Review: Braindead (Dead Alive)

written by Rangga Adithia on July 30, 2010 in CinemaTherapy and Comedy and Horror and New Zealand Movie with 6 comments

Your mother ate my dog! ~ Paquita

Siapa sangka sebelum Peter Jackson terkenal sebagai sutradara film ber-bujet besar dan mega-blockbuster seperti trilogi “The Lord of The Rings”, sutradara asal New Zealand ini mengawali batu loncatan karirnya lewat film “Braindead” (Dead Alive). Film tahun 1992 tersebut bukanlah film kaya akan efek canggih, sebaliknya justru sebuah film horor berbujet 3 juta dolar yang bisa dibilang mengukuhkan Peter Jackson sebagai “Lord of Gore”, yah sampai kelak ia menemukan cincin “precious” milik Gollum. Film ini boleh saja punya bujet rendah tetapi Jackson berhasil memaksimalkan seluruh elemen filmnya, sepertinya dia memang tidak mengenal kata setengah-setengah dalam kamusnya. Semua disajikan dengan super disini, dari super menjijikkan sampai super gore, dari cerita yang super tak masuk di akal sampai zombie yang super kuat tidak bisa dikalahkan.

Sebelum menonton film ini, saya tidak pernah membayangkan makhluk genetika macam apa yang bisa menyebabkan kegilaan selama 100 menit lebih. Tak disangka hanya seekor monyet, tapi tunggu dulu bagaimana jika monyet tersebut merupakan hasil “perkawinan” silang antara monyet pohon dan tikus berpenyakit. Sebuah eksperimen iseng alam yang melahirkan hewan jelek yang pantasnya menjadi penghuni neraka. Bodohnya ada saja manusia yang mau membawanya dari Skull Island (yah ini pulau yang sama di sekitar Sumatra, yang kita kenal sebagai habitat asli King Kong dan penghuninya yang primitif, Peter Jackson kelak akan berkunjung kesana lagi) ke kebun binatang di New Zealand. Makin bertambah idiot saat Simian raticus (nama latin atau nama setan?) dipajang pula di sebuah kandang dan dipamerkan pada pengunjung. Mimpi buruk pun baru saja dimulai.

Lionel Cosgrove (Timothy Balme)—seorang pria kikuk yang masih tinggal bersama ibunya yang diktator (sebelum jadi zombie aja ibunya udah seram)—mengajak Paquita (Diana Penalver) ke kebun binatang untuk kencan pertama mereka. Dari jauh, ternyata Ibu Lionel membuntuti dan memata-matai anaknya yang sedang memadu kasih dengan penjaga toko. Disinilah malapetaka dimulai, Ibu Lionel tidak sengaja terkena gigitan si monyet-tikus dari Sumatra. Ibu Lionel pun membalas dengan menginjak monyet tersebut sampai mati. Aksi spionase sang ibu harus berakhir karena selain digigit makhluk buruk rupa, keberadaannya sudah terbongkar oleh Lionel. Setelah dirawat secara medis, semua berjalan normal pada awalnya, namun lambat laun keadaan ibunya bertambah parah dan merubahnya menjadi mayat hidup. Walau mengetahui kenyataan ibunya sudah menjadi zombie, Lionel yang begitu cinta dengan sang ibu tetap merawatnya dan menutupi fakta mengerikan ini dari dunia luar. Apakah Lionel bisa terus merahasiakan malapetaka ini?

Setelah dibuat terkejut oleh penampakan Simian raticus yang membuat saya tidak nafsu makan, film ini ternyata masih menyimpan banyak kejutan lain yang dikemas secara liar. Peter Jackson tahu betul bagaimana harus menyajikan kegilaannya, dia menekan egonya dalam-dalam untuk tidak mengeluarkan semua kejutan itu terburu-buru. Sebaliknya sisi kreatifitas nda imajinatif berkata untuk melepas satu-persatu adegan mengerikan yang dia siapkan secara perlahan namun efektif dalam usahanya melucuti nyali setiap penontonnya dan kemungkinan menghilangkan selera makan mereka. Dari adegan makan sup paling “enak”—bayangkan sup tercampur cairan hijau yang muncrat dari luka Ibu Lionel—sampai pesta paling gore dan paling “meriah” yang pernah saya lihat di film. Jackson pun membungkusnya dengan tema yang tidak saya duga, yaitu dark comedy yang lagi-lagi vulgar, lengkap dengan beraneka ragam menu slapstick ala Tom and Jerry versi neraka.

