Review: Lovely Man

“Indah…”, ya itulah ungkapan sederhana yang keluar bukan dari mulut yang sedang terbungkam, namun dari hati yang tampaknya baru saja tersentuh oleh sebuah film yang dengan sederhana merajut kata i-n-d-a-h dengan… yah indah. Walaupun saya terlihat diam ketika barisan kredit meluncur, didalam sana, emosi masih terkoyak-koyak dan hati terlentang dengan senyum lebar, tampak puas setelah melahap tujuh puluh lima menit keindahan yang disodorkan oleh Teddy Soeriaatmadja, Read more »
Review: Modus Anomali

“Jangan sok pintar, tak perlu repot mencari-cari kesalahan dalam film, tak perlu pusing dulu mencoba menjawab semua pertanyaan, nikmati saja permainan yang akan disodorkan oleh Joko Anwar”. Formula sederhana itulah yang saya terapkan ketika menonton “Modus Anomali”, walaupun keinginan untuk menebak-nebak siapa orang yang berada di balik semuanya, memang secara naluri muncul begitu saja ketika film bergulir dari menit ke menitnya. Read more »
Review: Keumala

“Indah”, itulah respon pertama saya ketika melihat trailer-nya untuk pertama kali, “Keumala” bisa saja jadi film cinta-cinta-an yang beda, walau di sinopsisnya saya lagi-lagi menemukan nama penyakit, kali ini retinitis pigmentosa―sebuah penyakit menurun yang bisa berujung pada kebutaan―apakah film ini sama saja dengan drama romantis kebanyakan, yang seenak-jidatnya mengeksploitasi emosi penonton lewat karakternya yang pesakitan atau sebentar lagi mau mati. Read more »
Review: Negeri 5 Menara

Dua film komedi romantis (Aku atau Dia, HeartBreak.com), dua film thriller (The Perfect House, Pencarian Terakhir), sampai sekarang Affandi Abdul Rachman (AAR) bisa dibilang sutradara yang tidak pernah mengecewakan saya. Menggarap komedi romantis, AAR sukses membuat saya galau sekaligus tertawa terpingkal-pingkal dan untuk urusan thriller, AAR juga sanggup mengurung saya dalam ketegangan yang mengasyikan, “asyik” itulah kata yang tepat untuk menggambarkan film-filmnya. Read more »
Review: Dilema

Walau diberi label omnibus, terdiri dari lima cerita dan digarap oleh sutradara yang berbeda, “Dilema” dipresentasikan agak berbeda dengan film berjenis sama seperti “Jakarta Maghrib”, yang setiap segmennya diceritakan satu-persatu, disertai dengan judul juga, satu segmen selesai baru pindah ke segmen lain, tetap akan ada benang merah yang mengikat semua segmen. Sedangkan “Dilema” memilih untuk melebur kelima segmennya menjadi satu cerita yang utuh, tidak dipisah-pisah tapi ditumpuk. Read more »
Most Anticipated Movie: Soegija

“Film Indonesia nga bermutu”, “klo Film Indonesia nga usah nonton di bioskop, tunggu aja di tv”, “sampah…!”, kalimat-kalimat yang memojokkan sinema kita itu sepertinya memang tidak pernah hilang, wajar karena film-film idiot selalu bisa menggilas keberadaan film-film “bener” di bioskop. Tapi kalau semua film lokal dibilang tidak bermutu, berarti kita tandanya “buta”, atau memang tidak ingin melihat kalau kenyataannya banyak sineas-sineas lokal yang dengan niat tulus dan semangat sinting-sintingan (bukan lagi gila-gilaan) mau memperbaiki wajah sinema kita. Read more »
Review: Republik Twitter

Sebelum menulis review #republiktwitter pun, saya menyempatkan tongkrongin isi linimasa, memandangi ocehan 140 karakter dari akun-akun yang saya follow, tentu saja isinya beragam, ada yang curhat, ada yang ngobrol, ada yang kasih link-link yang bermanfaat, ada yang galau, ada yang kultwit, yang tidak jelas isi kicauannya juga ada, itulah twitter—semua bebas untuk berkicau apa saja, tinggal kitanya saja yang harus pandai-pandai memilah-milih mana yang “pas”, Read more »
Most Anticipated Movie: Modus Anomali

Pertama kali melihat judul “Modus Anomali”, saya jadi ingat petunjuk jalan di film “Pintu Terlarang” (2009), yup salah-satu keisengan seorang Joko Anwar adalah dia selalu menaruh clue proyek film selanjutnya di filmnya yang sedang tayang. Seperti misalnya lagi poster “Kala” (2007) yang menyempil terpajang di antara poster-poster film bioskop di “Janji Joni” (2005). Setelah menunggu 3 tahun, akhirnya Joko kembali menyemarakan perfilman nasional yang masih saja “dikotori” film-film nan “ajaib” itu. Read more »
Review: My Last Love

Sebanyak apapun airmata yang dikeluarkan oleh Donita di film ini, tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa “My Last Love” memang terlalu bodoh. Klise? Iya klise, tapi jika digarap dengan “niat”, saya tidak akan banyak ngomel seperti sekarang, sebaliknya film ini tampaknya bangga untuk menjadi klise, lalu dengan percaya diri terus menumpuk hal-hal yang tidak masuk di akal, bodoh, dan sangat-sangat berlebihan, hanya untuk memeras air mata penontonnya. Read more »
Review: Mother Keder: Emakku Ajaib Bener

Seharusnya saya menonton “Mother Keder: Emakku Ajaib Bener” terakhir, ketimbang “Xia Aimei” yang justru membuat saya depresi pulang kerumah. Jadi urutannya adalah, nonton “Xia Aimei”, baru “Mother Keder”, well nasi sudah menjadi bubur, setidaknya dari dua film yang saya tonton pada hari yang sama, tidak semuanya menghasilkan muka kecut, “Mother Keder” jadi terlihat lumayan menghibur ketimbang film sailormoon itu. Untuk sebuah film yang dari awal memang niat untuk ngelawak, Read more »
Recent Posts
- Review: Safe
- Review: Lovely Man
- Review: Modus Anomali
- Review: Angkara Murka (Amphibious)
- Review: The Devil Inside
- Review: 21 Jump Street
- Review: REC 3: Genesis
- Review: 30 and Fabulous
- Review: Keumala
- Review: Negeri 5 Menara
- Review: Dilema
- The 84th Annual Academy Awards Winners
- Oscar 2012: Live Blog dan Prediksi
- The 2nd Indonesian Movie Bloggers Choice Awards Winners
- Review: The Artist
Recent Comments
- trifajar on Review: The Devil Inside
- raditherapy on Review: Lovely Man
- Erna on Review: Lovely Man
- firman on Review: Night of the Living Dead (1968)
- mad on Review: Haywire
- frano on Review: The Devil Inside
- Budi M on Review: Poconggg Juga Pocong
- Budi M on Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance
- Budi M on Kepergok Pocong: Dimana Ada Nayato Disitu Ada Pocong (Part 2)
- Cool Jerk on Review: REC 3: Genesis




Posted under:



