Review – Pyewacket (2017)

written by Rangga Adithia on May 18, 2018 in Canadian Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Dibalik fungsinya untuk menghibur, Pyewacket kembali memperlihatkan bahwa sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia, makhluk yang dilaknat dengan segala tipu daya untuk menjerumuskan kita ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Syaitan akan melakukan segala macam trik untuk membuat manusia pada akhirnya lupa mengingat Tuhan, lupa ketika syaitan menghampiri, maka kita bisa meminta perlindungan kepada-Nya. Tidak demikian dengan Leah, di tengah rasa dukanya ditinggal pergi sang Ayah, ditambah keretakan hubungan dengan Ibunya, Leah justru tergoda oleh the dark side, melampiaskan kesedihan dan kebenciannya ke hal-hal berbau klenik yang menyesatkan. Pertengkarannya yang berlarut-larut dengan Ibunya berujung pada ritual occult yang dipelajarinya lewat buku-buku bergambar pentagram. Leah pergi ke hutan, bermodalkan sajen berupa potongan rambut dan semangkuk susu sapi, serta keinginan membunuh Ibunya sendiri. Berhati-hatilah dengan keinginanmu, karena sesuatu di luar sana bisa saja mendengarkan. Terlambat bagi Leah untuk menyesali, karena penghuni hutan sudah mendengarkan keinginannya.

Pendekatan horor yang ditawarkan oleh Adam MacDonald (Backcountry) dalam Pyewacket tidak saja menarik, tapi bisa dibilang langka, disaat kebanyakan horor yang belakangan bergentayangan terfokus pada penampakan hantu atau gambar sadis berlumur darah. Ada kesamaan dengan The Blackcoat’s Daughter, dari cara si pembuat film menyampaikan cerita dan menggiring penontonnya untuk takut, sekaligus terganggu tak nyaman secara emosional. Alur penceritaan pun digenjot tidak tergesa-gesa—film yang dibintangi Emma Roberts pun begitu, membiarkan penonton untuk berkenalan akrab dengan karakter-karakter dalam film. Karena nantinya Pyewacket memang sangat bergantung pada karakter utamanya, bukan sekedar medium untuk merangsang simpati dan emosi, tapi juga berperan untuk mempengaruhi kita selama 80 menit. Leah dihadirkan untuk mengacaukan otak, mempermainkan psikologis, dan memperdaya bola mata penontonnya. Tuturan cerita yang terasa merangkak justru tidak sedikitpun memunculkan bosan, Adam sebaliknya bisa memanfaatkan dengan amat cermat untuk secara perlahan-lahan membangun horor yang efektif menakuti.

Kesempurnaan hanya dimiliki pencipta alam semesta, Pyewacket tentunya tidak luput dari kekurangan, tapi gue kemudian tidak terlalu perduli dengan beberapa bagian akting yang kaku atau muatan dialognya yang terdengar recehan. Biarlah, setidaknya Adam sudah memberikan film horornya kelebihan yang cukup hingga gue tidak punya waktu untuk mencari-cari kesalahan (lagi). Gue lebih baik fokus menikmati kegelapan yang menyelimuti Pyewacket, menikmati nada-nada bising yang dibawakan oleh Carach Angren. Sehitam riasan Dennis “Seregor” Droomers, penceritaan film yang sempat tayang di Toronto International Film Festival pada tahun 2017 ini, sejak awal memang mengandung tema yang gelap ditemani oleh unsur-unsur occult yang ringan. Bahasan ilmu hitam dipadukan dengan gelapnya black metal jadi alasan gue mencatat judul film yang dibintangi Laurie Holden ini di kertas pembungkus pecel ayam, supaya tidak lupa ditonton ketika filmnya rilis (sayangnya memang bukan di bioskop). Pyewacket tak hanya cocok bagi mereka yang demen cadas-cadasan, tapi bisa juga dinikmati penonton horor non anak metal yang mencari tontonan berkualitas.

Sederhana dalam menakut-nakuti, bahkan sangat minim penampakan dan jarang suguhan jump scare, malah tidak ada secuil pun seingat gue. Penghuni hutan ada ditampakkan, tapi Pyewacket mencoba seminimal mungkin memunculkan sosok yang dipanggil Leah tersebut, karena sumber ketakutan yang sebenarnya toh tak datang dari melihat setan, hantu, jin, iblis, dedemit apapun itu sebutannya. Adam terpaku untuk mengajak gue ketakutan karena pengaruh si karakter utama, kita tanpa sadar ikut merasakan penyesalan yang membebani pikiran Leah, apa yang dia lakukan di hutan mulai perlahan menggerogoti kewarasannya, meneror jiwa, serta menyesatkan seluruh inderanya. Ketika Leah makin ketakutan, Adam tidak menyia-nyiakan momen tersebut untuk menggiring gue pelan-pelan masuk lebih dalam ke sebuah perangkap yang telah disiapkan, tentu saja diiming-imingi oleh rasa penasaran yang kian meninggi. Adam memang setan, trik menakutinya yang terkesan simple justru mampu menciptakan efek cekam dan daya cengkram yang maksimal. Butuh kesabaran ekstra, tetapi setimpal dengan apa yang sudah diberi Pyewacket, pengalaman amat menakutkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Indonesia K...
Review - Don't Breat...
Review - Ouija: Orig...
Review - Get Out (20...