Review – Hereditary (2018)

written by Rangga Adithia on June 29, 2018 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Hereditary dibuka dengan adegan sederhana yang tak saja menggugah selera dan memantik rasa ingin tahu, Ari Aster juga sebenarnya memberikan petunjuk kecil disana, ketika kamera bergerak perlahan semakin mendekat ke “rumah boneka” buatan Annie Graham (Toni Collette). Sebuah petunjuk dengan keyword diawasi dan dikendalikan kemudian merangsang pertanyaan “oleh siapa?”, dan agar tahu jawabannya kita pun “dipaksa” untuk menelusuri dua jam kekacauan bercampur kegilaan yang diciptakan Ari Aster. Mengasyikkan mungkin kata yang tak pantas untuk menyebut apa yang sudah dipertontonkan Hereditary, apalagi bagi mereka yang menonton film horor hanya untuk menunggu dikagetkan penampakan atau jumpscare dedemit celangap berkali-kali. Toh, buat gue yang penakut bin cemen, sumber ketakutan bukan hanya datang dari sesuatu yang sengaja dibuat terlihat, tapi bisa juga hadir dalam bentuk sesuatu yang tak diketahui, tidak diperlihatkan dan disembunyikan dari kedua bola mata. Itulah yang menurut gue justru paling menakutkan, ketika gue hanya bisa menerka-nerka dan diteror oleh perwujudan imajinasi kepala yang sedang dikacaukan.

Gue tidak akan banyak mengumbar kejutan-kejutan yang dimiliki Hereditary, tak asyik kalau tahu semuanya. Biarkan ketidaktahuan itu menjadi modal untuk kita bertemu dengan Annie, beserta keluarganya yang kacau setelah ditinggal pulang ke rahmatullah oleh Ibunya, nenek dari Charlie (Milly Shapiro) yang gemar sekali menggambar dan Peter (Alex Wolff) yang doyan ngebaks. Hereditary adalah jenis tontonan yang semakin sedikit kita tahu, maka tingkat kenikmatan menontonnya pun jadi meninggi, apalagi jika kita membeli tiket tanpa berekspektasi aneh-aneh dan macam-macam, termasuk ingin dikejutkan penampakan arwah gentayangan berambut panjang-lepek dan berdaster putih-putih. Ari Aster tidak menawarkan horor semacam itu di Hereditary, akan ada sesuatu yang mengejutkan, tapi tidak diposisikan untuk menakuti hingga kita membaca ayat kursi berulang-ulang, Ari justru ingin penontonnya lebih merasa traumatik ketimbang ketakutan. Oh, tidak berarti Hereditary tak punya momen-momen menyeramkan, Ari punya beberapa adegan yang masih punya kesanggupan untuk membuat bulu kuduk kita berdiri, merasakan efek merinding dan berdebar.

Bagi yang terbiasa melahap horor dengan pendekatan slow-burn, mungkin bakal tidak asing dengan cara Ari Aster menuturkan cerita dan men-setup horornya, ya karena nantinya durasi yang dimiliki Hereditary lebih banyak tersita untuk tidak saja memperkenalkan tiap karakternya, tapi juga memberi kesempatan karakter-karakter tersebut “merangkul” penontonnya, demi memuluskan “niat licik” yang sudah disiapkan oleh Ari Aster. Seperti Pyewacket, karakter-karakter yang nanti berseliweran di Hereditary memang hadir bukan sekedar untuk mengobrol atau berteriak-teriak atau celangap histeris saja, mereka punya tugas bangsat masing-masing untuk memprovokasi emosi sekaligus mengendalikan apa yang harusnya kita percaya, memperdaya apa yang kita lihat dan mengaburkan mana yang tidak nyata dan realita. Didukung pula oleh performa akting yang luar biasa, terutama dari Toni Collette, upayanya begitu habis-habisan untuk mengajak penonton ikut menjadi sinting melalui karakter Annie Graham. Kegilaan makin lengkap tatkala Milly Shapiro dan Alex Wolff juga mampu tampil memukau menghidupi karakter yang berstatuskan “anak-anak kacau”.

Ari Aster tidak akan terburu-buru membuat kepala kita gosong terbakar, bahkan separuh pertama Hereditary justru terlihat seperti drama keluarga disfungsional dengan segala sisipan intrik dan konflik yang terkadang disturbing dan membuat bola mata kita berputar. Selagi kita dipertontonkan keluarga Annie yang semakin kacau, disanalah niat busuk Ari Aster mulai tercium, perlahan-lahan kepala terisi oleh gambar-gambar yang mengganggu dan menyakitkan. Tanpa kompromi, Ari tega melakukan apa saja (iya, apa saja!) demi tujuannya membuat penonton jadi merasa tak nyaman, penuh prasangka tidak karuan, dan tercekik rasa gelisah tak mengenakan. Pada saat penonton sudah dikacaukan secara psikis maupun emosi barulah Hereditary menyibak kengerian yang sebenarnya, dan ngehenya Ari pun tahu bagaimana mempresentasikan horornya, seperti menghujamkan pisau yang berkarat-hitam-hitam-bernoda ke kepala berkali-kali. Apa yang telah disuguhkan oleh Hereditary jelas akan membekas lama, mimpi buruk yang bakalan sulit kita lupakan, Ari Aster memberikan pengalaman horor yang mengerikan hingga bikin mulut gue lupa untuk berteriak “anjing!”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Warkop DKI ...
Review - Before I Wa...
Review - The Guys (2...