10 Film Indonesia Terbaik di 2016

written by Rangga Adithia on January 2, 2017 in CinemaTherapy and Features and Film Indonesia with 3 comments

Alamak, tidak terasa tahun sudah kembali berganti, waktu bergerak begitu cepat, rasa-rasanya seperti baru kemarin saya posting daftar film Indonesia terbaik dan sekarang sudah harus melanjutkan ritual tahunan tersebut. Selain dipenuhi film-film yang mengesankan (yang membuat saya lagi-lagi kesulitan memilih sepuluh kandidat film yang akan dimasukan dalam daftar ini), 2016 juga sudah memberi banyak kejutan, termasuk terlewatinya rekor penonton Laskar Pelangi yang dari tahun 2008 memegang status sebagai film Indonesia paling laris sepanjang masa, oleh Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dengan total perolehan penonton hampir tujuh juta. Siapa yang bakal menyangka jika tahun ini pun angka keramat telah berhasil ditembus oleh sembilan film, sungguh kemenangan film Indonesia. Tahun dengan atmosfir yang menyenangkan untuk film Indonesia, tidak sekedar disodorkan sederetan tontonan yang berkualitas, tetapi juga pengalaman langka bisa menyaksikan film Tiga Dara-nya Usmar Ismail versi yang sudah direstorasi. Ke-sepuluh film berikut adalah hasil penilaian personal, film-film yang membuat saya makin cinta sinema Indonesia.

10. Cek Toko Sebelah

Ernest Prakasa sekali lagi menggarap film yang tidak egois, formula komedinya universal, jadi siap melayani bermacam tipe penonton dengan selera humor yang beraneka ragamnya. Sedangkan kekuatan Cek Toko Sebelah terletak pada drama keluarganya yang dikarang dan diarahkan Ernest Prakasa dengan jujur, berhati dan nga katrok. Apalagi didukung oleh chemistry meyakinkan dari Yohan, Erwin dan Koh Afuk sebagai sebuah keluarga. Tontonan drama yang menterjemahkan makna “harta yang paling berharga adalah keluarga” (mari sambil dinyanyikan) dengan hangat, manis, sekaligus juga menggelitik di beberapa bagiannya.

9. My Stupid Boss

My Stupid Boss ini film yang crazy sangatlah, begitu puasnya saya menertawakan Bunga Citra Lestari yang nasibnya apes sekali mendapat Bossman super-absurd. Transformasi Reza Rahadian menjadi seorang bos yang sinting benar-benar luar biasa, tidak hanya dari segi akting yang “tempe bener” tapi juga usaha maksimal dari departemen penata rias untuk merubah wajah Reza jadi begitu menggelikan sekaligus menyebalkan. My Stupid Boss tak sekedar kocak, Upi dan kawan-kawan pun menciptakan sebuah tontonan yang memanjakan mata, production value dan pemilihan palet warnanya benar-benar mempercantik keseluruhan filmnya.

8. 3 Srikandi

Didukung tata produksi yang begitu apik, sinematografi pun cantik, serta scoring dan pemilihan lagu soundtrack yang asyik, saya akan mengangguk jika ada yang menyebut 3 Srikandi adalah film yang juara, dengan banyak kelebihan mulai dari sisi teknis hingga pengembangan ceritanya. Saya menikmati penuturan kisahnya yang bergulir selama dua jam, walaupun tidak semulus wajah Chelsea Islan. Poin kurangnya tetap ada, apalagi ketika durasi mulai mendekati paruh akhir, momen dimana saya seharusnya ikut bersorak mengepalkan tangan tinggi-tinggi.

7. Juara

Ketika tiba gilirannya Juara untuk memamerkan aksi berkelahi, segala koreografi pukulan dan tendangan tersaji mantap, meyakinkan dan terasa punya power, tak asal tonjok sana dan tonjok sini. Bisma di luar dugaan mampu tampilkan yang terbaik, di saat beradu akting dengan Cut Mini, Tora Sudiro, atau Anjani, maupun ketika beradu jurus dengan Kang Cecep. Berimbang antara haru, keseruan aksi baku hantam, dan komedi yang lucu, Juara adalah tontonan paket lengkap yang menghibur, menyenangkan, sekaligus memiliki hati yang besar.

