Review – The Eyes of My Mother

written by Rangga Adithia on December 14, 2016 in American Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Kika Magalhaes sekilas mengingatkan gue ama Shareefa Daanish ketika peranin seorang emak-emak maha sadis di Rumah Dara (Mo Brothers, 2009), kalau boleh sejenak berimajinasi, gue membayangkan Francisca itu macam anak haram hasil hubungan gelap Ibu Dara bersama Leatherface (The Texas Chain Saw Massacre). Sosok yang dingin minta ampun saat dia asyik memotong-motong bagian tubuh manusia. Meski kelihatan biadab, apa yang nanti dipertontonkan Nicolas Pesce di The Eyes of My Mother mungkin tak ada apa-apanya, jika dibanding sinetron kita yang dengan brutal menampilkan adegan Hello Kitty sedang direbus dalam panci. Efek traumatik melihat boneka imut setengah tenggelam di air rebusan tentunya lebih membekas, ketimbang menyaksikan Charlie (Will Brill) membunuh Ibunya Francisca (Diana Agostini) dengan membabi-buta. Bahkan Francisca sendiri yang doyan mencongkel mata orang, gue pikir tidak bakal tega apabila disuruh untuk merebus Hello Kitty. Francisca bisa saja merespon “Emang gue orang sakit jiwa!” dan Nicolas Pesce mungkin tidak akan pernah membuat The Eyes of My Mother, malu ama sinetron Indonesia, kalah sadis.

Bicara soal sadis, jangan bayangkan The Eyes of My Mother bakal ngasih gambar-gambar guyuran darah, karena Nicolas Pesce memperlakukan filmnya udah kaya lukisan, sebuah horor bergaya arthouse lengkap dengan simbol-simbol halusnya. Elo nga bakal nemuin penceritaan yang blak-blakan seperti film-film brengsek si Fede Alvarez disini. Mereka yang bisa menerima alur film mengayun-ngayun ala The Witch (2015) atau Goodnight Mommy (2014), kemungkinan besar akan lebih cocok dengan presentasi yang ditawarkan di The Eyes of My Mother. Terbungkus visual putih hitam, Nicolas Pesce tampak sengaja meredupkan warna darah agar gue lebih fokus bukan pada kebrutalan yang dilakukan Francisca, tapi kenapa dia akhirnya bisa melakukan hal-hal di luar batas kewajaran manusia, sesuatu yang orang waras anggap gila seperti sebuah kenormalan bagi Francisca. Nicolas ajak gue mempelajari perilaku menyimpang Francisca yang sejak kecil sudah diwarisi ilmu bagaimana mengambil mata sapi oleh Ibunya. Menyaksikan saat tragedi jadi pemicu, tidak saja merenggut orang tua, tapi juga meninggalkan bekas traumatik yang pedih dan menyakitkan.

Dibilang sakit, The Eyes of My Mother memang sakit, tapi Nicolas Pesce tak terlalu bergantung pada gambar-gambar keji untuk menegaskan bahwa filmnya “sakit,” karena horor yang sebenarnya ada pada sosok Francisca yang bisa begitu dingin, termasuk ketika melihat Ibunya sendiri dibunuh secara brutal. Trauma tersebut kemudian merubah Francisca kecil menjadi perempuan yang memandang hidup dengan caranya sendiri, bermodalkan pelajaran “seadanya” yang didapatnya dari melihat sang Ibu ketika membedah mata sapi, dan perlakuan Ayahnya terhadap Charlie, Francisca hanya meneruskan apa yang dianggapnya benar dan “normal.” Menurutnya, menyekap orang dengan rantai, membuatnya buta dan tak lagi bisa bicara adalah tindakan normal, dia melakukan itu karena alasan kesepian. Butuh teman? Padahal dia bisa pergi keluar, oh Francisca melakukan itu, dia naik mobil kemudian mampir ke sebuah bar terdekat. Pulangnya berhasil ajak teman cewek, tapi Francisca malah membunuh dan memotongnya, well itu pun normal. Nicolas membangun karakter yang di satu sisi membuat gue simpati, tapi juga sekaligus punya sisi lain yang sangat mengerikan.

Tahun ini diberkahi dengan tontonan horor yang bagus punya, baik kualitasnya ataupun idenya yang amat menarik, The Eyes of My Mother adalah salah satunya. Dipadati gambar-gambar nista, menjijikan dan tidak bermoral, Nicolas Pesce bisa menterjemahkan trauma, duka dan kesepian ke dalam bahasa visual yang meski tampak disturbing parah, tapi harus diakui terbungkus cukup indah. Kebrutalan The Eyes of My Mother memang menyakitkan, sesakit trauma yang dipendamkan di dalam karakter Francisca, Nicolas Pesce jelas menginginkan penontonnya bisa merasakan kepedihan. Tidak ada rasa menyenangkan lewat adegan-adegan sadis yang dipertontonkan, tapi sebuah pengalaman tidak mengenakan yang tertinggal lama di kepala. Walau tersembunyi di balik sinematografi indah sekalipun, nyeri tak bisa tertutupi dan rasa ngilu tetap akan terasa kala melihat Francisca beraksi. Padahal Nicolas Pesce kadang tidak menampilkan adegan potong-memotong dan tusuk-menusuk secara blak-blakan, namun dia sanggup membuat gue bayangkan detilnya di kepala. The Eyes of My Mother mungkin tak sebrutal Hello Kitty rebus, tapi idenya sama-sama sakit jiwa.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Lights Out
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Hangout (20...