INAFFF 2011: FISFiC vol. 1

written by Rangga Adithia on December 3, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror and Thriller with 2 comments

Review Fisfic vol satu

Salah besar kalau ada yang bilang Indonesia tidak bisa bikin film horor yang “bener”, ya walau kenyataannya memang lebih banyak horor mesum bin nga jelas yang seliweran di bioskop, makin kesini kualitasnya makin lompat ke belakang, bisa dibilang horor yang  “terbelakang”. Saya tidak akan ngomongin film terbarunya KKD, otak saya makin tidak bisa mengimbangi kecerdasannya dalam membuat film-film non-tontonan-manusia itu, dan jangan ingatkan saya dengan “Arwah Kuntilanak Duyung” (Oh, Tuhan, saya malah mengingatkan diri saya sendiri dengan menulisnya). Untuk menangkis serbuan film-film horor semacam itu, orang-orang “sinting” yang terdiri dari Ekky Imanjaya (pendiri rumahfilm.org), Gareth Evans (sutradara Merantau dan The Raid), lalu ada Joko Anwar (Sutradara Pintu Terlarang), Rusli Eddy (pendiri sekaligus festival director INAFFF), Sheila Timothy (produser Pintu Terlarang), dan terakhir The Mo Brothers (sutradara Rumah Dara), punya sesuatu yang dinamakan FISFiC (Fantastic Indonesian Short Film Competition). Sebuah kompetisi film pendek yang mengkhususkan pada genre fantastik (horror, thriller, sci-fi, fantasy), tujuannya untuk menyaring bakat-bakat baru dalam dunia horor, akhirnya terpilihlah enam finalis yang filmnya sudah premiere di INAFFF tahun ini dan juga dirilis dalam bentuk DVD. Semuanya “sinting”!

Menu FISFiC volume satu dibuka dengan “Meal Time”, film yang satu ini jujur adalah salah-satu film jagoan saya, yah didorong oleh ekspektasi sepantasnya dari karya sang sutradara sebelumnya, Ian Salim dalam “Yours Truly”. Dibilang mengecewakan tidak juga, tapi jika dibanding dengan film pendek yang rilis pada bulan Maret 2011 tersebut (kalau tidak salah ingat), saya masih lebih menyukai “Yours Truly”. Namun hasil racikan cerita yang ditulis oleh Ian Salim sendiri dan Elvira Kusno masih sanggup “menghantui” saya, apalagi ketika isi film mulai mempermainkan saya dan pada akhirnya sukses memelintir saya dengan twist yang mengejutkan itu. Ditemani musik scoring yang sangat pas, salah-satu yang terbaik, “Meal Time” mengendap-ngendap memasuki pikiran saya, tak terburu-buru menjejalkannya dengan macam-macam dulu, tapi sabar “berbasa-basi”. Memperkenalkan kita dengan sebuah rumah tahanan sementara bersama dengan kedua orang penjaga, salah-satunya diperankan dengan jempolan oleh Abimana. Well, malam yang tadinya normal segera berubah mencekam ketika datang beberapa tahanan baru. Oh “Meal Time” memang tahu bagaimana membuat penontonnya penasaran, membiarkan kita sok menebak-nebak “siapa?”, pada akhirnya saya justru terlihat seperti orang bodoh karena sudah salah menebak. Sebuah horor yang menyenangkan dikemas dengan tidak muluk-muluk, Ian Salim dengan “ramah” mengajak kita untuk dag-dig-dug menelusuri misteri di dalam rumah tahanan yang diisi oleh para pemain “opera van java” (tertawa).

Rating 3.5 Tengkorak

FISFIC

Adrenalin saya mulai bergejolak ketika film kedua dimulai, yup “Rengasdengklok” karya sutradara Dion Widhi Putra ini, langsung menyita perhatian lewat opening-nya yang bisa dibilang ciamik. Idenya pun saya akui beda daripada yang lain, menyempilkan “sejarah” baru dalam peristiwa Rengasdengklok yang terkenal itu, masih ingat pelajaran sejarah di sekolah dulu, kan? lupakan itu! karena apa yang sebenarnya terjadi akan diceritakan oleh film ber-bujet 10 juta ini. Akhirnya ada orang sinting yang mau membuat film zombie, ya saya akan memaklumi jika banyak kekurangan disana-sini, tapi Dion sudah mengesekusi cerita yang ditulis Yonathan Lim dengan cara paling fun. Melihat segerombolan mayat hidup berseragam pasukan Jepang saja sudah menyenangkan menurut saya, ditambah lagi ketika melihat Pak Presiden mulai menembaki zombie-zombie ini dengan kedua pistol, ini baru yang saya namakan fantastis. Walau terbata-bata di pada menit-menit awal, film ini mampu meningkatkan ketegangannya selangkah demi selangkah, tiba-tiba hutan yang tadinya sepi berubah menjadi arena permainan yang mengasyikkan, penuh zombie, penuh darah, dan ribuan butir peluru yang muntah dari moncong senapan mesin.

