Review – The Girl with All the Gifts

written by Rangga Adithia on November 13, 2016 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with one Comment

Mana yang lebih menakutkan, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat atau zombie apocalypse? Saya pribadi akan memilih nomor dua, tapi kenyataan bahwa Trump akan duduk di oval office tetap sebuah horor. Dulu, yang namanya zombie outbreak mungkin terdengar bagaikan lelucon dan omong kosong yang hanya terjadi di film-film horor, sebuah karangan fiksi mengada-ada dipenuhi imajinasi yang bertujuan untuk menghibur. Sekarang, anehnya setelah terlalu banyak menonton film zombie, (efeknya) saya dibuat percaya jika adegan-adegan di 28 Days/Weeks Later dan Dawn of the Dead bisa saja terjadi suatu saat nanti (saya mungkin sudah gila ataukah ada orang lain yang membaca tulisan ini percaya dengan zombie apocalypse?). Buat mereka yang percaya, The Girl with All the Gifts akan menjadi semacam pencerahan, dimana ada sejenis jamur bernama Ophiocordyceps unilateralis atau zombie fungus mampu menciptakan malapetaka, mengubah mereka yang hidup jadi makhluk-makhluk ganas pemangsa manusia. Lucunya, jamur tersebut bukan hasil khayalan “tahi kerbau”, tapi bersumber dari tumbuhan asli, silahkan googling saja jamur zombie.

Untungnya, menurut penelitian zombie fungus hanya menginfeksi serangga saja, namun bukan mustahil jika kelak jamur Ophiocordyceps ini akan berevolusi, dan The Girl with All the Gifts menjadi kenyataan, seperti apa kata Dr. Malcolm: life, finds a way. Para pecinta zombie apocalypse tentu akan melihat film adaptasi dari novel karangan M.R. Carey ini sebagai tontonan yang menarik, tidak saja karena membuka wawasan akan keberadaan “jamur ajaib” tapi juga komentar sosialnya. Sayangnya, esekusi Colm McCarthy tidak membuat daya tarik tersebut bertahan lama hingga ke penghujung durasi. Paruh pertama The Girl with All the Gifts saya akui amat menjanjikan, kita diperkenalkan dengan Melanie (Sennia Nanua), anak perempuan yang diselimuti oleh misteri. Rasa penasaran penonton terkurung di ruangan bawah tanah bersama Melanie dan anak-anak lainnya yang di-treatment layaknya Hannibal Lecter. Satu persatu karakternya dimunculkan, termasuk Ibu Guru Justineau (Gemma Arterton) dan seorang Sersan bangsat yang diperankan oleh Paddy Considine (The World’s End). Colm McCarthy memanfaatkan sekitar tiga puluh menitan pertama untuk mengajak penonton berpihak dan peduli pada protagonisnya, sebelum melompat menuju konflik.

Setelah membeberkan siapa sebenarnya Melanie dan apa yang akan terjadi pada manusia yang terinfeksi jamur Ophiocordyceps unilateralis, tak perlu waktu lama hingga The Girl with All the Gifts akhirnya mempertontonkan keganasan pasukan zombie-nya. Tensi dibangkitkan secara tiba-tiba, melibatkan para protagonisnya yang berusaha untuk selamat dari amukan hungries yang mengerikan, sampai di bagian ini, saya masih menerima segala usaha Colm McCarthy untuk merekayasa perasaan penonton agar terkoneksi secara emosional dan menciptakan jembatan chemistry antara kita dan karakter-karakternya. Durasi The Girl with All the Gifts nantinya lebih banyak diporsikan untuk perkembangan karakter dengan sesekali diselingi aksi survival, setidaknya Colm McCarthy dan M.R. Carey masih memberi saya beberapa ketegangan mengasyikan saat Justineau dan kelompoknya berada satu frame bersama para hungries yang kelaparan. Saya menyukai konsep budak Ophiocordyceps, desainnya bisa dikatakan sederhana tapi mampu menghadirkan rasa ngeri yang menyenangkan. Sayangnya bagian “menyenangkan” tersebut tak cukup untuk menyelamatkan The Girl with All the Gifts dari rasa bosan yang telah terlanjur menginfeksi sejak di paruh keduanya.

Daya tarik The Girl with All the Gifts tertidur ketika segalanya terasa predictable, penceritaannya yang merangkak tidak lagi punya misteri untuk ditawarkan, saya dipaksa untuk menunggu hasil yang sudah bisa ditebak, termasuk nasib Melanie dan karakter-karakter lainnya. Ditambah lemahnya bagian akting, terutama pada karakter utama yang dimainkan Sennia Nanua, adegan ketika dia menakuti anak-anak yang terinfeksi sungguh memalukan. Gemma Arterton, well dia jelas seperti robot yang memiliki tugas terbatas dan terkesan tidak bisa apa-apa selain tinggal menunggu nasib. Paddy Considine dan Glenn Close sebagai Dr. Caroline Caldwell, keduanya bermain aman untuk karakter yang sama sekali tidak saya pedulikan. Pahitnya, semua karakter justru kehilangan “jiwanya” di saat The Girl with All the Gifts berada di momen-momen pentingnya. Interaksinya hampa dan usaha Colm McCarthy untuk membuat saya peduli pada karakternya pada akhirnya gagal di paruh kedua. Saya menyukai keganasan para hungries dan komentar sosial yang bertebaran di The Girl with All the Gifts, tapi “gigitan”-nya tak meninggalkan bekas apa-apa, film zombie yang akan mudah dilupakan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Surat Dari ...
Review - Iblis (2016...
Review - Raksasa Dar...