Review – Suspiria (1977)

written by Rangga Adithia on May 12, 2018 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with no comments

Beberapa minggu lalu, linimasa twitter gue disesaki oleh postingan orang-orang yang baru saja menonton cuplikan Suspiria versi Luca Guadagnino di CinemaCon. Semua orang menuliskan kekagetan dan keterkejutannya oleh salah satu adegan mengerikan menyangkut penari balet. Gue hanya bisa membayangkan segila apa footage dari film yang dibintangi oleh Dakota Johnson, Chloe Grace Moretz, Mia Goth dan Tilda Swinton tersebut. Rasa penasaran gue kemudian dilampiaskan ke Dario Argento, gue terpaksa kembali menginjakkan kaki di Tanz Dance Academy yang laknat itu. Bertemu lagi dengan Suzy Bannion (Jessica Harper), penari balet asal Amerika yang terbang ke Jerman untuk makin memantabkan bakatnya. Tapi alih-alih mendapatkan ilmu menari, Suzy malah berhadapan dengan serangkaian kejadian pembunuhan tragis dan misterius. Dirilis pada 1977, Suspiria tetap bisa menakuti di jaman perang memperebutkan batu akik rupa-rupa warnanya, Dario mengacungkan jari tengahnya di film yang diproduseri oleh bokapnya, Salvatore Argento. Bahkan, menyetel di siang bolong sambil menyuap sop buah tidak bikin gue merasa aman dari teror Dario.

Kalau Nayato berhasil bikin gue paranoid dengan gelas setelah menonton Takut: Tujuh Hari Bersama Setan, Dario Argento di Suspiria bisa menciptakan perasaan jedag-jedug-jedag-jedug hanya mengandalkan sebuah pintu otomatis, monyetlah. Sejak berdiri di depan bangunan sekolah Tanz dalam kondisi basah kuyup, Suzy dan gue memang tidak diberi kesempatan berleha-leha makan gorengan, karena Dario tidak punya waktu untuk membiarkan penontonnya merasa nyaman serta aman, apalagi ngunyah bakwan jagung, monyetlah. Menit awal, rasa resah sudah mengerubungi, bagaikan sekumpulan lalat yang menempel di wajah Uwak Umar di Kisah Misteri-nya Mardali Syarief. Takjub dengan cara Dario membuat suasana tidak mengenakan yang dia hadirkan di Suspiria, selagi pikiran gue kebingungan dan dibiarkan tersesat oleh misteri yang bergentayangan di antara lorong-lorong sekolahan yang cerah menghipnotis mata. Di balik warna manisnya, Tanz adalah perangkap mematikan yang dirancang Dario untuk menggoda penontonnya agar masuk, lalu kemudian terjebak rasa penasaran dan terkurung tanda tanya besar “Njing, ada apa di sekolah ini?” monyetlah.

Modal bikin perasaan kusut tak karuan (seperti karakter Suzy) kemudian diubah dengan mudah jadi ketakutan oleh Dario, rasa paranoid pun kian bertumpuk dan Suspiria memang hampir saja membuat gue sinting. Anjing lo, Dario!! Hahahaha. Hebatnya, ketakutan timbul bukan dari penampakan atau jump scare, melainkan bersumber dari permainan psikologis, memanfaatkan gabungan elemen gambar, atmosfer, dan bebunyian. Struktur bangunan sekolah beserta desain interiornya punya peranan sangat penting ke dalam rancangan Dario untuk menakut-nakuti, memberikan kecemasan, dan menyalurkan ketegangan. Ketiganya pun dibangun tidak terburu-buru, Dario akan terlebih dahulu membiarkan penonton kelelahan dengan rasa cemas, kemanapun kamera bergerak, penonton seperti terkena sihir untuk was-was membayangkan segala bentuk penampakan dan arah kedatangan apapun itu yang ingin ditongolkan oleh Dario. Ketika pikiran dipenuhi bayangan yang aneh-aneh, rasa takut akan muncul dengan sukarela, disusul oleh kehadiran tegang yang tiba-tiba menyelimuti dari ujung rambut hingga telapak kaki. Serius, tanpa penampakan pun, Suspiria tetap ngehe.

Bersiaplah untuk merasakan stress yang menyenangkan, tatkala Suspiria selama 90 menitan akan memantrai indera penglihatan untuk tunduk dengan keindahan sinematografinya, terbuai oleh gambar-gambar cantik terbalut warna terang dan cerah yang membutakan, menutupi rapat-rapat horor yang bersembunyi di balik dinding serta pintu sekolah. Bebunyian ciptaan Goblin tak sekedar membisikkan suara-suara yang menghantui kemanapun kita bergerak, tapi juga menyihir raga untuk bergidik ketakutan berkat melodi-melodinya yang mencekam. Hembusan atmosfernya perlahan-lahan memenuhi setiap ruangan sekolah dengan hawa tak mengenakan, membantu Dario dalam menciptakan ketegangan, seperti yang dia perlihatkan pada adegan “jendela” di pembuka film. Gambar, suara dan atmosfer benar-benar dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Dario Argento dalam tujuan untuk membuat mimpi buruk yang sempurna. Suspiria memanglah mimpi buruk, teror berkepanjangan yang tiada habis berikan tegang dan cemas. Semoga Luca Guadagnino tidak membuat remake yang bakalan membuat Helena Markos murka. Sekali lagi, anjing lo, Dario!!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Wailing...
Review - Don't Breat...
Review - Train to Bu...
10 Film Indonesia Te...