Rating 3 Tengkorak

“Reckoning”, tampil dengan balutan hitam dan putih, menceritakan sepasang suami-istri yang kedatangan tamu tidak diundang, salah alamat? tidak juga karena mereka datang ke alamat yang tepat untuk menebar teror. Film yang disutradarai oleh Zavero G. Idris ini punya pondasi cerita yang menurut saya paling kuat, didukung oleh akting yang juga tak mengecewakan, sayangnya saya menilai karakter “Mother” disini agak berlebihan. Kita akan dibuat bertanya-tanya dan penasaran dengan nasib pasangan suami istri tapi esekusi ketegangan pada “Reckoning” masih kurang terasa, saya tidak merasa terancam ataupun ter-teror dengan kata-kata bule si-Mother. Satu-satunya momen paling seru adalah ketika sang suami melakukan hal bodoh terakhirnya untuk menyelamatkan istrinya. Setidaknya “Reckoning” sudah sanggup menciptakan aura tidak nyaman itu dengan baik, didukung oleh kemasannya yang hitam-putih, menjadi lebih artistik. Bermodalkan akting yang baik dan dialog-dialog panjang yang tidak murahan, keduanya saling bekerja sama bersama cerita untuk mengajak penonton menjadi saksi bahwa kehidupan tidak selamanya “putih” tetapi di “Reckoning” juga ada saatnya kehidupan berubah “hitam”.

Rating 3 Tengkorak

Review Fisfic volume satu

“Rumah Babi”, dari judulnya saja film ini sudah provokatif, Alim Sudio yang lebih saya kenal sebagai penulis cerita untuk film-film yang masuk dalam daftar hitam, sepertinya ingin membuktikan jika ia mampu membuat film seram, tidak sekedar seram tapi sukses menakuti-nakuti, kenyataannya memang itu yang sudah dia lakukan di “Rumah Babi”. Mengangkat tema yang agak sensitif, film ini memulai kisahnya dengan seorang pembuat film dokumenter yang harus datang ke sebuah rumah, bukan rumah biasa, tapi tempat kejadian perkara, dimana keluarga berdarah Tionghoa baru saja “dihakimi” massa yang mengamuk. Jujur, “Rumah Babi” dibuka dengan lucu, apalagi muka si sutradara yang agak bloon, tapi itu seperti jebakan dari Alim, karena ketika cerita mulai bergulir masuk lebih dalam, kita sadar ini bukan lagi sebuah komedi, ini horor dengan pesan yang perih. Tidak ada pocong disini, tapi hantu minimalis dengan efek menyeramkan yang maksimal, dengan kemunculannya yang creepy dan sukses membuat bulu kuduk ini berdiri. Alim tidak saja membuat film hantu yang serem tapi bisa memanfaatkan lokasi untuk membuat saya ketakutan sendiri, padahal hantunya sendiri belum muncul. Lorong panjang di dalam rumah dan ruangan-ruangan sempit menjadi lokasi yang pas untuk pada akhirnya tidak saja menjebak si korban tapi juga penonton untuk merasakan ketakutan yang sama.

Rating 3.5 Tengkorak

Pernah menginginkan seseorang yang sangat dibenci, mati? saya pernah dan beruntung itu hanya ada dalam pikiran, karena saya hanya seorang cowok unyu bukan pembunuh. “Effect” memberikan sebuah alternatif, silahkan pilih siapa yang ingin dibunuh dan biar sekelompok orang yang berada di balik effect.org melakukan sisanya. Film yang diarahi oleh Adriano Rudiman ini punya keunikan sendiri dalam mengesekusi kematiannya itu sendiri. Dengan tidak terburu-buru juga, Adriano mengajak kita mengenal si tokoh cewek yang diperankan oleh Tabitha dengan sangat baik, merasakan kekesalan yang dia rasakan terhadap bosnya. Ketika dirasa sudah cukup menyamakan level kesal tersebut, “Effect” langsung menyajikan sebuah atraksi beruntun yang mengasyikkan, sayangnya ketika kita sudah tahu siapa yang beruntung menjadi “pemenang”, film ini terlalu lama melakukan tarik-ulur menuju ke ending yang sebenarnya. Jadinya ketegangan yang sudah dibangun dengan baik, menjadi kurang ada greget-nya lagi. Kurang memanfaatkan momentumnya, tidak menjadikan “Effect” menjadi film yang buruk, Adriano dan kawan-kawan sudah menyajikan sebuah film thriller yang mengasyikkan, dibungkus dengan tone yang enak dilihat dan premisnya yang dari awal memang membuat saya penasaran.

Rating 3 Tengkorak

Kita akhirnya sampai ke menu penutup, menaiki sebuah “Taksi” yang dikemudikan oleh duo Arianjie Az dan Nadia Yuliani. Perjalanan selama 20 menitan menjadi sangat-sangat mencekam ketika semua elemen dipadu-padankan dengan sempurna, apalagi ditambah dengan peranan Shareefa Daanish yang sekali lagi total dalam berakting, sebagai Fina, penumpang taksi yang tidak beruntung. Saya sebetulnya tidak punya ekspektasi lebih, ya tapi ternyata “Taksi” dengan bajingan berhasil memaksa saya untuk membayar lebih. Perhatian saya dan ekspektasi pas-pasan tersebut “dirampok” dan saya dibiarkan terlena menyaksikkan sebuah thriller yang mengerikan. Sama bajingannya dengan si supir taksi yang berwajah mesum tersebut, film ini mulai mengajak kita berkeliling ditemani suasana kota di malam hari, perhatian kita tentu saja tertuju pada nasib Fina, apakah dia berhasil pulang dalam kondisi utuh? atau justru “habis” di tengah perjalanan. “Taksi” mengubah interior kendaraan sedan yang tidak terlalu besar menjadi arena permainan berdarah yang sangat manis dan indah, didukung oleh pergerakan kamera yang bisa dibilang sinting. Arianjie Az dan Nadia Yuliani tidak saja sukses mengesekusi bagian berdarah tetapi juga dalam hal membangun ketegangan dari awal, ditemani scoring minimalis yang menurut saya juga ciamik dan pas mengiringi perjalanan kita bersama “Taksi”.

Rating 4 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Ada Apa Den...
Review - Munafik (20...
Review - Rumah Malai...