10 Found Footage Horor Favorit (1)

written by Rangga Adithia on June 15, 2018 in CinemaTherapy and Features and Horror with 9 comments

Mungkin banyak yang enggak tahu atau pernah nonton tapi sekarang lupa, kalau di tahun 2010, Nayato Fio Nuala pernah merilis film horor bergaya mokumenter, berjudul Terekam. Film yang di posternya tertulis edited by Koya Pagayo dan ada quote sakti “the scariest movie ever, guaranteed!” ini emang nga pernah dianggep, apalagi pantas disebut menyeramkan, tapi setidaknya sinema horor lokal punya tambahan film found footage (meski kualitasnya tercela), selain Keramat buatan Monty Tiwa yang dirilis tahun sebelumnya. Tenang, gue enggak bakalan masukin Terekam dalam daftar film mokumenter favorit, karena gue masih waras (dalam hati padahal pengen banget majang tuh pelem di urutan paling atas). Di daftar ini gue hanya masukin film-film found footage yang tak sekedar bikin rahang nganga lebar kaya penampakan di Pulau Hantu-nya Jose Poernomo, tapi juga yang sudah lolos uji kelayakan untuk ditonton berulang kali hingga mulut berbusa. Jadi, film laknat macam Cannibal Holocaust atau August Underground tentunya enggak gue cantumin dalam daftar yang notabennya emang sangat personal ini. Klo mao ada yang protes atau nambahin, silahkan.

–> Bagian Kedua <–

Trollhunter (Andre Ovredal, 2010)

Andre Ovredal yang juga merangkap menuliskan cerita dalam film benar-benar tahu betul bagaimana membuat “dongeng”-nya menarik dengan detil-detil yang membuat kita bersemangat dan penasaran, seperti anak kecil yang mendengar dongeng sebelum tidur. Imajinasinya berhasil membuat penonton untuk terbuai masuk dalam “perangkap” dongeng pemburu troll. Meski temanya lebih condong ke dark fantasy, tapi menurut gue, Trollhunter juga punya momen-momen horor-nya yang menegangkan, found-footage berelemen mitologi nordik yang asyik dan unik, dengan pemandangan lanskap pegunungan Norwegia yang aduhai-apik.

Paranormal Activity (Oren Peli, 2007)

Gue enggak akan pernah lupa sensasi ketakutan yang pernah diberikan oleh film yang bagi sebagian orang mungkin membosankan dan tidak seram, apalagi kalau menengok seri-seri berikutnya yang makin belepotan. Tapi secara pribadi, harus diakui Paranormal Activity berhasil mengemas teror dengan sederhana, caranya menakuti pun cocok dengan orang penakut cemen kayak gue. Dari hanya merasa merinding tingkat siaga satu hingga gue ada di posisi ingin melambai-lambaikan tangan ke kamera tanda menyerah. Selama 80 menitan, gue dibiarkan ketakutan oleh teror yang datangnya dari imajinasi gue sendiri, disitulah letak bangsatnya.

Keramat (Monty Tiwa, 2009)

Penampakan yang telah disiapkan Monty Tiwa sangat efektif dan tak berlebihan, atmosfir kengerian dan teror yang sudah melekat dengan baik di Keramat, makin terasa menegangkan dengan bantuan akting maksimal dari para pemainnya yang notabennya kurang terkenal (disitulah poin plus film ini). Terlalu banyak momen berkesan dari Keramat, termasuk ketika Pak Masrum yang badass itu nyebut klo Migi sudah digondol ke dunia demit, “bocah kuwi wis digowo neng alam liyo” gitu katanya. Gue juga enggak akan pernah bisa lupa adegan di kuburan, penampakan pocong paling bangsat setelah Sundelbolong (1981) dan Pocong 2 (2006).

REC (Jaume Balaguero, Paco Plaza, 2007)

Gue masukin film ini bukan sekedar karena kecintaan personal pada zombie, tapi juga karena Paco dan Jaume telah menghadirkan found footage dengan tingkatan kengerian yang membuat otak gue muncrat kemana-mana. Rilis pada tahun yang sama dengan Diary of The Dead-nya almarhum George A. Romero, REC mewakili tontonan horor yang punya segalanya, sebuah paket lengkap berisi mayat-mayat hidup enerjik yang siap meneror di antara ruangan sempit, gelap dan sesak. Film ngehe dari Spanyol yang memberikan pengalaman mengasyikkan lewat aksi-aksi survival menegangkan, berdarah-darah banget, dan extra gigitan dimana-mana.

Phoenix Forgotten (Justin Barber, 2017)

Film yang diproduseri oleh Ridley Scott (The Martian) ini punya kesamaan dalam hal penuturan misterinya dengan Lake Mungo, memanfaatkan cuplikan-cuplikan berita televisi dan rekaman kesaksiaan orang-orang demi makin menggiring kita untuk percaya sekaligus menciptakan rasa penasaran. Justin tak menyia-nyiakan tiap detiknya, durasinya terbagi bijaksana, dari porsi yang memperkenalkan kita dengan karakter-karakternya hingga nantinya kita sampai pada bagian menguak misteri hilangnya 3 orang remaja. Babak demi babak dituturkan dengan seru dan asyik, membuat gue tidak berhenti mengucapkan “anjing, anjing, dan anjing”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Bone Tomaha...
Review - Iblis (2016...
Review - 3 Srikandi