Review: American Beauty, Dead Snow, Star Trek & Rescue Dawn

written by Rangga Adithia on June 9, 2009 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama and Hollywood and Horror and SciFi and Thriller and War with 3 comments

American Beauty

On what grounds? I’m not a drunk, I don’t fuck other women, I’ve never hit you, I don’t mistreat you… I don’t even try to touch you since you’ve made it so abundantly clear how unnecessary you consider me to be! But I did support you when you got your license, and some people might think that entitles me to half of what’s yours. So, turn off the light when you come to bed! ~ Lester Burnham

 

B-E-A-utiful, begitulah kira-kira ucapan Bruce di Bruce Almighty, ungkapan yang gw pinjam sebentar untuk menggambarkan film berdurasi 2 jam yang luar biasa bagus ini. Pantaslah jadinya klo di tahun 2000, film ini dinominasikan untuk 8 Oscar dan berhasil memenangkan 5 diantaranya untuk Best Actor, Best Cinematography, Best Writing, Best Director, dan Best Picture. Film yang kaya akan permainan cerita dan akting keren Kevin Spacey ini menjadi film terbaik di tahun 2000. Pertanyaan selanjutnya adalah “Kok baru nonton??”

“Hari gini baru nonton film ini, kemana aja?” Hahahahaha ya betul, gw emang telat banget baru nonton film terbaik tahun 2000 ini sekarang. Tetapi seperti kata pepatah “Tidak ada kata terlambat untuk menonton sebuah film”, entah siapa yang memulai pepatah tersebut. Anyway, setelah bertahan lama di antara tumpukan film-film lainnya, gw akhirnya nonton juga film dengan sutradara Sam Mendes ini. Menurut gw ini film terbaiknya Sam Mendes, mungkin jadi tidak fair karena gw juga belom nonton film lainnya seperti Jarhead dan Revolutionary Road. Hanya Road to Perdition yang sudah gw tonton. 

American Beauty, berkisah tentang seorang pria yang merasa dirinya  sudah menjadi “pecundang sejati” dengan kehidupannya yang “gagal total”. Sebagai seorang suami dia gagal menjadi pemimpin di keluarga. Lester Burnham, diperankan cemerlang oleh Kevin Spacey, tidak lagi punya hubungan romantis dengan sang istri Carolyn Burnham (Annette Bening) layaknya pasangan suami-istri pada umumnya. Lester seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya dan kehilangan gairah dengan si istri, kehidupan yang tidak seperti dulu lagi.

Sebagai seorang ayah dia juga sudah kehabisan “masa kecil” si anak, dan menyisakan hubungan ayah-anak perempuan yang tidak lagi dekat. Jane Burnham (Thora Birch) memang membenci ayahnya yang berubah, tidak seperti ayah-ayah lain yang menjadi idola anak-anaknya. Peran ayah yang bijaksana dan pelindung di mata seorang anak, nampak sudah musnah dalam diri Lester. Ayah yang ingin kembali dekat namun sudah terlambat.

Sang istri dan si anak tampak sudah tidak mengganggap keberadaan klo Lester adalah masih suami sekaligus ayah di keluarga tersebut. Carolyn sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang penjual rumah. Seorang yang ambisius dalam soal pekerjaanya dan perfeksionis dalam soal rumah namun gagal juga dalam membina rumah tangga termasuk mengasuh anak. Sedangkan Jane sibuk dengan masa tumbuhnya menjadi remaja putri, selalu ingin sendiri, benci orang tuanya, dan gadis yang tidak percaya diri.

Lengkap sudah problematika yang tersusun dengan tidak rapi namun berantakan dalam keluarga Burnham. Tidak ada satupun dari mereka, entah itu Ayah, Ibu, atau pun si anak, yang mau mencoba untuk merubah keadaan. Sampai akhirnya Lester bertemu dengan teman anaknya, Carolyn bertemu dengan rekan seprofesinya, dan Jane bertemu dengan Ricky. Semua akan segera berubah, keluarga yang selama ini tampak normal walau sebenernya tidak begitu normal, menemukan apa yang selama ini telah hilang, apa yang selama ini menjadi masalah, apa yang selama ini tidak ada dalam diri mereka masing-masing.

