Review: Helldriver

written by Rangga Adithia on December 4, 2011 in Asian Film and CinemaTherapy and Horror and Nishimura Clan with 6 comments

Review Helldriver

Menunggu Yoshihiro Nishimura membuat film lagi itu seperti ngantri panjang di toilet, sambil menahan perut yang sudah berada dalam posisi mules yang tidak tertahankan, ini yang namanya sudah di “ujung”, tidak peduli jika ruangan sempit tempat saya nongkrong nanti itu jorok tidak terkira dan berbau busuk. Begitu masuk, jongkok, dan brat-bret-brot, rasanya melebihi semua kenikmatan yang ada di dunia, termasuk makan nasi goreng tek-tek favorit saya. Apakah respon saya berlebihan, lebay, saya tidak peduli, karena memang sudah sepantasnya film Nishimura yang seringkali berlebihan dalam hal kegilaan tersebut direspon dengan sebuah kejujuran, saya hanya berusaha jujur dalam meluapkan perasaan dan emosi yang dirasakan setelah menonton. Jika tulisan ini akan terlihat berlebihan, itu memang karena Nishimura sekali lagi berhasil menginjeksi saya dengan formula hiburan terhebat tahun ini bernama “Helldriver”. Lagipula film ini seperti juga karya-karya beliau sebelumnya, memang sudah jujur dibuat untuk satu tujuan, menjejalkan kita dengan hal yang sederhana, yaitu hiburan, yah tapi “hiburan” tolol khas Nishimura dong.

Jika ada orang yang sanggup membuat saya nahan b*ker dan memilih untuk jungkir balik di ruang tamu, terlihat seperti orang yang baru saja kesurupan kuntilanak duyung. Hanya Nishimura yang bisa melakukan itu, “Helldriver” melanjutkan tongkat estafet kekonyolan yang sudah dibuatnya tahun lalu lewat “Mutant Girls Squad”, barengan Tak Sakaguchi (Yoroi: Samurai Zombie) dan Noboru Iguchi (Robogeisha, Machine Girl). Bosan dengan film yang itu-itu saja, Nishimura mencoba serius berganti haluan membuat film zombie, Oh Tuhan itu menambah kegirangan saya tentunya. Tentu saja, zombie hasil prakarya si jenius tidak akan sama dengan zombie-zombie yang pernah keluyuran di Hollywood, di film-film zombie manapun, termasuk zombie asal kampung pisang yang fenomenal itu. Nishimura dengan asyiknya menaruh semacam antena di dahi orang-orang yang menjadi zombie, mereka yang sudah terinfeksi. Semacam antena di kepala semut yang sepertinya bisa dibuat sebagai alat berkomunikasi sesama zombie. Bukan Nishimura namanya jika imajinasinya berhenti sampai disitu, nah antena-antena ini juga bisa dimanfaatkan oleh manusia sebagai pengganti barang candu terlarang yang sudah ada, heroin dan sejenisnya mah ketinggalan zaman. Sampai ada orang yang “berburu” zombie hanya untuk dapetin nih antena, tapi hati-hati karena antena ini sensitif bisa meledak. Goblok!

Romero selalu bisa menyisipkan pesan-pesan satirnya tentang kemanusian di film-film zombienya, sekarang entah habis mabuk atau apa, Nishimura terinspirasi untuk memberi pesan yang sama, walaupun akan sulit terlihat karena “Helldriver” terbungkus rapih oleh kekonyolan yang tiada habisnya. Jepang diceritakan terbagi dua, dipisah oleh semacam tembok, jangan bayangkan tembok Berlin yang dijaga pasukan SS yang mengerikan atau tembok China yang besar itu, tembok disini terlihat seperti terbuat dari kardus yang dicat hitam dan mudah hancur sekali serang, plus dijaga oleh pasukan yang mengingatkan saya pada “pyramid head” di Resident Evil. Tembok inilah yang memisahkan Jepang bagian utara, sekarang sudah menjadi wilayah tak bertuan berisi zombie-zombie ber-antena yang kelaparan. Sisanya di bagian selatan dihuni manusia-manusia yang selamat dari infeksi asap hitam, tapi keduanya tidak berbeda, sama-sama chaos dan tidak punya harapan. Lalu pemerintah Jepang mengirim satu tim khusus, yang dipimpin oleh seorang perempuan setengah cyborg hasil eksperimen militer, bernama Kika (Yumiko Hara), untuk ditugasi membunuh “ratu zombie” (Eihi Shiina), yang tidak lain adalah ibu Kika sendiri, orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya yang cacat.

