Review – The Devil’s Candy

written by Rangga Adithia on March 29, 2017 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

The Devil’s Candy, sebetulnya tipikal film horor yang gue banget, Sean Byrne tak hanya memasukkan unsur musik metal ke dalamnya, tapi juga tema satanik, well kedua elemen tersebut emang gue sukain. Kalo Deathgasm (2015) ingin mencoba melawak soal stereotip musik metal yang selalu dikait-kaitkan dengan kekerasan dan setan terkutuk, begitupula dengan Tenacious D in The Pick of Destiny (2006), maka The Devil’s Candy adalah versi yang lebih serius. Meninggalkan ranah film bacok-bacokan slasher, Sean Byrne kali ini membungkus premis sederhana yang tampak klise di The Devil’s Candy dengan bangunan thriller psikologis bercampur horor supranatural. Hasilnya, tentu saja bakal berbeda dengan apa yang pernah dia tampilkan di The Loved Ones (2009), namun tetap menyisakan satu kesamaan penting, Sean Byrne selalu dapat membuat gue peduli dengan si karakter utama, sesuatu yang kadang terlewatkan oleh kebanyakan pembuat film horor. Terlepas kekurangan The Devil’s Candy yang nantinya membuat gue merasa enggak puas, tetapi cara Sean Byrne memperlakukan karakter-karakternya inilah yang justru menahan gue untuk tidak tertidur pulas.

Entah sudah berapa ribu film yang mengajak gue untuk melihat sebuah keluarga pindah ke rumah baru, hanya untuk menemukan kalau masa lalu rumah tersebut perlahan-lahan merenggut kebahagiaan mereka. Kasus yang sama terjadi dengan Jesse Hellman (Ethan Embry) dan keluarganya, rumah impian yang mestinya jadi sumber suka cita, malah memberi mereka mimpi buruk. The Devil’s Candy punya banyak waktu untuk memperkenalkan sekaligus mendekatkan gue dengan Jesse, Astrid (Kiara Glasco) istrinya, dan Zooey (Pruitt Taylor) putrinya. Keluarga metal ini dengan mudah membuat gue menyukai mereka sejak awal, tidak saja karena “seiman” soal selera musik, Sean Byrne juga menghadirkan hubungan ayah-anak yang unik dan menarik. Dibuka dengan “Am I Evil?”-nya Metallica yang membuat gue langsung loncat dan headbanging, musik metal dalam The Devil’s Candy tidak difungsikan hanya sebagai pemanis atau soundtrack sok asyik dan sok metal kalo kata Purgatory, kehadiran musik cadas dari Slayer sampai Sunn O))) yang sangat satanik tersebut nantinya ikut menyumbang kontribusi penting dalam plot yang sedang dibangun oleh Sean Byrne.

Siapa menyangka tembang berjudul “Belurol Pusztit” kepunyaan Sunn O))) dapat mengubah seseorang menjadi budak iblis, The Devil’s Candy memanfaatkan band Stephen O’Malley tersebut untuk memberikan warna gelap dan menghembuskan atmosfir satanik yang pekat merasuk dalam film. Sean Byrne memilih band yang tepat untuk menghadirkan suasana tak mengenakan, menakutkan, sekaligus juga mencekam secara bersamaan. Tubuh seketika serasa ditarik ke dalam kegelapan saat Sunn O))) mulai mengeluarkan bebunyian aneh dan suara-suara yang mirip lucifer sedang bernyanyi di kamar mandi. The Devil’s Candy sangat serius dengan tujuannya untuk menghadirkan pengalaman satanik ke setiap bangku penonton, tak sekedar memainkan musik-musik berisik yang menyiksa jiwa, tapi didukung juga oleh elemen lain seperti lukisan Jesse, bukan yang dibuat untuk bank, tetapi lukisan yang diciptakan setelah dia kerasukan. Lukisan yang aslinya dibuat oleh Stephen Kasner tersebut benar-benar menyatu dengan konsep The Devil’s Candy, horor yang mampu menghantui tanpa penampakan, hanya bermodal musik dan gambar-gambar mengerikan.

Lalu apa yang membuat gue tidak puas dengan The Devil’s Candy? Untuk mereka yang menyebut dirinya metalheads, film ini jelas bakalan menghibur telinga, tapi (sayangnya) cukup mengecewakan bagi mereka yang berharap akan disodorkan kegilaan ala The Loved Ones. Sean Byrne memang mampu menyeret gue ke dalam kegelapan, merasakan pengalaman tidak menyenangkan, dan menikmati sederet mimpi buruk ditemani lagu-lagu yang menyesatkan. Hanya saja konsep menarik yang dibawa oleh The Devil’s Candy kemudian dibiarkan menggantung, tidak ada penjelasan kenapa setan lebih menyukai musik metal ketimbang lagu-lagu milik Awkarin atau Young Lex yang menurut gue lebih berbahaya dan satanik. Batasan waktu mungkin jadi penghalang Sean Byrne untuk menjelaskan itu, karena sekali lagi fokusnya dominan untuk membuat gue peduli dengan keluarga Jesse. Horor The Devil’s Candy meskipun efeknya terkadang terasa kurang maksimal, tapi gue akui terlihat realistis dalam menggambarkan kengerian kehilangan orang paling disayangi. Sean Byrne menyajikan horor yang tidak mengada-ngada, dengan sentuhan satanik dan musik yang fantastik.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Munafik (20...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Get Out (20...