Review: Hot Tub Time Machine

written by Rangga Adithia on August 31, 2010 in CinemaTherapy and Comedy and Drama and Hollywood with one Comment

Hey look, it’s the douchbag from Karate Kid 3 ~ Jacob

Apa yang menarik dari tahun 80an? Hmmm.. (tidak usah menjawab jika tidak ingin ketahuan berapa umurnya), mungkin sebagian dari kalian akan mengelu-elukan era ini sebagai surganya musik, dekade dimana lahirnya lagu-lagu yang tidak termakan waktu alias everlasting, dari pop sampai heavy metal sekalipun. Tentu saja yang paling ikonik adalah munculnya band-band “rambut”, entah bagaimana mereka sanggup menyihir kita dengan lagu sekaligus “menjerat” wanita-wanita dengan rambutnya, itu tetap misteri bagi saya sendiri. Musik di era ini juga mulai merambah media televisi, orang-orang tidak lagi terbatas mendengarkan tapi melihat musik lewat debut MTV di tahun 80an. Jadi apalagi yang menarik di dekade ini? Michael Jackson, fashion, perang dingin (coret), dari semua keajaiban tahun 80an yang membuat kita bernostalgia, hal yang paling menarik mungkin adalah bisa kembali ke tahun-tahun itu. Karena kita memang selalu berandai-andai dapat meloncat ke masa lalu, yah mungkin jawaban paling tulus dari pertanyaan: “Apa yang menarik dari tahun 80an?” adalah terbangun dengan kalender menunjuk tahun 1986.

Adam (John Cusack), Lou (Rob Corddry), dan Nick (Craig Robinson), tiga orang sahabat inilah yang akan mewakili andai-andai kita tersebut, bersama dengan keponakan Adam Jacob (Clark Duke), mereka “beruntung” diberi kesempatan kembali ke masa lalu. Adam dan kawan-kawan mungkin kawanan gila tak terpisahkan dulunya, tapi ketika beranjak dewasa dan bertemu dengan kehidupan masing-masing, mereka secara bertahap berubah dan mulai saling melupakan satu sama lain karena kehidupan mereka yang sebenarnya payah tapi justru menyibukkan. Nick contohnya yang terjebak dengan bekerja di salon anjing dan punya masalah dengan istrinya yang selalu mengontrolnya. Akhirnya mereka bertiga dipertemukan kembali ketika Lou masuk rumah sakit. Untuk menghibur sabahat mereka yang disangka gagal bunuh diri ini, Adam dan Nick merencanakan liburan untuk Lou, ke tempat nostalgia masa muda mereka yaitu Kodiak Valley.

Sesampainya di Kodiak Valley, ketiga sahabat ini langsung kecewa karena kota tersebut sudah berubah tidak seperti dulu, sepi dan banyak toko yang bangkrut. Ditambah tempat penginapan yang tidak kalah menyedihkan, tapi mereka tetap meneruskan untuk berakhir pekan di pegunungan penuh kenangan ini. Lou sudah menyiapkan rencana gilanya, tapi terhadang dengan teman-temannya yang sepertinya tidak sesemangat dirinya, beruntung masih ada sebuah hot tub sebagai hiburan terakhir mereka. Semuanya menceburkan diri ke kolam air panas tersebut dan menghabiskan setiap minuman keras yang dibawa Lou. Keesokan harinya, tanpa menyadari ada sesuatu yang aneh, mereka pergi bersenang-senang dengan bermain ski. Tiba-tiba kegilaan mereka dihentikan oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tampaknya sedang menghadiri acara dengan tema 80an. Awalnya mereka mengira ini hanya lelucon, tapi semua yang ada dihadapan mereka berubah, dari pakaian, gaya rambut, acara televisi, sampai Michael Jackson yang masih berkulit hitam ketika Nick bertanya pada seorang wanita. Apakah mereka benar-benar kembali ke masa lalu, dengan sebuah hot tub yang punya fungsi ganda sebagai mesin waktu?

“Hot Tub Time Machine” tidak hanya membawa John Cusack dan kawan-kawan untuk melakukan perjalanan waktu, kembali ke tahun 1986, tapi mengajak serta penonton juga untuk sekali lagi mengecap masa lalu dengan segala pernak-pernik rasa 80an. Musiknya akan membuat kita bernostalgia dan gaya 80an benar-benar total me-makeover film ini untuk selanjutnya membiarkan kita (kalian yang berasal dari atau pernah merasakan dekade ini) untuk mengumpulkan potongan-potongan ingatan masa lalu di tahun 80an dan berdansa dengannya. Steve Pink yang juga pernah menyutradarai komedi-remaja di tahun 2006, “Accepted” (kebetulan film favorit saya), dengan ciamik dapat meramu formula komedi di film ini. Setiap adegan komedi dibiarkan untuk tidak terpaksa lucu, hasilnya Steve berhasil memancing kita tertawa tanpa merasa terganggu sedikitpun. Lalu komedi-komedi itu pun bisa selaras dengan cerita yang terbalut ringan menceritakan aksi dan upaya Adam, Lou, Nick dan Jacob untuk kembali ke masa mereka berasal. Sambil tertawa lepas, saya sama sekali tidak melupakan cerita, karena film ini juga bisa meramu jalan ceritanya untuk bisa dinikmati dan durasi 101-menitnya jadi tidak terasa.

John Cusack bermain apik disini sebagai Adam, yang berupaya keras membuat segalanya sesuai dengan rencana namun dia justru terbawa dengan suasana. Lou yang diperankan oleh Rob Corddry juga sukses menjadi karakter yang paling disoroti karena lelucon yang walaupun kasar selalu berhasil menggelitik urat syarat tertawa kita. Nantikan juga aksi si Nick yang diperankan Craig Robinson, karena dia tidak hanya pintar melempar kelucuan tetapi juga sanggup menghibur dengan aksi dia bernyanyi dipanggung dengan band lama-nya. Performa keempat aktor dengan kelebihannya masing-masing dalam membuat kita tertawa ini juga tanpa disadari sanggup menciptakan chemistry yang pas diantara mereka. Ikatan persahabatan antara Adam, Lou, dan Nick terasa sangat tulus, walau dipenuhi dengan kebodohan dan kesalahpahaman, film ini bisa menampilkan tema persahabatan yang lumayan menyentuh dan mungkin saja bisa memompa ingatan penontonnya dengan persabatan mereka sendiri. “Hot Tub Time Machine” adalah perjalanan sinematik yang cukup mengasyikkan, penuh dengan nostalgia manis, dan tentu saja akan membuat saya  akan berendam di bak mandi sambil mendengarkan “Home Sweet Home” dari  Montley Crue (tidak punya hot tub) lalu berharap bisa mengunjungi masa lalu.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Iblis (2016...
Review - Ouija: Orig...
Review - Under the S...