6. Headshot

Saya tentu saja berharap akan dijejali aksi maha dahsyat, ekspektasi langsung dibayar lunas begitu Mo Brothers pamerkan beragam adegan berkelahi, mengadu jurus dan juga tembak-tembakan. Semua dipertontonkan dengan koreografi yang bisa dibilang biadab, sangat meyakinkan hingga tulang-tulang saya ikut terasa remuk. Didukung karakter-karakter badass yang suka main darah, termasuk peran yang dimainkan Chelsea Islan, Headshot menghamburkan isi otak sinting Mo Brothers dengan cara paling anjing sekaligus manis.

5. Talak 3

Duet Hanung dan Ismail ternyata memang maut, semaut goyangan Siska Nggotik yang sudah berhasil membuat dengkul Mas Bagas lemas. Jika ditengok sekali lagi trailer-nya, saya tidak menyangka jika kolaborasi keduanya mampu melahirkan film komedi romantis dengan rasa yang dahsyat. Maaf saja, karena apabila boleh berkata jujur cuplikan Talak 3 yang berdurasi dua menitan tersebut tampak tak lucu dan garing. Hanung dan Ismail seperti menjungkir-balikan ekspektasi yang awalnya biasa-biasa saja, 10 menit sudah cukup untuk membuat saya kemudian terpikat dengan kisah Bagas dan Risa yang mau rujuk ini.

4. Athirah

Sudah banyak film Indonesia yang coba mengangkat isu terkait praktek poligami, tapi yang membeberkan ceritanya tanpa terkesan menceramahi, jumlahnya bisa dihitung jari, salah satunya Athirah ini. Riri Riza pun memilih cara yang terbilang unik untuk bercerita dan menyampaikan luapan emosi, Athirah andalkan mimik wajah, sorot mata dan gerak tubuh untuk berkomunikasi dengan penonton, lalu dialog terucap seperlunya saja. Meski begitu, lewat performa akting mempesona Cut Mini, kita mampu merasakan kekecewaan, kemarahan dan sakit hatinya istri yang dimadu. Ada metafora halus yang nantinya juga ikut berbicara menjelaskan isi hati seorang istri yang terkhianati, lebih efektif daripada pakai kata-kata. Athirah adalah film “balas dendam” yang sangat indah.

3. Ada Apa Dengan Cinta? 2

Ketidaksempurnaan seolah bersembunyi, yang tampak kemudian hanyalah film menyenangkan, sebuah sekuel yang tidak egois dan berambisi ingin lebih unggul dari predesesornya. AADC 2 hanya ingin berbagi kisah yang selama ini dipendam sendiri, tersimpan dalam kotak kardus, bertumpuk bareng dengan kenangan dan gambar dari masa lalu. Akan ada yang pahit ketika AADC 2 bercerita, tetapi kisah manisnya punya porsi yang lebih, dosisnya cukup untuk nantinya membuat kita tersenyum-senyum sendiri, layaknya Cinta saat bertemu dengan Rangga.

2. Aisyah Biarkan Kami Bersaudara

Drama religi berselimutkan kisah sederhana yang amat hangat, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara tidak hanya bertutur tulus dalam bercerita, tetapi juga ternyata disampaikan menyenangkan, tidak terlalu serius, ringan dan sesekali bercanda. Tontonan yang memberikan pelajaran berharga tentang toleransi tanpa terkesan menggurui atau mengubah film jadi mimbar semata. Didukung akting memukau Laudya Chintya Bella dan sekumpulan pelakon anak-anak, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara adalah salah-satu film terhangat dan terbaik yang rilis tahun ini.

1. Surat Dari Praha

Penyutradaraan Angga memang istimewa, tuturnya tak kemana-mana, walaupun ia bicara politik tapi tak terkesan “teriak-teriak” dan saat bicara cinta, Surat Dari Praha pun tidak “bawel”, terkadang dilagukan, sesekali diwakili dentingan piano, atau hanya tatapan dan raut wajah yang apa adanya. Tetapi kita tahu, Surat Dari Praha dengan bahasanya yang sederhana sedang ingin utarakan cinta. Julie dan Tio mengutarakannya dengan mempesona, kita dibuat jatuh cinta dengan mereka, jatuh cinta dengan Surat Dari Praha. Tontonan yang mengesankan!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Raksasa Dar...
Review - The Eyes of...
Review - The Guys (2...