Tapi akankah perubahan ini menciptakan perubahan yang baik dalam keluarga ini? Akankah Lester menemukan kembali dirinya yang telah lama hilang, menjadi suami dan ayah yang sempurna?  Akankah Carolyn berhasil mewujudkan ambisinya menjual rumah, sekaligus jadi istri dan ibu yang terbaik? Akankah Jane berhasil menjadi gadis yang selalu percaya diri dan menjadi gadis cantik kesayangan orang tua?

Film ini berawal dengan cerita sederhana dengan narasi dibawakan langsung oleh si aktor Kevin Spacey yang bermain amat cemerlang di film ini. Cerita berjalan mengalir tanpa membuat kita menjadi bingung dengan perubahan-perubahan kecil yang sedikit demi sedikit membangun plot tentang apa yang akan terjadi di akhir film. Film yang mengandung kata indah dalam judulnya memang cocok dengan film yang pada dasarnya indah ini. Dialog-dialog antara para karakternya cerdas, kadang kasar namun berbalut secara puitis. 20 menit terakhir film menjadi senjata rahasia untuk menghinoptis penontonnya untuk tidak bergerak sedikitpun, tidak mengedipkan mata sekalipun, ataupun beranjak untuk ke toilet.

Kevin Spacey juga begitu menjiwai sebagai seorang Lester “The Losser”, permainan aktingnya begitu dalam klo menurut gw. Seperti halnya di film-film yang dibintanginya, Kevin selalu membawa akting segar. Dia selalu berhasil menjadi apa yang diperankannya dan gw secara pribadi tidak lagi melihat seorang Kevin Spacey jika dia sedang berakting. Bagi gw, Lester merupakan salah satu peran terbaiknya, selain sebagai John Doe di Se7en. Ngomong-ngomong pemeran Angela emang bener-bener menggoda di sini, gw juga hampir sama tergoda dengan bunga-bunga mawar bertaburan di kamar gw, wkwkwkwkwkwkw stop it!!

Film pencarian jati diri dan arti hidup ini berhasil juga menghipnotis gw sampe bengong hingga akhir end-credit, terima kasih menyebut gw berlebihan cuma itulah yang terjadi. 122 menit duduk pegel dibayar dengan sensasi menonton film yang berbeda walau bukan di bioskop namun dirumah sendiri. Overall, film yang wajib ditonton bagi yang belum nonton hehehehe. Lebih baik terlambat daripada tidak menonton bukan. Enjoy!!

——————————-
Rating 4.5/5

Dead Snow

Gw udah sering lihat film-film bertema perang dunia ke-2, dengan kekejaman Nazi lewat tangan-tangan dingin pasukan SS-nya. Beberapa scene seperti kamp konsentrasi, pembunuhan massal, death march, holocaust, dll sudah jadi menu wajib untuk film-film dengan tema tersebut. Schutzstaffel (SS) atau Skuadron Pelindung milik Nazi jerman memang terkenal menakutkan padahal mereka hanya manusia, namun sifatnya sudah melebihi monster sekalipun. Tidak mengenal ampun, tidak punya rasa perikemanusiaan.

Bagaimana jadinya kalau pasukan-pasukan iblis tersebut divisualisasikan bener-bener bertampang monster, bukan lagi manusia. Lebih kejam, lebih sadis, dan tentu saja lebih menakutkan dari sebelumnya. Medan perang tidak lagi jadi tempat mereka berburu musuh untuk dibunuh, kali ini pegunungan bersalju yang jauh dari peradaban jadi tempat perburuan mereka. Kali ini insting mereka bukan lagi untuk bertahan hidup namun untuk mencari santapan makan malam dari darah dan daging manusia.

Død Snø atau Dead Snow, memberikan pengalaman baru, dimana gw melihat tentara-tentara Jerman dengan tanda Nazi dilengan siap memangsa siapa saja yang datang ke wilayah mereka. Kali ini gw tidak melihat SS yang siap dengan senjata di tangan, yang dengan gampangnya menghamburkan peluru dan membunuh orang tak bersalah. Para Zombie berbalut pakaian tentara Jerman ini hanya membawa pisau kadang hanya tangan kosong, tapi jangan salah tangan-tangan busuk dan gigi-gigi tajam itu siap merobek perut hingga mengeluarkan isinya.

