About Me

RANGGA ADITHIA

Penyuka bakwan jagung yang tak pernah mau nengok jika dipanggil “kritikus film”, karena emang bukan namanya. Semenjak rajin menulis tentang film, lebih suka disebut movie-reviewer atau tukang curhat film, karena tulisannya memang lebih mirip orang curhat, bukan ulasan film yang mendalam apalagi resensi yang sifatnya serius. Mungkin terbawa kebiasaan lama, karena sebelum mutusin buat nulis review, dulunya suka posting curhatan, mengeluarkan unek-unek biar dada tak sesak. Nah, mulai hijrah dari tulis-menulis tentang patah hati dan nekat nulis review film kira-kira di tahun 2009, “Pintu Terlarang”-nya Joko Anwar yang jadi tumbalnya. Kenapa dibilang nekat? Karena modalnya cuma mau curhat soal film dan kepingin bisa me-review kayak di majalah-majalah film. Padahal sadar betul kalau pengetahuan filmnya bisa dibilang cetek, belum lagi gurem untuk urusan gimana nulis review yang bener dan layak untuk dibaca.

Seperti selera musiknya yang buruk—semenjak sekolah dasar kupingnya sudah dirusak band-band beraliran cadas—selera filmnya pun sama buruknya, bahkan mungkin lebih parah. Tidak menyukai “Titanic”-nya James Cameron dan pernah sangat memuja “Pearl Harbor”-nya Michael Bay, dengan alasan dangkal banyak pesawat zero milik Jepang di film itu (dan juga banyak ledakan). Mengaku gemar film-film berbau fiksi ilmiah, karena dulu terpesona dengan “Independence Day”-nya Roland Emmerich. Sekarang menganggap Yoshihiro Nishimura dan Noburu Iguchi setingkat dengan Eru Iluvatar, yang menciptakan alam semesta dan bumi di mitologi Middle-Earth rekaan Tolkien. Semenjak nonton “Tokyo Gore Police”, seperti mendapatkan pencerahan untuk menyia-nyiakan hidup menonton film-film sejenis itu. Film-film Nishimura bagaikan mie goreng yang dibuatin, seperti kulit ayam goreng KFC yang makannya belakangan, kayak lidi-lidian jajanan pas SD yang bikin ketagihan, dan Soto Bogor-nya Pak Ace di Blok M Square.

Masih meyakini kalau suatu saat nanti yang namanya zombie-apocalyse bakalan kejadian, tapi semoga zombie-nya nga hiperaktif kayak di “World War Z”. Masih penakut walau sudah mengkonsumsi banyak film horor. Pernah membayangkan kalau wujud di kehidupan sebelumnya adalah Velociraptor. Saking suka banget dengan Power Rangers, dulu waktu kecil sering memejamkan mata dan berharap begitu dibuka sudah berubah berkostum Ranger Hitam. Kalo Harry Potter punya tanda kayak petir di jidatnya, dulu saking bandelnya pas bocah, pernah jatuh ke comberan dan jidatnya sobek, sayang bekasnya nga sekeren punya Harry. Masih menulis review dan kalau mood-nya sedang bagus artikel untuk flickmagazine.net (sudah kira-kira 5 tahun). Rajin datang ke konser-konser musik metal, Bulungan Outdoor udah seperti rumah ketiga, rumah keduanya apa? Iyah bioskop hahaha. Menganggap menonton film Indonesia di bioskop hukumnya adalah wajib kayak sembahyang. Sampe sekarang kalau ditanyain film favoritnya apa pasti bingung, diem lama banget trus bilang “banyak”. Beda lagi kalau ditanya film yang paling banyak ditonton tuh apa? “Mulan”-nya Walt Disney!

Nulis ‘about me’ aja semrawut nga jelas, apalagi tulisan review filmnya. Udah ah!

Terima kasih sudah berkunjung ke blog raditherapy.

 

FAQ (Frequently asked questions)

1. Udah dari kapan sih nge-blog? — Lupa kapan tanggal tepatnya, dulu isi blog gw cuma curhatan nga penting, nah mulai 2008 klo nga salah gw mulai me-review film. 31 Mei 2011 blog raditherapy pun pindah rumah, akhirnya setelah lama numpang di wordpress, sekarang hosting sendiri. Tanggal 31 Mei pun gw putusin jadi hari ulang tahun blog ini.

2. Isi Blog raditherapy apa aja?– Selain review film dalam dan luar negeri, gw juga suka posting laporan-laporan konser yang gw datengin dan berita-berita yang masih ada sangkut pautnya dgn film dan musik. Curhatan? nga lagi deh hahahahaha.

3. Bisa rikues review nga? — Sebenernya bisa, tapi itupun klo sempet, nulis review yang diprogram aja kadang telat dan suka nga jadi-jadi review, apalagi bikin review rikuesan. Udah ada kok beberapa review hasil rikues, klo kebetulan gw belom nonton filmnya, yah gw nonton dulu, klo pun udah nonton, gw akan nonton lagi sebelum di review. Asal jangan rikues minta di review-in sinetron, bisa gila gw.

4. Rajin banget nonton Film Indonesia? — Salah-satu cara gw untuk mendukung perfilman Nasional, nga bisa bikin film jadi gw support dengan nonton dan nge-review, pastinya jujur dari hati hahahahaha.

5. Ngapain Film Indonesia kacrut lo tonton juga? — simple, biar lo nga perlu nonton lagi! (alasan aja, emang demen aja lo nonton film jelek)

6. Kok gaya bahasa di blog suka gonta-ganti, ada yang pake “saya” trus di review lain bahasanya nyantai pake “gw”? –  biar nga bosen.

7. Apaan tuh Horrortherapy? – “HorrorTherapy” berisi film-film pendek yang sudah saya labeli “terngehe”, kata ngehe tersebut tak saja mewakili film berdarah-darah saja, atau seram, tapi juga cara film dikemas—dari segi teknis dan ceritanya.