian itu, peduli setan! toh “Finding Srimulat” dengan masih memiliki kekurangan disana-sini, adalah film yang diingat bukan karena cerita, seperti cerita di acara-acara Srimulat dulu, beberapa ingat sisanya lupa, tapi apa yang sudah film ini suguhkan dari hati, yaitu lawakan-lawakannya. Cerita yang sederhana, tapi oleh “Finding Srimulat” mampu dipresentasikan untuk membuat saya peduli, sejak pembuka film ini yang berkesan, cuplikan dari film-film lama, sampai akhir film yang masih membuat kita terhibur dan tersentuh dengan foto-foto anggota Srimulat dan blooper-bloopernya yang kocak. Ya, “Finding Srimulat” adalah film komedi yang jelas berbeda, dengan niat yang bener, filmnya tak saja hadirkan kelucuan-kelucuan khas Srimulat yang pastinya mengocok perut, tapi juga mengingatkan saya, kita punya legenda…yang hebat bukan main.

Adegan di Stasiun Balapan, Solo yang diiringi tembang lawas “Lenggang Puspita” itu sungguh mempesona, bisa dikatakan salah-satu adegan berkesan di film ini, salah-satu adegan terbaik yang dimiliki oleh film Indonesia. Di adegan ini old dan new digabungkan, Srimulat yang mewakili generasi lama dan flash mob mewakili generasi modern disatukan, hasilnya sangat hilarious, saya serius. Seperti adegan tersebut, “Finding Srimulat” tidak saja memberikan nostalgia bagi mereka yang tumbuh dengan lawakan mereka, tapi ingin menyatukan lintas generasi, mereka yang tidak kenal Srimulat, silahkan berkenalan dengan mereka lewat film ini, yah “Finding Srimulat” adalah cara untuk memperkenalkan kembali Srimulat. Sebuah film komedi yang tidak lupa dengan budayanya, Srimulat pun diperlihatkan apa adanya mereka, tiap individunya tidak dipaksakan untuk melebih-lebihkan, film ini tetap menjadikan Srimulat seperti apa yang saya kenal selama ini. Didukung oleh penampilan Reza Rahadian, Rianti Cartwright dan Fauzi Baadilla, mewakili pemain-pemain muda, juga Mongol, komedian generasi sekarang, film ini seperti menegaskan lagi bahwa yang tua dan yang muda bisa bersatu menampilkan yang terbaik, untuk menyelamatkan Indonesia…dengan tawa. Komedi berhati-nya tak hanya sukses membuat saya jungkir-balik, tapi juga bikin saya nangis selagi tawa itu masih tersisa, “Finding Srimulat” benar-benar hiburan yang selama ini saya cari, terima kasih sudah menyelamatkan saya “Finding Srimulat”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Bone Tomaha...
Review - Juara (2016...
Review - Ouija: Orig...