Malang nasib 7 orang mahasiswa kedokteran yang berencana menghabiskan liburan di sebuah pondok dengan pemandangan indah pegunungan bersalju sekelilingnya. Diawali dengan senang-senang bermain salju, bersenda-gurau dengan teman, menikmati hawa dingin, namun sayangnya waktu yang diberikan untuk mereka bersenang-senang akan habis. Sebuah cerita penduduk setempat yang mereka anggap lelucon dan mitos belaka lambat laun menjadi kenyataan. Teror pasukan zombie dari masa perang dunia ke-2 menghampiri mereka satu persatu. Apa yang selama ini hanya sebuah tontonan di film-film horror, zombie-zombie itu sekarang ada di hadapan mereka. Siap berpesta daging manusia.

Bersiaplah untuk terkaget-kaget di film ini, karena emang cukup banyak scene-scene yang dipersiapkan untuk membuat penontonnya loncat dari tempat duduk mereka. Tapi yang lebih mengejutkan bukanlah adegan yang membuat kaget itu atau adegan-adegan menjijikan khas film-film gore sejenis, seperti banjiran darah dan isi perut yang berserakan. Film ini menawarkan formula film zombie dengan tempelan-tempelan humor boleh dibilang black comedy, walah gw sendiri nga ngerti artinya. Hahahaha…

Cukuplah adegan-adegan yang menurut gw lucu ini membuat gw tertawa walau sebenarnya adegan seperti usus yang nyangkut di ranting pohon bukanlah suatu lelucon. Padahal awal film, menjanjikan sekali ketegangan yang dibuat, gw kira juga bakal sampe akhir digiring ke super-duper-tegang. Ternyata diluar dugaan, gw puas dengan film yang zombienya bisa lari di antara pepohonan, muncul seketika dari dalam salju, dan dibalut sedikit berbeda agar kita bisa tertawa. Serius, percaya deh lo bakal ketawa.

Seperti filmnya yang unik, dengan ketegangan yang diciptakan lewat environment-nya yang mendukung banget, coba bayangin lo dikejar zombie tentara Nazi untuk lari aja susah payah karena daerah bersalju plus hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Karakteristik mayat hidup disini juga dibuat agak berbeda. Biasanya kita hanya melihat zombie yang kerjanya jalan melambat lalu makan daging atau zombie yang bisa berlari lalu ujung-ujungnya yah makan daging juga. Nah, disini zombienya….hahaha nonton sendiri deh biar penasaran. Klo semuanya diceritain kan jadi nga seru. Wajib nonton deh bagi penggemar film zombie.

——————————-
Rating 4/5

Star Trek

Attention crew of the Enterprise, this is James Kirk. Mr. Spock has resigned commission and advanced me to acting captain. I know you are all expecting to regroup with the fleet, but I’m ordering a pursuit course of the enemy ship to Earth. I want all departments at battle stations and ready in ten minutes. Either we’re going down… or they are. Kirk out. ~Kirk

Gw bukan penggemar fanatik Star Trek atau sering disebut dengan Trekkie, dan ini adalah film Star Trek pertama yang gw tonton full di biokop. Karena selama ini gw hanya pernah nonton di televisi, itu juga nga sampe habis, kadang cuma nonton dari tengah film. Jadi pengetahuan gw tentang Enterprise, Mister Spock, dan Sang Kapten Kirk amat sangat dangkal. Thanks to J.J. Abrams yang sudah mengenalkan kembali film yang terkenal dengan quote “Live Long and Prosper” ini dari awal muasalnya.

Semenjak liat trailernya, yang hanya memperlihatkan pesawat Enterprise yang sedang dibangun, gw emang udah penasaran sejak saat itu. Trailer berikutnya pun makin membuat penasaran untuk menonton, apalagi terlihat efek-efek yang luar biasa menarik. Selebihnya gw adalah penggemar Star Wars dan Science Fiction, jadi cukuplah motivasi gw untuk ngacir ke bioskop ketika filmnya rilis.

Betul saja, ekspektasi yang berlebihan untuk film ini, akhirnya terbayarkan dengan kepuasan. Gw bener-bener puas menonton 127 menit di dalam bioskop, tanpa berkedip, begitu serius menonton, sampe wanita cantik disebelah agak gw cuekin-karena dia juga kayanya serius nontonnya. Hahahahahaha. Saking terpesona dengan kecantikan efek yang ditawarkan Star Trek, kaki yang pegel dan lumayan mengganggu ini terlupakan.

