Review – Danur 2: Maddah (2018)

written by Rangga Adithia on March 29, 2018 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 3 comments

Seram tidak seram film horor memang relatif, Danur tidak menakutkan buat gue, tapi bisa membuat penonton di sebelah gue histeris minta pulang. Well, kalimat penutup yang gue tulis tahun lalu tersebut tampaknya tidak serta merta menjadi alasan untuk melewati babak baru dari kisah Risa di Danur 2: Maddah. Sekuelnya tentu saja membuat gue penasaran, tak hanya karena sosok dedemit anyar yang penampakannya sekilas mirip Valak selepas buka hijab, tetapi juga sebab khusus yang lebih penting, yakni pertanyaan apakah Awi Suryadi mampu menebus dosa di Danur 2 yang kali ini diembel-embeli Maddah (diangkat dari buku kedua Risa). Tak perlu seseram Pengabdi Setan-nya Joko Anwar, setidaknya membuang jauh-jauh jump scare recehan ke comberan, itu sudah cukup buat gue. Berkiblat pada horor-horornya James Wan pun sah-sah saja, asalkan bukan hanya nyomot jump scare lalu menaruh seenaknya di Danur 2: Maddah. Untungnya, Awi mengerti itu, terlepas nantinya ada rasa The Conjuring bercampur gaya artistik yang biasanya terlihat di film-film horor Rizal Mantovani, ciri khas Awi tidak akan hilang, justru terasa mendominasi keseluruhan durasi.

Risa (Prilly Latuconsina) masih bersahabat dengan Peter (Gamaharitz), William (Alexander Bain) dan Jhansen (Kevin Bzezovski). Danur 2: Maddah sesekali akan mempertontonkan interaksi Risa dengan ketiga sahabat hantunya itu, termasuk dua hantu anak kecil tambahan yang ingin bermain dengannya. Tetapi tentu saja, Danur 2: Maddah tidak hanya fokus pada kisah persahabatan dengan hantu, Risa kemudian dihadapkan dengan sosok hantu yang menghuni rumah paman Ahmad (Bucek), yang baru pindah ke Bandung bersama istrinya, Tina (Sophia Latjuba) dan Angki (Shawn Adrian) anaknya. Hantu pelakor dengan wujud menyeramkan tersebut tidak sekedar mengganggu Risa dan keluarga Pamannya, tapi juga kelak diketahui mempunyai niat jahat kepada Paman Ahmad. Paruh pertama Danur 2: Maddah alangkah bijaknya dipakai untuk mempererat hubungan karakter dalam film dengan penontonnya, khususnya kepada karakter-karakter baru. Sayangnya Danur 2: Maddah terkesan terburu-buru ingin mengagetkan mereka yang duduk di kursi penonton, maka jump scare receh yang gue harap terkubur pun akhirnya ambil alih kendali, gue pun mengelus dada.

Gue kemudian bisa memaafkan jump scare-jump scare receh dan efek suara yang berisik di Danur 2: Maddah, tidak saja karena jumlahnya yang berkurang apabila dibandingkan dengan film pendahulunya, tapi juga karena niat Awi yang sedang mencoba belajar untuk lebih percaya diri dengan horornya, serta memperbaiki rancangannya dalam soal menakut-nakuti penonton. Hasilnya bisa tampak pada momen-momen yang memang difungsikan merangsang rasa takut. Tidak semua berhasil, tapi setidaknya ada beberapa momen yang membuat gue pada akhirnya teriak “anjing” secara halus, termasuk saat Sophia Latjuba sedang khusyu dzikir dan si pelakor mengikuti gerakannya (kalau tidak salah adegan ini ada di trailer). Jika predesesornya memperlakukan penampakan dengan pendekatan kuantitas dibandingkan kualitas, Awi kali ini memilih untuk mengurangi sedikit persentase penampakan untuk memberikan ruang pada bangunan rasa cekam. Lanskap dan setting rumah tidak disia-siakan, Danur 2: Maddah peduli untuk mengerem jump scare recehnya di pertengahan durasi, lalu beralih memanfaatkan atmosfer serta sedikit bersabar memberikan penampakan.

Danur 2: Maddah kemudian tidak saja terlihat lebih baik dalam urusan menakuti, tetapi juga hadirkan peningkatan rasa mencekam ketimbang film pendahulunya, meski dampak seramnya belum seratus persen maksimal membuat gue merapal ayat kursi. Yah, setidaknya Awi lebih peduli untuk mendahulukan atmosfer tidak mengenakan itu bekerja hasilkan efek cekam, membiarkan penampakan dedemit menunggu di pojokan, lalu “ci luk ba” di saat yang tepat. Didukung juga oleh tata rias mumpuni hasil dempulan Maria Margaretha Earlene, yang mengubah Elena Viktoria Holovcsak menjadi sosok “penunggu” rumah yang cukup menyeramkan, penampakan pun akhirnya hadir lumayan efektif, membuat Danur 2: Maddah ini layak disebut film horor, ketimbang film pertamanya yang menggelikan. Cobalah untuk acuh dengan penceritaan yang dangkal dan karakter-karakternya yang tak punya cukup waktu untuk dipedulikan, maka Danur 2: Maddah akan terasa lebih mudah untuk dinikmati. Jadi apakah Awi Suryadi mampu menebus dosanya dari film pertama? gue bisa bilang “iya” meski potensi Danur 2: Maddah tak maksimal berikan rasa ketakutan yang gue harapkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Warkop DKI ...
Review - Blair Witch...
Review - Headshot