Review – Terbang (2018)

written by Rangga Adithia on April 22, 2018 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Saya masuk ke bioskop sama sekali tidak mengenal Onggy Hianata, hampir 2 jam kemudian saya keluar dari studio bernomor 3, saya baru tahu ternyata Terbang: Menembus Langit adalah biopik seorang motivator kelas dunia, itu pun jika tidak salah menangkap informasi yang tersedia sebelum credit title menggulung. Saya tahunya Per Yngve Ohlin, lagipula saya memutuskan bergerak ke daerah Pejaten dipicu dua alasan, karena Laura Basuki dan Fajar Nugros. Saya menyukai Jakarta Undercover, film Nugros yang (akhirnya) benar-benar bisa dinikmati sepenuhnya tanpa banyak mengeluh, bersama dengan Adriana dan 7/24 tentunya. Penasaran, Terbang: Menembus Langit itu masuk ke kategori mana? Film Nugros yang bakal membuat saya tersenyum ikhlas atau malah sebaliknya, manyun sambil mendam rasa kesal. Alasan “Laura Basuki” tidak perlu saya jelaskan hahahaha. Tidak tahu apa-apa tentang Onggy bukan berarti mengurangi daya tarik, saya justru menjadi punya kesempatan untuk berkenalan dengan Achun. Terbang: Menembus Langit memiliki sumber daya yang mendukung, dari cast hingga teknikal, potensi untuk jadi film yang memikat ada di depan mata.

Kesempatan memanfaatkan sumber daya yang melimpah, ada Dion Wiyoko yang aktingnya belakangan semakin terasah berkilau, dipasangkan dengan Laura yang kemampuannya dalam berseni peran tak perlu diragukan, pemenang Piala Citra lewat perannya sebagai Delia di 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010). Hadir juga pelakon asal Malaysia, Chew Kin Wah, yang kebolehannya berakting mendatangkan rasa gembira sekaligus haru di My Stupid Boss dan Cek Toko Sebelah. Tak ketinggalan, ada nama Dayu Wijanto yang nantinya begitu mencuri perhatian melakonkan ibu kost. Juru kamera langganan Nugros, Padri Nadeak, pun sudah siap memanjakan mata penonton dengan gambar-gambar cantiknya. Belum lagi bicara desain serta tata produksinya, Terbang: Menembus Langit serasa mengajak kita “tamasya” ke masa lampau. Dari pemilihan pakaian hingga detil barang-barang yang dipajang, film yang memunculkan adegan kerusuhan 1998 ini memang tidak pernah ingin main-main sejak awal, niatnya mantab dan bikinnya tidak asal-asalan. Kelebihan yang dimiliki Terbang: Menembus Langit tersebut sayangnya tidak dibarengi oleh presentasi cerita yang saya harapkan.

Meski Dion Wiyoko dan Laura Basuki sudah habis-habisan mengeluarkan tangis dan keringat dalam menghidupi karakter Onggy dan Candra, memberikan nyawa ke dalam rangka cerita di Terbang: Menembus Langit, berkat keapikan berakting. Meski gambar-gambar hasil tangkapan Padri Nadeak menciptakan sinematografi yang aduhai, memanipulasi mood dan memberikan tone yang pas di setiap frame. Meski production value-nya berhasil membuat saya kembali memijakkan kaki di tahun 80 dan 90-an, dengan segala setting dan detil artistik yang dibangun cukup memuaskan. Saya kemudian dibuat kecewa oleh cara Nugros menuturkan cerita yang berfokus pada jatuh bangunnya seorang Achun, sebelum anak asli Tarakan tersebut sukses dan dikenal dimana-mana. Terbang: Menembus Langit tak benar-benar terbang, tapi seperti burung yang terkurung dalam sangkar, kaki-kakinya terikat oleh beban berat berupa “pesan-pesan moral” dan “momen-momen yang menginspirasi”, lalu (akhirnya) memaksa penceritaan jadi terasa tidak utuh. Film pun tampak seperti kumpulan sketsa yang saling tumpang-tindih, dengan porsi cerita yang berat sebelah.

Terbang: Menembus Langit seakan diburu-buru, transisinya tergesa-gesa ibarat dikejar-kejar oleh ibu kontrakan. saya tak diberikan waktu cukup untuk sekedar duduk-duduk santai sebentar di rumah orang tua Achun, saya pun tidak sempat mampir ke toko untuk mengenal lebih dekat Kakak Onggy, saya tak punya waktu untuk bercanda lebih lama dengan teman-teman kost Onggy, parahnya saya juga tak pernah benar-benar mengenal akrab Onggy dan Candra, apalagi merasakan chemistry mereka bersemi, berkembang mekar. Eh, si abang gondrong yang baik itu siapa namanya? Ah, Terbang: Menembus Langit hanya peduli pada bagaimana membuat penontonnya menguras air mata dan terinspirasi berapi-api, bermodal adegan Achun yang berulang kali gagal dan kena tipu, lalu nangis sambil makan kerupuk. Onggy itu sebenarnya bisnis apa? Saya hanya tahu setiap dia menerima surat dari pak pos, wajahnya langsung tidak happy. Saya ingin menonton Onggy ketika memotivasi orang-orang, tak perlu seperti Tom Cruise di Magnolia, tetapi setidaknya mampu bangkitkan daya pikat Terbang: Menembus Langit yang kian terjun bebas di paruh akhir durasinya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Ada Apa Den...
Review - Lights Out
Review - The Void (2...