Review: Modus Anomali

“Jangan sok pintar, tak perlu repot mencari-cari kesalahan dalam film, tak perlu pusing dulu mencoba menjawab semua pertanyaan, nikmati saja permainan yang akan disodorkan oleh Joko Anwar”. Formula sederhana itulah yang saya terapkan ketika menonton “Modus Anomali”, walaupun keinginan untuk menebak-nebak siapa orang yang berada di balik semuanya, memang secara naluri muncul begitu saja ketika film bergulir dari menit ke menitnya. Read more »
Review: Angkara Murka (Amphibious)

Jika tidak salah ingat, pertama kali mendengar soal proyek “Amphibious”—yang sekarang diberi judul “Angkara Murka”—adalah pada tahun 2008 silam, dari sebuah forum terbesar di Indonesia, tempat saya pertama kali menulis review di salah-satu thread-nya. Sebelum saya curhat lebih panjang, mari kembali fokus ke “Amphibious”, dengan embel-embel 3D, tentu saja film ini ditunggu, apalagi pada waktu itu 3D bisa dibilang masih baru, belum berjamur seperti sekarang ini. Read more »
Most Anticipated Movie: Modus Anomali

Pertama kali melihat judul “Modus Anomali”, saya jadi ingat petunjuk jalan di film “Pintu Terlarang” (2009), yup salah-satu keisengan seorang Joko Anwar adalah dia selalu menaruh clue proyek film selanjutnya di filmnya yang sedang tayang. Seperti misalnya lagi poster “Kala” (2007) yang menyempil terpajang di antara poster-poster film bioskop di “Janji Joni” (2005). Setelah menunggu 3 tahun, akhirnya Joko kembali menyemarakan perfilman nasional yang masih saja “dikotori” film-film nan “ajaib” itu. Read more »
Review: Haywire

“Haywire” bukanlah “Salt” atau “Colombiana”, dan ketimbang memakai aktris yang terkenal untuk berakting sok jagoan, Steven Soderbergh justru lebih memilih Gina Carano yang memang jagoan. Seperti cara uniknya memilih peran utama di film aksi pertamanya ini, Soderbergh juga punya cara unik, yang bisa dibilang sudah menjadi ciri khas di film-film sebelumnya, kali ini ia ingin coba presentasikan dalam sebuah kemasan film aksi. Saya tahu, ketika melihat font ramping bertuliskan “Upstate New York” di awal film, Read more »
Review: Contraband

Mark Wahlberg memang tidak terdaftar sebagai anggota “Ocean’s Eleven”, tapi pria kelahiran 5 Juni 1971 ini tercatat dalam kelompok klub mini cooper yang berisikan para pencuri berkelas, bernama “The Italian Job”. Sederet film action, diantara film serius dan komedi, pernah dia mainkan, jadi tampaknya di “Contraband”, Wahlberg bisa memerankan Chris Farraday, seorang mantan penyeludup, sambil tidur. Chris diceritakan sudah lama “pensiun” dari pekerjaan kotornya dan hidup secara normal dengan pekerjaan halal, di bidang jasa pemasangan alarm. Read more »
INAFFF 2011: FISFiC vol. 1

Salah besar kalau ada yang bilang Indonesia tidak bisa bikin film horor yang “bener”, ya walau kenyataannya memang lebih banyak horor mesum bin nga jelas yang seliweran di bioskop, makin kesini kualitasnya makin lompat ke belakang, bisa dibilang horor yang “terbelakang”. Saya tidak akan ngomongin film terbarunya KKD, otak saya makin tidak bisa mengimbangi kecerdasannya dalam membuat film-film non-tontonan-manusia itu, dan jangan ingatkan saya dengan “Arwah Kuntilanak Duyung” Read more »
INAFFF 2011: The Incident

Apa kesamaan zombie sama orang-orang gila di “The Incident”, mereka akan menyerang manusia normal, zombie pasti dong nga bakal nyerang sesama zombie, mening nyerang orang yang hidup untuk dimakan, nah orang gila di film ini juga gitu, lebih memilih buat nyerang orang yang nga gokil, ketimbang teman sesama penghuni rumah sakit jiwa. Duh dibilang rumah sakit jiwa biasa juga salah, ini lebih kaya penjara buat para kriminil yang otaknya sudah nga berfungsi dengan sebagaimana mestinya, Read more »
INAFFF 2011: Hobo with a Shotgun

Film keren itu tidak harus yang dipenuhi nama-nama terkenal atau masuk daftar nominasi Oscar, lupakan film-film serius yang kadang membuat otak ini kelelahan mencerna setiap gambarnya, “Hobo with a Shotgun” adalah salah-satu contoh film masterpiece yang bisa dinikmati tanpa perlu menyetel otak ini diposisi tombol “on”. Dari hanya trailer palsu di double feature-nya Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez, “Grindhouse”, yang disitu juga ada “Machete”, Read more »
INAFFF 2011: Claypot Curry Killers

“Mrs. Chew, karinya terasa berbeda, apakah kau menambah bumbu baru?”, seorang ibu-ibu gemuk langganan warung makan pinggir jalan milik Chew (Pearlly Chua) bertanya sambil melahap daging di semangkuk kari. Chew tampak kebingungan menjawab, namun dengan dingin dia merespon, “Iya, saya menambah bumbu baru, kenapa memang?”, dan sang pelanggan menjawab, “Tidak apa-apa, kari ini enak sekali”. Setelah percakapan itu, Chew tampak memperhatikan dengan hati-hati para pelanggannya Read more »
Review: The Perfect House

Judulnya memang bule, tapi “The Perfect House” film Indonesia kok, disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara film komedi romantis, dua judul hasil garapannya adalah “HeartBreak.com” (2009) dan “Aku atau Dia” (2010). Well, bersama “The Perfect House”, Affandi dibawa kembali ke ranah film thriller, sebuah genre yang tidak lagi asing baginya, itu karena “Pencarian Terakhir” yang merupakan debut filmnya memang mengusung tema thriller. Read more »
Recent Posts
- Review: Safe
- Review: Lovely Man
- Review: Modus Anomali
- Review: Angkara Murka (Amphibious)
- Review: The Devil Inside
- Review: 21 Jump Street
- Review: REC 3: Genesis
- Review: 30 and Fabulous
- Review: Keumala
- Review: Negeri 5 Menara
- Review: Dilema
- The 84th Annual Academy Awards Winners
- Oscar 2012: Live Blog dan Prediksi
- The 2nd Indonesian Movie Bloggers Choice Awards Winners
- Review: The Artist
Recent Comments
- trifajar on Review: The Devil Inside
- raditherapy on Review: Lovely Man
- Erna on Review: Lovely Man
- firman on Review: Night of the Living Dead (1968)
- mad on Review: Haywire
- frano on Review: The Devil Inside
- Budi M on Review: Poconggg Juga Pocong
- Budi M on Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance
- Budi M on Kepergok Pocong: Dimana Ada Nayato Disitu Ada Pocong (Part 2)
- Cool Jerk on Review: REC 3: Genesis




Posted under:



