Review – Kulari Ke Pantai

written by Rangga Adithia on July 6, 2018 in Children and CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku. Kulari ke pantai kemudian teriakku. Sepi, sepi dan sendiri, aku benci. Aku ingin bingar aku mau di pasar. Puisi Rangga yang ditulis 16 tahun silam tersebut memang tidak ada kaitan sama sekali dengan film Kulari Ke Pantai, apalagi dengan Ada Apa Dengan Cinta? (tapi mungkin keduanya ada dalam universe yang sama, mengingat kemunculan karakter Milly dan Mamet di awal film). Saya hanya seketika teringat puisi itu, karena kesamaan kandungan kalimat “Kulari ke pantai” yang kemudian dijadikan judul oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Sesuai judulnya, kita nantinya memang bakal diajak “lari” mengikuti si anak pantai, Sam (Maisha Kanna) beserta ibunya, Uci (Marsha Timothy) dan juga sepupu Sam, Happy (Lil’li Latisha), dalam sebuah road trip yang menyenangkan dari Jakarta menuju Banyuwangi. 1000 kilometer menelusuri pesisir pulau Jawa, menikmati pantai-pantai yang indah, berpetualang ke tempat-tempat yang seru, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Saya seperti ikutan duduk di mobil, di belakang Happy yang mainan handphone melulu, dengarkan cerita-cerita yang hadirkan senyum lebar dan hati senang.

Tiba di Rote, Nusa Tenggara Timur, saya tidak sekedar disambut oleh hangatnya hamparan pasir pantai, tapi juga dirangkul oleh keramahtamahan penduduknya. Sam pun muncul, tebarkan keriangan dan keceriaan diantara barisan anak-anak berseragam putih merah yang baru saja pulang sekolah. Wajar saja melihat raut wajah Sam yang berseri-seri menghantarkan kegembiraan, libur telah tiba, hore-hore-hore, sudah waktunya melaksanakan misi penting yang lama direncanakan, jalan-jalan berdua bareng sang Bunda, dari Jakarta dan berakhir bertemu dengan surfer idola Sam, di pantai G-Land. Saya lalu bertemu dengan Happy, berbanding 180 derajat dengan Sam, anak kota yang tak pernah lepas dari telepon genggam, dan ngomongnya Inggris melulu seperti Kak Cinta Laura. Dulu Sam akrab sekali dengan Happy, terpisahkan oleh jarak dan jarang bertemu tampaknya membuat keakraban tersebut terkikis, sekarang keduanya terlihat layaknya air bercampur dengan minyak. Misi pun sedikit berubah, untuk menyatukan lagi hubungan Sam dan sepupunya itu, Happy pun dipaksa ikut road trip. Tidak sabar untuk memulai perjalanan, pastinya akan mengasyikkan.

Tepat rasanya pemberian judul Kulari Ke Pantai, tidak sekedar mewakili suasana pantai yang nantinya mendominasi durasi, tapi mendengar kalimatnya saja, kita sudah bisa mencium aroma kegembiraan. Membayangkan kaki terkubur hangat pasir, tubuh terhempas gulungan ombak, kulit dihitamkan sengat matahari, lidah berubah jadi asin, dan angin berhembus menerpa wajah kala mata terpejam. Oh, nikmat sekali ajakan Kulari Ke Pantai ini, apalagi saya jarang jalan-jalan. Digodok keroyokan oleh Gina S Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Arie Kriting, Kulari Ke Pantai melaju dengan penceritaan yang ringan, ditemani dialog-dialog yang ikut membawa kita terasa ada dalam obrolan menyenangkan. Sambil menyisip pesan yang mengedukasi tanpa terdengar menggurui, membiarkan penontonnya untuk belajar dan terinspirasi, bahkan dari adegan yang terlihat sederhana, seperti saat Sam dengan heroik membela Happy dari ancaman Wahyu dan gengnya. Saya pun ikut memetik pelajarannya, bukan hanya mereka, penonton anak-anak yang juga diharapkan nantinya tak saja membawa pulang kegembiraan, tapi juga nilai-nilai kebaikan yang tersebar di Kulari Ke Pantai.

Pemandangan indah dan tempat seru tentunya membuat jalan-jalan Sam makin menyenangkan, dari menceburkan diri ke pantai Watu Karung, di Pacitan hingga menyaksikkan matahari terbit di Bromo. Kulari Ke Pantai bakal memanjakan kita dengan pesona alam Pulau Jawa yang dipresentasikan penuh keagungan melalui sinematografi olahan Gunnar Nimpuno (Rindu Purnama, 2011), termasuk ketika kita diajak bersafari-ria ke Taman Nasional Baluran. Namun, Kulari Ke Pantai tak hanya melulu soal tempat wisata, karena sisi penceritaannya pun menghadirkan atraksi sekaligus interaksi yang menarik antara karakter-karakternya, antara Ibu dan Sam, begitu pun antara Sam dengan Happy. Jalan-jalan yang tidak hanya beri pengalaman menyenangkan melancong ke lokasi-lokasi yang fantastis, Kulari Ke Pantai juga memberikan kenangan manis, khususnya tentang pertemanan sejati yang sebenarnya, tidak pura-pura. Ditemani lagu-lagu yang mengajak bernyanyi, film garapan Riri Riza ini meluncur mulus jadi sebuah tontonan yang tulus menghibur untuk seluruh keluarga. Ada tawa, ada suka, ada gembira, ajak bermain, dan ajak belajar, film liburan yang berkualitas.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Some Kind o...
Review - Munafik (20...
Review - Don't Breat...
Review - Ouija: Orig...