Maaf, klo sekali lagi review gw terlalu bertele-tele dan agak lebay, tapi film ini memaksa gw untuk terus berlebay ria. Awalnya sempet kaget dengan perkenalan pertama ceritanya, dalam pikiran gw “lho ini sapa?” lalu “nah ini kok ceritanya begini?” dan bla-bla-bla. Tapi segera cerita mengalir dengan alur yang tidak begitu complicated untuk seorang penonton Star Trek newbie seperti saya. Satu-persatu karakter penting mulai diperkenalkan, walau dominasi peran ada di dua karakter terkenalnya Kirk dan Spock, namun karakter lain dapat mengisi perannya dengan sangat baik.

Tidak ada peran yang sia-sia disini, semua tampil bagus tak terkecuali karakter Chekov, dengan logat khas Rusia berhasil menyita perhatian disini. Sesekali film ini juga berhasil memancing gelak tawa, apalagi setelah kemunculan Simon Pegg untuk peran Montgomery Scott. Sebenarnya peran dia cukup serius disini dan gw menantikan kemunculan nih orang dari awal film, cuma Simon membawakan karakternya dengan lucu, dengan dialog-dialog yang bisa membuat kita tertawa.

Dengan efek visual yang luar biasa namun juga tidak berlebihan, gw terpukau dengan visualisasi planet-planet, kota masa depan yang megah, apalagi pesawat enterprisenya sendiri. Ditambah lagi cerita yang disajikan disini bener-bener tidak saja untuk konsumsi trekkie, tapi juga memanjakan mereka yang non-trekkie termasuk gw. Amatlah mungkin akan bermunculan fans-fans baru setelah menonton film ini. Overall, film terbaik musim panas tahun ini yang wajib tonton, bagi mereka yang suka science fiction, trekkie ataupun non-trekkie, dijamin tidak mengecewakan. Gw sendiri pengen banget nonton film ini untuk kedua-kalinya. Live Long and Prosper.

——————————-
Rating 4.5/5

Rescue Dawn

When I was uhh… five or somethin’, I was looking out the window, with my brother… and we see this fighter plane was coming right at us. I was not scared. I was mesmerized! Because for me, this pilot was this all-mighty being from the clouds. From that moment on, I knew I wanted to be him. I wanted to be one of them. I wanted to be a pilot. ~Dieter

Untuk kedua kalinya Christian Bale berperan abis-abisan sampe harus kurus kering setelah The Machinist. Kali ini pemeran superhero batman harus merelakan dirinya tampak seperti orang tidak makan berbulan-bulan demi peran seorang tawanan pada masa perang Vietnam. Seorang pilot di angkatan laut, yang sayangnya pada misi pertamanya harus tertembak jatuh dan jadi tawanan sekelompok tentara milisi.

Rescue Dawn, merupakan film war-survival yang menitik beratkan bagaimana upaya Dieter (Bale) setelah jatuh dari pesawat lalu mencoba tidak tertangkap. Namun ketidakberuntungan, menyebabkan dia akhirnya tertangkap oleh kelompok milisi setempat. Berstatus sebagai tawanan perang, Dieter harus merasakan perlakuan tidak menyenangkan, sepanjang perjalanan menuju kamp tempat dimana Dieter akhirnya akan tinggal. Cerita lalu berlanjut dengan upaya Dieter untuk selamat dan berusaha kabur dari kamp tersebut.

Seperti kembali menonton Empire of The Sun, dimana Bale kecil juga ditawan ketika itu oleh tentara Jepang, kali ini Bale kembali menjadi tawanan dan berusaha untuk tetap hidup. Gw suka aktingnya yang berbeda jauh dari kesan superheronya, Bale emang aktor dengan seribu wajah, dia bisa jadi apa aja. Secara keseluruhan, disamping berdasarkan kisah nyata, ceritanya cukup bagus walau tidak terlalu menyentuh seperti hal-nya khas film-film serupa.

——————————-
Rating 3/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - The Invitat...
Review - 3 Srikandi
Review - Lights Out