Melihat Ibu Lionel yang sudah bermetamorfosis menjadi zombie tulen dan segala atraksi di menit-menit pertama film saja sudah instan membuat saya jatuh bangun antara merasa menjijikkan dan takut sekaligus menahan kencing karena tertawa tak ada habisnya. Film ini sepertinya tidak puas hanya membuat saya jatuh bangun dan menahan kencing, maka “siksaan” yang lebih gila langsung dihadapkan ke depan muka saya, ketika saya mengira adegan sebelumnya sudah gila ternyata ada adegan yang lebih gila daripada sebelumnya. Seperti itu seterusnya sampai level kegilaan di otak saya pun serasa akan meledak karena film ini tidak berhenti menginjeksi formula demi formula “menyakitkan”, sinting, sadis, melebur menjadi satu dengan ramuan nenek sihir gila dari pulau tengkorak.

Disaat Jackson juga menghiasi film ini dengan aksesoris cerita cinta antara Lionel dan Paquita, menu utama hiburan tidak normalnya terus datang silih berganti, membuat saya kenyang namun lapar secara bersamaan. Kapan lagi bisa melihat seorang pendeta yang beradu jotos ala film-film Bruce Lee, menendang bokong para berandalan zombie sambil berkata “I kick ass for lord”, itu salah satu momen terbaik sekaligus quote paling edan di film ini. Sudah pernah melihat zombie “bercinta”? jika belum, film ini menampilkannya untuk anda. Selain kemesraan Lionel dan Paquita, kisah cinta juga tidak terbatas untuk manusia saja tetapi juga menyebar layaknya virus sampai ke hati busuk zombie. Buah cinta antara pendeta zombie dan suster yang kepalanya hampir putus ini melahirkan bayi ajaib yang mukanya lebih jelek dari pada si monyet tikus. Bayi inilah maskot film ini, dia selalu hadir di setiap adegan kocak nan mengocok isi perut, mencuri perhatian dengan “keluguan”-nya. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana adegan Lionel mengajak jalan-jalan bayi zombie, adegan ini total menyihir urat syaraf tertawa saya…classic!

Ajaib adalah kata yang tepat menggambarkan film ini selain kata-kata gila yang entah sudah berapa banyak disebut di review ini. 100 menit lebih saya diajak masuk ke dalam isi otak “polos” Peter Jackson dan dia mengajak berkeliling, semacam tur adegan-adegan berdarah yang memang memakai bergalon-galon darah. Setiap inci perjalanan sinematik yang fantastis ini dipenuhi oleh kata-kata kotor dari mulut saya yang sudah berbusa (bukan karena melihat ketololan tapi melihat sebuah sajian brilian), disini saya dipuaskan dengan potongan tubuh yang berserakan dimana-mana, di film ini saya dibuat “orgasme” melihat isi perut yang terburai menggemaskan. “Braindead” sukses menghadirkan pesta, sebuah pesta yang lebih menggairahkan dari seks di pagi hari. Zombie-zombie dengan pakaian vintage tahun 50-an ini terpotong, ter-blender, tergilas hancur mesin pemotong rumput, dan segala macam perlakuan tidak berke-zombi-an menjadi aksi spektakuler bin sakit yang berhasil mencincang habis otak saya. Mau lihat isi perut zombie yang masih bisa bergerak kesana-kemari seperti wayang golek? bangsat!!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Talak 3
Review - Juara (2016...
Review - Dukun Linta...