Review Helldriver

“Helldriver”, memang akan terdengar seperti film-film bertema balas dendam melankolis yang klise dan mudah ditebak. Saya akui jika film ini dilihat dari sudut pandang seorang penggemar sinetron garis keras macam saya, cerita di “Helldriver” tidak lebih dari hasil karangan penghuni rumah sakit jiwa yang kepalanya baru saja disengat listrik. Tidak ada yang bisa diharapkan dari ceritanya yang tidak masuk diakal, penggemar sinetron garis keras macam saya (repost, gan) akan bilang ini film jelek dan tidak berkualitas. Omong kosong dan peduli setan, untuk apa buang-buang waktu memikirkan cerita, “Helldriver” dari awal sudah memberitahu saya untuk melepas segala tetek bengek logika, apakah saya harus berotak untuk mencerna adegan yang memperlihatkan ribuan kepala zombie yang dilemparkan ke udara dan berubah menjadi bom-bom berdaya ledak tinggi, sebuah sajian fantastis yang akan membuat opening scene di “Private Saving Ryan”-nya opa Steven Spielberg tidak ada apa-apanya. Well, sudah jadi wajib hukumnya, jika saya sudah berurusan dengan keliaran yang dihadirkan oleh Nishimura, untuk menikmati semuanya, saya tidak perlu menyembunyikan kebodohan saya, tidak perlu sok pintar, lagipula satu-satunya cara untuk menikmati “Helldriver” adalah simpan otak cemerlang anda di lemari pendingin selama nonton. Setelah selesai, saya baru sadar sudah menyia-nyiakan hidup saya yang berharga ini, selama 117 menit dan saya menyesal dengan tenang.

Tidak perlu lagi mendengarkan saya berbicara omong kosong memuja film ini, silahkan beli DVD-nya dan tonton, tidak perlu juga membaca review yang isinya dilebih-lebihkan hanya supaya si penulis terlihat jadi lebih cool. “Helldriver” adalah tipikal film yang kita harus tonton sendiri untuk menemukan “kelebihan”-nya dalam soal menghibur, jadi tidak perlu membuang-buang waktu yang berharga untuk membaca review ini. Nishimura tahu benar cara memuaskan penontonnya, menyambut saya dengan variasi adegan konyol bin janggal, karakter-karakter yang dibalut desain paling freak sekaligus super-jelek, tidaklah lupa mem-baptis saya dengan guyuran bergalon-galon darah. “Helldriver” punya semua yang pernah diperlihatkan Nishimura di film-film sebelumnya, tololnya saya tetap saja terkesima dengan apa yang dia suguhkan ke hadapan saya, mungkin karena “Helldriver” punya lebih banyak darah yang dibuang-buang atau karena zombie-nya susah mati, yah sampai tangan terpotong saja masih bisa bergerak meneror dengan gergaji mesin. Jangan lupakan para pemainnya yang sudah tampil maksimal di setiap adegannya, mau-maunya dibodohi oleh Nishimura dan terlihat begitu keren di layar, walaupun hanya tertawa-tawa saja dengan bermandi darah atau hanya joget-joget tak karuan. Wajar, jika pada akhirnya saya menyebut “Helldriver” adalah film terbaik tahun ini, walaupun disayangkan film ini tidak hadir di INAFFF, jika iya, mungkin kepala saya sudah meledak.

Rating 4 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Raksasa Dar...
Review - Cipali KM 1...
Review - Train to Bu...