Review – Before I Wake

written by Rangga Adithia on November 17, 2016 in American Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Siapa yang tidak ingin mimpi indahnya menjadi kenyataan, seperti kemampuan yang dimiliki Cody Morgan (Jacob Tremblay), seorang bocah delapan tahun yang diberi kelebihan memproyeksikan mimpinya untuk hadir di kehidupan nyata. Ya, sayangnya hanya orang lain yang bisa menikmati keajaiban tersebut, disaat Cody sedang terlelap. Jessie (Kate Bosworth) dan Mark (Thomas Jane) awalnya senang begitu mengetahui anak angkat mereka bisa melakukan keajaiban, terutama saat Cody mengembalikan Shawn lewat mimpi. Duka Jessie dan Mark seperti terobati ketika anak kandung mereka yang sudah meninggal tiba-tiba muncul. Semuanya tampak indah, tapi kemudian makhluk mengerikan pun datang dari mimpi buruk Cody. Before I Wake punya konsep yang terbilang keren, Mike Flanagan memang selalu menawarkan daya tarik yang berbeda di setiap filmnya, dengan kemiripan tema dari karya-karya Flanagan sebelumnya, yaitu dihubungkan dengan benang merah orang-orang yang sedang kehilangan dan berduka. Mereka yang terbiasa dengan suguhan “dongeng” ala Guillermo del Toro, kemungkinan akan menyukai kisah fantasi berbalut horor yang dipertontonkan Before I Wake, tidak sempurna tapi saya menikmati bagaimana cara Flanagan bercerita di film ini.

Berjudul asli Somnia, sebelum akhirnya diubah menjadi Before I Wake, Flanagan tahu benar untuk mendahulukan bangunan pondasi cerita yang solid. Ketimbang sebuah horor, kita akan dibawa masuk dalam drama keluarga di tiga puluh menit pertama Before I Wake. Di bagian ini, Flanagan tak sekedar mampu mengeksplor tema duka menjadi sesuatu yang memikat untuk ditonton sekaligus direnungkan oleh penontonnya, tetapi juga memberi kita ruang untuk berkomunikasi dengan karakter-karakternya. Flanagan memiliki waktu yang cukup untuk menciptakan chemistry antara saya dengan film yang sedang saya tonton, membuat saya pada akhirnya peduli kepada tragedi yang menimpa Jessie dan Mark, serta bagaimana mereka berusaha mengobati luka lewat kehadiran si anak ajaib Cody. Karakter-karakternya diperlakukan tidak berlebihan, begitu juga drama keluarga yang tak diesekusi untuk terlihat sok rumit, dengan interaksi-interaksi sederhana namun bermakna dalam dan terasa hangat. Alur Before I Wake yang tidak terburu-buru mungkin beresiko membuat penonton cepat bosan, apalagi untuk orang seperti saya yang punya masalah melawan rasa kantuk ketika menghadapi film-filmnya Flanagan, tetapi kali ini berbeda, ajaibnya saya terjaga sampai selesai.

Hadirnya Jacob Tremblay berdampak besar pada Before I Wake, seperti yang kita lihat di Room bersama Brie Larson, bakat luar biasanya dalam berakting kembali membuat hati siapapun akan luluh dalam sekejap. Flanagan pun mampu dengan baik memanfaatkan kelebihan Jacob dalam menghadirkan chemistry yang hangat bersama Kate Bosworth yang memerankan Ibu angkat Cody. Dibandingkan film-film Flanagan yang sebelumnya saya tonton, karakter-karakter di Before I Wake bisa dibilang lebih mudah untuk disukai. Hubungan baik karakter dan penonton yang sudah tercipta pun “dirawat” oleh Flanagan, alhasil kepedulian saya dengan Jessie, Mark dan Cody tidak pernah sedikitpun berkurang hingga credit nantinya menggulung di akhir film. Koneksi erat antara saya dengan keluarga Jessie inilah yang membuat betah duduk menghabiskan durasi Before I Wake, selain memang misterinya juga sudah lebih dulu menghadirkan rasa penasaran. Ketika tiba saat untuk Flanagan menebarkan mimpi buruk, tanpa sadar kepedulian kita terhadap Jessie, Mark dan Cody terasa ikut diserang. Otomatis saya ingin mereka baik-baik saja, dan berharap makhluk jelek yang mengganggu kehidupan keluarga kecil ini segera dimusnahkan oleh Flanagan.

Before I Wake diakui bukan tipikal horor yang akan membuat penonton merapal doa karena ketakutan setengah mati, walaupun ada beberapa bagian yang masih bisa disebut mencekam, berkat sentuhan khas Flanagan membangun atmosfir di tiap bagian horornya. Meski tidak seram, lagipula film Flanagan saya pikir bukan jenis film horor yang menakutkan, tapi saya setidaknya bisa menikmati suguhan ketegangan mengasyikkan dipadukan dengan storytelling menyenangkan. Paket kombo yang jarang saya temui di kebanyakan film-film horor, karena standarnya durasi terbuang percuma untuk penampakan instan, sedangkan cerita dinomor-seratuskan. Before I Wake mengembangkan konsepnya menjadi tontonan horor yang sama menariknya dengan ide dasarnya, didukung rancangan kuat pada sisi fantasinya ketika menterjemahkan imajinasi menjadi gambar-gambar indah nan kreatif sekaligus juga mengerikan. Terlepas dari polesan efek visual yang kurang maksimal, tetapi kemunculan si makhluk jelek tetap mampu menghadirkan teror dan menyuntikkan dosis ketegangan yang cukup. Setelah Hush, Before I Wake ini jelas film favorit kedua saya dari Mike Flanagan, sebuah fantasi-horor yang tidak seram tapi tetap memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Bone Tomaha...
Review - Warkop DKI ...
Review - Rumah Malai...