Review – Under the Shadow

written by Rangga Adithia on November 25, 2016 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with 5 comments

Tahun 2016 bisa dikatakan tahun yang sangat memanjakan untuk mereka yang menggemari tontonan berisikan dedemit, darah dan jerit. Sederet film horor dari mulai The Conjuring 2 hingga Train to Busan bergantian datang memuaskan rasa dahaga akan film-film horor yang layak disebut seram dan menyenangkan. Horor yang tidak sekedar tahu bagaimana cara membangun cekam, suspense, ngeri atau ketegangan untuk menghadirkan efek horor yang maksimal, tetapi juga memiliki penceritaan yang membuat penontonnya peduli. Under the Shadow, punya kedua kriteria tersebut, namun apa yang kemudian membuat film arahan Babak Anvari ini lebih menonjol adalah tema “teror akibat perang” yang coba diangkatnya, dan masuknya isu sosial-kultur pada masa konflik Iran-Irak di 80-an yang dileburkan halus dalam ceritanya. Setelah A Girl Walks Home Alone at Night garapan Ana Lily Amirpour, tampaknya dunia perhororan menjadi semakin menarik dan tentunya variatif dengan penampakan sutradara-sutradara keturunan Iran ini. Ketika film horor berkonsep usang dan kemasan generik mewabah, hadirnya Ana dan Babak setidaknya memberikan kesegaran baru.

Under the Shadow mengajak kita ke kota Teheran yang tengah dihujani bom-bom Irak, berkenalan dengan keluarga kecil yang setiap saat harus siap melarikan diri ke ruang bawah tanah saat sirine tanda bahaya mengaung-ngaung. Meski kondisi yang mengancam kehidupan, Shideh (Narges Rashidi) tetap bersikeras bertahan di rumah bersama anak perempuannya, Dorsa (Avin Manshadi). Serangan rudal dan protes dari suaminya, Iraj (Bobby Naderi) pun tidak dihiraukan. Shideh yang baru saja “ditendang” dari sekolah kedokteran, karena keikutsertaannya dengan grup sayap kiri pada masa revolusi, merasa lebih aman tinggal di rumah sendiri dan enggan pindah. Sebuah keputusan yang nantinya akan Shideh sesali, karena ternyata hadir ancaman lain yang datangnya dari balik kegelapan siap meneror. Under the Shadow benar-benar tidak aman untuk mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, berkat penampakan tiba-tiba berdaya kejut tinggi yang muncul dengan timing pas di saat penonton lengah. Namun Babak tidak menciptakan kengerian yang hanya bergantung pada jump scares, sumber horor Under the Shadow justru berasal dari apa yang tak tertangkap mata.

Teror gaib yang nantinya dihadapi oleh Shideh dan Dorsa seperti sebuah isyarat untuk mengatakan dampak “horor” yang sebenarnya dari perang antara Iran dan Irak. Babak kemudian menterjemahkan kekacauan dan kengerian yang terjadi di luar dinding tersebut ke dalam penceritaan, menghadirkan konflik Ibu dan anak, sekaligus memunculkan sosok menakutkan yang terus mengganggu ketenangan. Under the Shadow memang punya tujuan untuk mengganggu penontonnya sedari awal kita menempati kursi bioskop, gangguan yang tak sekedar menyerang nyali tapi juga sisi psikologis. Babak merancang Under the Shadow untuk memberikan rasa yang tidak nyaman, berkat kepekaannya dalam memanfaatkan atmosfir tak mengenakan yang asalnya dari interior rumah, ditopang oleh kedua karakternya yang punya peranan krusial dalam menciptakan stres setengah mampus kepada penonton. Atmosfir dan karakter Shideh-Dorsa memang menjadi senjata ampuh yang membuat kita tersedot masuk ke dalam permainan brengsek Babak Anvari. Hasilnya, Under the Shadow bukan saja seram tapi juga mengajak saya untuk ikut merasakan ketakutan karakternya.

Under the Shadow adalah horor yang sebetulnya tampil dengan kesederhanaan, “rendah hati” dalam menakut-nakuti, tapi efeknya begitu efektif saat mengurung penonton dalam rasa cemas, gelisah, takut dan tidak nyaman. Didukung oleh tata suara yang didesain untuk merangsang suasana mencekam, Babak Anvari hanya tinggal menerbang-nerbangkan kain dan adegan itu jadi seram luar biasa. Untuk mereka yang menyukai metode ditakut-takuti yang dipakai oleh Jennifer Kent di The Babadook, pastinya bakal menikmati cara Babak Anvari menghadirkan rasa ngeri yang bisa dibilang serupa. Penonton tidak sekedar mendapatkan seramnya tapi juga rasa pusing tujuh keliling, ikut merasakan apa yang Shideh rasakan saat menghadapi tingkah Dorsa yang semakin menyusahkan. Interaksi antara Shideh dan Dorsa ini jadi daya tarik tersendiri di Under the Shadow, pertunjukan akting memukau yang kemudian menciptakan kepedulian terhadap karakternya. Babak telah memberikan saya pengalaman menonton yang benar-benar menyeramkan, salah satu horor terbaik dan paling membuat uring-uringan tahun ini, bersiaplah untuk ketakutan dan jangan lupa berdoa.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Iblis (2016...
Review - Ada Apa Den...
Tujuh Film Horor Fav...