5 Film Horor Biadab

written by Rangga Adithia on May 31, 2018 in CinemaTherapy and Features and Horror with 3 comments

Beberapa hari yang lalu, gue dan si ratu psikopat (@smileyrestu) secara random mengobrolkan judul-judul film horor yang meninggalkan efek traumatik sadistik (bahasa apa pula ini yang gue pakai), hingga kemudian film-film tersebut pantas untuk dilabeli “cukup sekali saja ditonton” (pokoknya cukup tahu ada orang yang bisa bikin film sebiadab itu). Dari obrolan singkat tersebut, gue pun memutuskan untuk memuntahkan 5 judul film (saja) yang tidak akan pernah cocok jadi teman sarapan lontong sayur ataupun ditonton bareng keluarga sambil menyantap mie ayam jamur Melawai (sialan, jadi kepengen, kan), menuliskannya di blog, karena siapa tahu ada yang iseng mau nyoba nontonin Nekromantik sambil nyuap kolak pisang. Berstatuskan film yang cukup sekali tonton bukan berarti kelima film itu diesekusi ngasal dan ngawur, idenya memang terkutuk tetapi secara pembuatan harus diakui sutradara-sutradara seperti si Jorg Buttgereit ini memang manusia-manusia gila yang “brilian”. Orang-orang nekat yang menghasilkan karya laknat, film-film yang tidak sekedar punya judul mengerikan dan ber-cover menjijikkan, tapi juga beri dampak trauma mendalam.

A Serbian Film (Srdan Spasojevic, 2010)

Film biadab yang satu ini tergolong baru dibandingkan keempat film lainnya, dan sebetulnya memberikan efek traumatik yang tingkatannya paling rendah, meski begitu A Serbian Film tetap gue masukin ke daftar film-film horor “sehabis tonton langsung dirukiyah” dan gue nga bakalan nyetel lagi film si Srdan Spasojevic ini. Sebagai gore-enthusiast (mulai norak deh), gue memuji adegan-adegan berdarah ciptaan otak Srdan yang sinting, bahkan gue memberikan rating tinggi untuk film ini di review gue waktu itu. Adegan apa yang paling membuat gue trauma: ketika ada seorang bayi yang baru saja berojol diperlakukan dengan biadab sekali.

The Untold Story (Herman Yau, 1993)

Gue nemuin film ini di tukang rental VCD langganan, bareng ama Ebola Syndrome yang sama-sama disutradarai Herman Yau dan dibintangi Anthony Wong. Nyetel film yang dikenal juga dengan sebutan “bakpao daging orang” ini pun seinget gue ngumpet-ngumpet, maklum masih bocah ingusan takut ketahuan orang tua. Abis nonton langsung ogah makan hahahahaha. Adegan tidak bermoral dan berdarah-darahnya lumayan banyak dan sakit jiwa, tapi yang paling membuat gue trauma: ketika si Anthony Wong dengan biadab meng-anu-kan seorang perempuan, pake setumpuk sumpit pulak yang disodokkan ke anu-nya sampe meninggal. Gila!

I Spit On Your Grave (Meir Zarchi, 1978)

“Alasan saya tidak mau menonton lagi cuma satu, saya selalu miris dan tidak tega melihat adegan pemerkosaan, tidak hanya di film ini. Walau kadang sesadis apapun suatu film—mau itu adegan mutilasi sampai dipotong super-kecil atau isi perut yang dimakan dan “dikeluarkan” lagi lalu dimakan lagi oleh orang lain—saya bisa menikmatinya (mungkin kata yang tepat adalah masih kuat). Tapi tidak akan pernah kuat jika itu berurusan dengan adegan pemerkosaan.” Gue rangkum paragraf pertama dari ulasan I Spit On Your Grave di blog ini tertanggal 7 Agustus 2010. Adegan di sebuah batu gede itu yang paling membuat gue trauma.

Nekromantik (Jorg Buttgereit, 1987)

Nyampe juga ke judul ini, males banget sebenernya mau nulis tentang filmnya si Jorg yang sakit jiwa, jadi kebayang lagi adegan-adegan menjijikkan Nekromantik, termasuk ketika Betty dan Rob main guling-gulingan sama mayat. Bangke, entah dulu kenapa bisa tertarik nonton film beginian hahahaha, tetapi sampe sekarang masih penasaran sama sekuelnya, terus film-film lainnya Jorg Buttgereit, karena belum sempat cicipin, kayak Der Todesking (The Death King) misalnya. Kayaknya sih bakalan nga kuat hahaha, payah nih semakin berumur malah semakin cemen. Adegan apa yang paling membuat gue trauma: semuanya aja deh hahahaha.

Cannibal Holocaust (Ruggero Deodato, 1980)

Mampus dah, film horor dengan opening terbaik karena lagunya Riz Ortolani, gue nga pernah bosen dengerin, pernah jadi ringtone pulak. Klo isi filmnya jelas tidak akan pernah gue tonton ulang, belum apa-apa sudah kasih adegan jahanam main lumpur-lumpuran dan sodok-sodokan. Ruggero Deodato saja sampe dipanggil ke pengadilan karena dikira filmnya betulan ngebunuhin aktor-aktornya, saking nih film terasa sangat realistis. Cannibal Holocaust yang lagi-lagi gue tonton di jaman VCD rental masih berjaya ini emang menyisakan trauma yang mendalam, karena semua kebiadabannya terlihat beneran-anjing, bangsat kau Ruggero Deodato!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Don't Breat...
Review - The Girl wi...
Review - Terbang (20...