Review – Love For Sale (2018)

written by Rangga Adithia on March 22, 2018 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with no comments

Tatkala bioskop lokal diramaikan film-film Indonesia pengusung genre horor dan drama romantis remaja, kemunculan Love For Sale tak saja sekedar sebuah angin segar, karena terbungkus tema komedi dewasanya, tetapi juga menambah varian tontonan agar penonton film Indonesia pun punya pilihan alternatif, selain genre yang itu lagi itu lagi. Sinema tanah air butuh film-film macam Love For Sale, tidak hanya karena berbeda tema, meski berstatus komedi, film garapan Andibachtiar Yusuf ini dibuat sangat serius dan layak untuk jadi tontonan di bioskop, sehingga saya pada akhirnya tidak menyesal mengeluarkan kocek 25 ribu rupiah (jumlah uang yang bisa saya belikan untuk semangkuk bakso dan es campur). Tengoklah poster Love For Sale yang menarik perhatian dengan warna-warni neonnya, dan trailer yang dikemas sedemikian nyeleneh berisi Gading Marten bersempak yang asyik garuk-garuk burungnya. Niatan Love For Sale untuk memberikan tontonan yang tergarap serius bahkan sudah terlihat dari materi-materi promonya, modal cukup kuat yang pada akhirnya membuat saya bergerak menumpang ojek online untuk mengejar Della di show paling awal.

Diproduseri oleh Angga Dwimas Sasongko (Surat Dari Praha) dan Chicco Jerikho, Love For Sale mengawali menitnya dengan penampakan yang tidak mengenakan, Richard Achmad (Gading Marten) baru saja terbangun dari tidurnya, berkauskan singlet dan celana dalam gembel, sambil garuk-garuk anunya, laki-laki berkumis dan berperut agak buncit ini berjalan ke ruangan tengah, memutarkan “Hidupku Sunyi”-nya The Mercys di player piringan hitam kesayangan, kemudian berlanjut menyapa tetangga dari balkon rumahnya. Seperti lagu favoritnya yang dia putar setiap pagi, kehidupan Richard memang terbilang sunyi sepi, spesies jomblo akut yang terbiasa dengan kesendiriannya, tidak pernah kemana-mana kecuali nobar bola sama teman satu gengnya. Selesai bekerja di percetakan warisan orang tua, Richard hanya menghabiskan waktu menonton televisi ditemani si Kelun, seekor kura-kura yang katanya berusia belasan tahun. Tantangan untuk bawa pasangan ke sebuah acara kawinan lalu mempertemukan Richard dengan Arini Kusuma (Della Dartyan), perempuan yang nantinya tidak saja mengubah hidupnya, tetapi juga membuatnya rasakan jatuh cinta lagi.

Love For Sale bertutur blak-blakan tanpa malu-malu, dari cara memperkenalkan karakter Richard hingga nantinya memasuki bagian pacar-pacaran dengan Della, termasuk menyorot keintiman mereka di ranjang. Pendekatan yang sah-sah saja, toh saya sedang menonton film berlabel 21 tahun keatas, bukan film percintaan remaja bau kencur. Lagipula Love For Sale memang membutuhkan adegan intim, bukan untuk sok-sok-an berani buka-bukaan sembarangan, tapi fungsinya dalam bangunan chemistry antara Richard dengan Arini. Hasilnya langsung terasa, saya bisa meyakini mereka bukan sekedar karakter buatan dalam film, tetapi manusia yang sedang kasmaran betulan. Keintiman Richard dan Arini yang tidak terkesan palsu ini tentu saja dibalas oleh kepedulian penontonnya, saya kemudian dengan ikhlas bersimpati pada hubungan mereka. Jujur, meski wajah Gading Marten itu mengesalkan disini, tapi Andibachtiar Yusuf tahu bagaimana membuat penonton merasa iba dan berkata dalam hati semoga Richard tidak kembali jomblo hahaha. Di balik kaos singlet robek dan sempak bolong-bolong, Love For Sale ternyata tak main-main ketika berurusan dengan hati.

Ritme penceritaan yang terjaga, membuat alurnya begitu nyaman untuk disimak dan dinikmati, senyaman hati Richard yang perlahan-lahan mulai terbuka untuk kehadiran Arini. Love For Sale tidak akan terburu-buru memaksa kita peduli, tapi juga tidak akan banyak basa-basi soal cerita dan cinta, yang pada akhirnya justru membuat kita lari. Film ini tahu cara memberikan kenyamanan, termasuk ketika berbicara soal visualnya yang menggoda dan desain produksi yang digarap seksi. Keduanya ikut andil menopang Love For Sale menjadi tontonan komedi romantis yang tidak membosankan di sepanjang durasinya. Meski terbilang mulus, kerikil-kerikil yang mengganggu tetap ada, saya bukan orang yang senang mencari-cari kesalahan dalam sebuah film, tapi konklusi yang ditawarkan Love For Sale sudah berhasil membuat kepala saya terganggu. Well, terlepas dari cara menyudahinya, Love For Sale sudah memberikan pengalaman menonton yang mengasyikkan dan menyenangkan, film yang membuktikan kalau Gading Marten mampu berakting sengehe itu melakonkan Richard yang gemar galer. Ngomong-ngomong si Kelun sudah dikasih makan atau belum ya?

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - The Girl wi...
Review - The Curse (...
10 Found Footage Hor...