Review – Lukisan Berlumur Darah

written by Rangga Adithia on October 10, 2016 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with no comments

Siapa yang tidak ngeri mendengar judul Lukisan Berlumur Darah, film-film horor lawas kita memang epik dalam urusan memilihkan penamaan untuk menggiring penonton datang ke bioskop. Walau tampaknya kebanyakan penonton membeli karcis tidak untuk horor tapi karena tergiur penampakan “menerawang” Yurike Prastica. Pada jamannya, sinema kita memang diramaikan oleh film-film dengan konten jualan selangkangan, erotis, esek-esek, apapun sebutannya, mewabah ke hampir segala genre, termasuk juga horor. Lukisan Berlumur Darah ini termasuk salah satu yang mengikuti arus, tapi bukan berarti filmnya hanya berisikan orang yang main tidur-tiduran. Disutradarai oleh Torro Margens, yup si host acara Uka-Uka, Lukisan Berlumur Darah tetap memiliki penceritaan yang utuh, meski harus sesekali mempertontonkan adegan-adegan “panas” (tongseng baru diangkat kali panas). Jadi jangan samakan dengan produk mesumnya KKD yang totally dagang kengeresan si pembuat film tanpa ada niatan bercerita di dalamnya. Kenapa saya lagi-lagi harus bawa-bawa nama KKD.

Well, tak ada yang salah dengan horor berbumbu esek-esek selama dibuat benar dan takaran antara horor dan “ho’oh-ho’oh” pun seimbang, bukan sekedar bikin “tegang” semata lalu lupa bercerita, apalagi sampai mengacuhkan penonton yang menunggu untuk ditakut-takuti. Lukisan Berlumur Darah bahkan masih memiliki ruang untuk memunculkan Pak Kyai yang siap memberikan pencerahan tentang agama, termasuk mengingatkan penontonnya agar rajin sembahyang. Tahun 80-an tidak lengkap rasanya jika film horor tanpa hadirnya sosok bersorban, bagian yang sulit untuk dipisahkan, seperti Bokir dan Dorman hahahaha. Jika menengok premisnya, Lukisan Berlumur Darah memang cukup menarik, dimana diceritakan Agus (Dharma Harun Al Rashid) dan istrinya Hanna (Tiara Jacquelina), tinggal di sebuah rumah yang ternyata mewarisi kisah masa lalu yang mengerikan. Setelah menemukan tengkorak terkubur di bawah pohon beringin, kehidupan keduanya bisa dibilang tidak lagi normal, ditambah Hanna yang “terobsesi” dengan gambar perempuan cantik nan misterius.

Jika Ratu Sakti Calon Arang mempunyai keris-keris menyala layaknya lightsaber, keepikan Lukisan Berlumur Darah sudah terjadi bahkan sejak awal film, saat kita dipertontonkan sepasang mata tengkorak yang tiba-tiba mengeluarkan semacam sinar laser. Saya selalu dibuat terkagum-kagum dengan bagaimana film-film kita jaman dulu, khususnya horor, yang mampu menciptakan adegan-adegan kreatif berlevel gila nan liar. Penasaran darimana mereka mendapatkan pencerahannya, apakah ada ritual tertentu? Memanggil arwah sutradara luar negeri untuk diajak konsultasi misalnya. Terserah sumber manapun yang dijadikan inspirasinya dan referensi filmnya, Lukisan Berlumur Darah jelas mampu mencengkram penonton untuk duduk manis hingga tulisan “tamat” muncul di layar. Film yang diramaikan juga oleh kehadiran Mamang Piet Pagau ini punya porsi seimbang antara cekam dan menggelikan, beberapa adegan memang akan membuat tertawa, tapi sisanya cukup berhasil untuk menumpuk rasa penasaran, hadirkan ketegangan dan berikan efek kejut yang mengasyikkan.

Lupakan jump scare ala James Wan, Lukisan Berlumur Darah ternyata merancang adegan mengejutkan yang lebih efektif dalam tujuannya membuat jantung untuk berhenti berdetak. Dengan olahan atmosfer yang tepat, rumah pun tidak sekedar jadi pajangan tapi juga mampu dimanfaatkan untuk menambah rasa tak nyaman, sekaligus memompa suasana menakutkan semakin pekat. Suara teriakan Hanna kemudian melengkapi bangunan horor dan teror dalam Lukisan Berlumur Darah, selagi kita juga dipertontonkan Hanna yang kian berubah jadi wanita haus darah, termasuk nantinya menghabisi nyawa si Kepala Desa yang sudah bau tanah tapi masih saja “gatal” nyosor istri orang. Lukisan Berlumur Darah adalah horor yang dipenuhi pesan-pesan moral, harmonis berdampingan dengan penampakan baju tidur tipis menerawang dan muncratan darah berwarna terang. Selama 80 menit, Lukisan Berlumur Darah bisa dikatakan cukup memuaskan, walaupun tidak ada adegan tengkorak bermata laser berduel dengan arwah Yurike Prastica di akhir ceritanya hahaha.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Deathgasm (...
Review - The Invitat...
Review - Munafik (20...