Review – Telaga Angker (1984)

written by Rangga Adithia on October 23, 2016 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with no comments

“Kaulah otak dari segala peristiwa, manusia busuk! Kalian telah merobek-robek kebahagiaan rumah tangga kami, bangsat! Manusia kejam!” Film-film horor yang rilis di tahun 80-an tampaknya begitu “bebas” dalam mengeksplorasi kreativitas, tidak peduli idenya itu rip-off atau nyomot mentah dari film horor Hollywood, era dimana yang namanya hak cipta itu hanya sekedar mitos belaka. Tapi setidaknya orang-orang seperti Sisworo Gautama Putra (Pengabdi Setan, Sundel Bolong) tak punya niat sedikitpun untuk membodohi penonton lewat karyanya. Sisworo buat film untuk menghibur, dan itulah yang saya dapatkan dari salah satu ciptaannya, Telaga Angker yang dirilis pada 1984. Film-film horor lawas lokal, terutama yang dibintangi Suzanna bukan sekedar memberikan hiburan, tapi juga meninggalkan “trauma” menyenangkan yang membekas lama. Berbeda dengan horor kekinian, Sisworo begitu bergantung pada atmosfir, memanfaatkan budaya Indonesia yang kental dengan rasa mistisnya. Meskipun durasi Telaga Angker banyak dihabiskan untuk adegan-adegan konyol, ciri khas Sisworo dalam membangun suasana yang seram tetap bisa saya rasakan. Masih ada beberapa adegan yang bikin bergidik, di tengah kelucuan, ke-absurd-an dan “ketololan” film ini.

Telaga Angker memang tidak seratus persen menakutkan, bahkan dari durasinya yang satu setengah jam tersebut, persentase horornya mungkin hanya tersisa 15 persen saja. Sedangkan 85 persennya didominasi oleh adegan-adegan watdefak bangsat yang membuat kepala saya berputar 180 derajat, lalu berjalan kayang ke tempat tukang tahu bulat biasa mangkal, beli semua tahu sekalian sama gerobak. Telaga Angker memulai ceritanya dengan dipenuhi kebahagiaan, Anita (Suzanna) sebentar lagi akan melahirkan anak keduanya, kehidupan rumah tangganya pun terlihat harmonis dan sempurna bersama Robby (George Rudy) suaminya serta Rian, anak pertamanya. Namun segalanya jungkir-balik jadi mimpi buruk tatkala para perampok menyatroni rumah Anita, yang berujung pada terbunuhnya adik suaminya. Anita yang sempat berhasil melarikan diri akhirnya kehilangan nyawa tenggelam ke dasar sebuah telaga. Semua kemalangan ini mungkin tidak pernah terjadi apabila Robby tidak melakukan kebodohan membuang dompet berisikan KTP. Anita mungkin tidak akan mati mengenaskan lalu jadi hantu gentayangan dengan punggung bolong penuh belatung.

Bersyukurlah Telaga Angker dikarang dan diciptakan oleh orang-orang setengah waras, dengan daya kreasi liar yang melahirkan sebuah kisah sundel bolong epik layaknya sesosok superhero. Dimana lagi kita bisa melihat arwah penasaran yang sedang menuntut balas atas kematiannya, tapi masih punya waktu memberantas kejahatan dengan menghabisi manusia-manusia terkutuk pengedar narkoba. Ya, lupakan Superman atau Batman, karena kita punya pahlawan super yang punya power tidak kalah hebat, sundel bolong yang dapat mengeluarkan sinar laser dari kedua matanya, dan mulutnya menyembur api. “Ingat baik-baik, siapa saja yang membunuh, merampok, memperkosa, melakukan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya, aku akan datang membunuh yang melakukan perbuatan terkutuk.” Disini sundel bolong tak hanya punya tugas menakuti-nakuti tapi juga diberikan peran sebagai penjaga moral dan akhlak penontonnya. Walau humornya tidak jauh dari selangkangan, Telaga Angker pun ternyata seimbang dalam menyodorkan pesan-pesan penuh kebaikan dan juga kebenaran, sungguh tontonan horor yang memiliki hati mulia.

Bicara adegan paling memorable, film yang ditonton sekitar 200 ribuan penonton pada masa rilisnya ini, sebetulnya dijejalkan banyak adegan yang berikan sebuah efek “traumatik” pasca menontonnya. Selain sundel bolong naik eskavator untuk membunuh penjahat bangsat, lalu adanya penampakan kepala mengerikan yang nongol di toilet, adegan lain yang sulit terlupakan adalah ketika Anita ngeborong kerupuk sama kalengnya (mengingatkan adegan membeli soto sama pancinya di Sundelbolong). Dialog pun sekali lagi jadi pelengkap Telaga Angker jadi tontonan yang menghibur, bahkan jika saya menonton sambil menutup mata, tampaknya saya tetap bisa terhibur hanya bermodalkan kalimat-kalimat badass yang keluar dari mulut jahanam si sundel bolong. “Dia telah menjadikan aku setan, sekarang dia harus jadi budak setan.” Ketika memutuskan untuk menonton Telaga Angker (entah untuk keberapa kali) saya memang tidak mencari seram, tapi “nostalgila” merasakan kembali kengehean dan keepikannya. Hasil kolaborasi maut Sisworo Gautama Putra dan Suzanna memang tak pernah mengecewakan penggemarnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Munafik (20...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ratu Ilmu H...