Review – Danur (2017)

written by Rangga Adithia on April 3, 2017 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 14 comments

Gue bukan pembenci jump scares, tapi masalahnya, kebanyakan film horor yang rilis beberapa tahun belakangan tampaknya begitu bergantung pada jump scares. Padahal taktik mengejutkan secara tiba-tiba tersebut juga perlu dibangun, bukan asal ceplok seenaknya dengan jumlah yang tak manusiawi. Bikin bakwan jagung saja ada yang namanya proses, begitupula membuat penonton lompat dari kursi mereka. Bagaimana memperlakukan jump scares dengan benar? Silahkan tengok The Exorcist III (1990). Di film arahan William Peter Blatty tersebut terdapat satu adegan yang melibatkan seorang suster, lorong rumah sakit, dan satpam. Ketiga elemen yang nantinya dimanfaatkan untuk menghasilkan salah-satu jump scares terbaik sepanjang masa. Di adegan itu, William mempresentasikan seni membuat jump scares yang melibatkan permainan psikologis, atmosfir, ketelitian, dan yang paling terpenting: kesabaran. Film horor seperti Danur, meskipun punya konsep menjanjikan, tapi sayangnya harus mengulang kesalahan yang sama, perlakukan jump scares layaknya sebungkus mie instan, ciptakan efek kejut yang tak tahan lama.

Kuantitas diatas kualitas, tidak mengherankan apabila Danur yang sebetulnya di awal berpotensi menyeramkan, justru kemudian beralih melelahkan ketika jump scares diobral murah. Awi Suryadi tahu bagaimana membuat filmnya mencekam, dia peduli bahwa film horor bukan sekedar penampakan tapi juga menghadirkan atmosfir yang tepat, Badoet (2015) berhasil melakukan itu. Sedangkan di Danur, Awi tampaknya terpaksa tunduk pada formula yang biasa digunakan Nayato Fio Nuala, mungkin karena penonton Indonesia (mostly) senang di-jump-scares-kan. Gue enggak bilang penampakan dan jump scares-nya akan sebanyak film-filmnya Nayato, tapi Danur memang nyatanya lebih peduli pada ngagetin ketimbang mau membagi durasinya untuk membuat gue terikat dengan nasib si karakter utama, Risa yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Setelah 9 tahun, Risa diceritakan kembali ke rumah neneknya, rumah yang mempertemukannya dengan sahabat-sahabat beda alam. Niat untuk mengurus neneknya yang sakit bersama adiknya harus terganggu oleh kejadian-kejadian aneh, bersamaan dengan kemunculan si pembantu misterius bernama Asih.

Menampilkan Prilly berakting menangis ribuan kali di depan kamera jadi sebuah jalan pintas untuk mengais belas simpatik penonton, karena durasi Danur sudah lenyap dipakai untuk menjejalkan gue dengan beragam variasi jump scares. Alih-alih peduli dengan karakter Risa, gue justru merasa terganggu dengan treatment karakternya yang terlalu dibuat-buat. Padahal horor juga butuh chemistry antara penonton dengan karakter-karakternya, khususnya tokoh utama, agar kita dapat ikut merasakan takut dan terancam. Bahkan ketika Risa ditempatkan pada posisi tersulit, kepedulian gue terhadap karakternya tetap tak bergeming, tangisan tak akan mengubah fakta kalau semakin lama jarak antara penonton dan si karakter utama kian merenggang. Danur terlalu sibuk mengagetkan penontonnya, hingga melupakan kalau karakter-karakter dalam filmnya juga butuh diceritakan, ikatan kakak-beradik antara Risa dan Riri ditampilkan seadanya, hubungan Risa dengan sahabat-sahabatnya pun sekedar numpang lewat. Danur menyia-nyiakan semua karakternya, mereka seakan muncul hanya untuk berteriak dan memajang wajah ketakutan, berlari-larian dan menangis.

Danur beruntung memiliki Shareefa Daanish sebagai hantu tukang culik anak, si pemeran Ibu Dara ini benar-benar menginjeksi dosis keseraman di setiap adegan yang ditujukan untuk menakuti penontonnya. Tatapan ngehe Daanish yang khas itu menyelamatkan Danur, meskipun pada akhirnya karena alasan terlalu sering, penampakan Daanish kemudian berbalik menjenuhkan. Setidaknya kemunculan Asih mampu memberikan rasa ngeri tersendiri, walaupun hanya bermodal diam di pojokan, menatap tajam hingga merasuk ke dalam jiwa. Sayangnya, kehebatan Daanish melakonkan sosok dedemit jahat tidak didukung secara maksimal oleh bangunan horor yang dirancang Awi. Ada beberapa momen seram yang menurut gue berhasil, terutama yang berhubungan dengan kehadiran Asih, tetapi efeknya menguap cepat, rasa cekam sesaat langsung terkubur oleh kumpulan jump scares yang lemah dan tidak efektif. Gue berharap bisa ditakut-takuti oleh Danur, bukan malah tertawa geli ketika penampakannya muncul. Seram tidak seram film horor memang relatif, Danur tidak menakutkan buat gue, tapi bisa membuat penonton di sebelah gue histeris minta pulang.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Aach... Aku...
Review - Some Kind o...
Review - Telaga Angk...