<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="0.92">
<channel>
	<title>raditherapy</title>
	<link>http://raditherapy.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 13:27:38 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	<!-- generator="WordPress/3.1.2" -->

	<item>
		<title>Review: Safe</title>
		<description><![CDATA[Kecuali Nicolas Cage, sepertinya hanya nama Jason Statham yang dipanggil jika ada sebuah film yang membutuhkan aktor dengan pose membosankan di posternya. Yup pistol dan Jason Statham (The Expendables) sepertinya sudah menjadi satu paket, berapa kali kita melihat sebuah poster film yang memajang namanya, pasti lengkap dengan senjata ditangan. Seperti juga posternya yang biasanya mengandalkan [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/05/review-safe/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: Lovely Man</title>
		<description><![CDATA[“Indah…”, ya itulah ungkapan sederhana yang keluar bukan dari mulut yang sedang terbungkam, namun dari hati yang tampaknya baru saja tersentuh oleh sebuah film yang dengan sederhana merajut kata i-n-d-a-h dengan… yah indah. Walaupun saya terlihat diam ketika barisan kredit meluncur, didalam sana, emosi masih terkoyak-koyak dan hati terlentang dengan senyum lebar, tampak puas setelah [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/05/review-lovely-man/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: Modus Anomali</title>
		<description><![CDATA[“Jangan sok pintar, tak perlu repot mencari-cari kesalahan dalam film, tak perlu pusing dulu mencoba menjawab semua pertanyaan, nikmati saja permainan yang akan disodorkan oleh Joko Anwar”. Formula sederhana itulah yang saya terapkan ketika menonton “Modus Anomali”, walaupun keinginan untuk menebak-nebak siapa orang yang berada di balik semuanya, memang secara naluri muncul begitu saja ketika [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/05/review-modus-anomali/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: Angkara Murka (Amphibious)</title>
		<description><![CDATA[Jika tidak salah ingat, pertama kali mendengar soal proyek “Amphibious”—yang sekarang diberi judul “Angkara Murka”—adalah pada tahun 2008 silam, dari sebuah forum terbesar di Indonesia, tempat saya pertama kali menulis review di salah-satu thread-nya. Sebelum saya curhat lebih panjang, mari kembali fokus ke “Amphibious”, dengan embel-embel 3D, tentu saja film ini ditunggu, apalagi pada waktu [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/04/review-angkara-murka-amphibious/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: The Devil Inside</title>
		<description><![CDATA[Saya tak pernah bosan dengan yang namanya found footage—seperti saya juga tidak pernah bosan dengan zombie—walau kebanyakan orang yang menonton “The Devil Inside” akan mencibir “Paranormal Activity banget&#8230;”, yah kedua film horor tersebut memang dikemas serupa, tapi bukan berarti sama isi, dan found footage atau disebut juga dengan mockumentary bukan milik franchise “Paranormal Activity” (PA). [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/04/review-the-devil-inside/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: 21 Jump Street</title>
		<description><![CDATA[Tampaknya saya masih bisa menghitung film-film layar lebar yang didasarkan serial televisi tahun 80-an, yang terbilang sukses, tidak hanya di mata kritikus tapi secara komersil juga tentunya, setidaknya “bagus” di mata saya yang amatiran ini, well film “The A-Team” salah-satunya, memang banyak “bolong”-nya dan tidak terhindar dari cercaan kritikus film, tapi jujur sebagai hiburan, ini [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/04/review-21-jump-street/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: REC 3: Genesis</title>
		<description><![CDATA[Seri “REC” yang dimulai pada tahun 2007 oleh duo sutradara asal Spanyol Jaume Balagueró dan Paco Plaza bisa dibilang membawa genre film zombie ke level yang baru, “mayat hidup”-nya masih tetap sama, jelek dan doyan menggigit, yang berbeda adalah sumber infeksinya dan kemasan yang membalut film tersebut. Jaume dan Paco mengaplikasikan dokumenter palsu, atau saya [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/04/review-rec-3-genesis/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: 30 and Fabulous</title>
		<description><![CDATA[Soal horor, negeri gajah putih Thailand bisa dibilang salah-satu penghasil film-film pembuat jerit yang sukses di Asia, selain Jepang dan Korea Selatan. Terbukti setiap saya bertanya film horor favorit dari Asia kepada beberapa orang teman yang saya akui demen horor dan kebetulan juga ada yang bertampang horor, mereka pastinya spontan memasukkan film macam “Shutter” di [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/03/review-30-and-fabulous/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: Keumala</title>
		<description><![CDATA[“Indah”, itulah respon pertama saya ketika melihat trailer-nya untuk pertama kali, “Keumala” bisa saja jadi film cinta-cinta-an yang beda, walau di sinopsisnya saya lagi-lagi menemukan nama penyakit, kali ini retinitis pigmentosa―sebuah penyakit menurun yang bisa berujung pada kebutaan―apakah film ini sama saja dengan drama romantis kebanyakan, yang seenak-jidatnya mengeksploitasi emosi penonton lewat karakternya yang pesakitan [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/03/review-keumala/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Review: Negeri 5 Menara</title>
		<description><![CDATA[Dua film komedi romantis (Aku atau Dia, HeartBreak.com), dua film thriller (The Perfect House, Pencarian Terakhir), sampai sekarang Affandi Abdul Rachman (AAR) bisa dibilang sutradara yang tidak pernah mengecewakan saya. Menggarap komedi romantis, AAR sukses membuat saya galau sekaligus tertawa terpingkal-pingkal dan untuk urusan thriller, AAR juga sanggup mengurung saya dalam ketegangan yang mengasyikan, “asyik” [...]]]></description>
		<link>http://raditherapy.com/2012/03/review-negeri-5-menara/</link>
			</item>
</channel>
</rss>

