Review – Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1

written by Rangga Adithia on September 11, 2016 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with 7 comments

Ada keraguan bercampur dengan kekhawatiran kala saya untuk pertama kalinya mengetahui jika Falcon Pictures dan Anggy Umbara berencana “membangkitkan” lagi Warkop DKI, tidak ikhlas rasanya Dono, Kasino, dan Indro harus tergantikan dengan Vino G Bastian, Abimana Aryasatya, dan Tora Sudiro. Walau hasil permak wajah menunjukkan ketiganya bisa dibuat mirip dengan trio pelawak legendaris tersebut, khususnya Abimana, tetap saja saya dibuat pesimis: apakah kekocakan-kekocakan Dono, Kasino, dan Indro ikut juga ter-reborn? Bisakah Vino, Abimana, dan Tora selucu mereka? Untuk orang yang tumbuh bersama bercandaan cerdas, nakal, dan terkadang menjurus selangkangan milik Warkop DKI, kegelisahan itu saya pikir wajar, tetapi tidak serta merta membuat saya langsung menyimpulkan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 ini akan buruk, tanpa lebih dulu nonton filmnya. Anggy Umbara punya tugas yang tidak mudah, menjaga baik-baik legacy yang sudah ditinggalkan Warkop terdahulu dan tak merusaknya di versi reborn, begitupula Abimana, Vino, dan Tora yang sama-sama harus memikul beban yang tak ringan untuk jadi Dono, Kasino, dan Indro.

Lucu atau garingnya Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 nantinya memang bergantung pada masing-masing penonton, toh selera humor tiap orang berbeda. Namun setidaknya kekhawatiran yang saya sempat singgung di awal berkurang, begitu melihat bagaimana Anggy Umbara memperlakukan Warkop versi barunya bukan semata-mata sebagai barang dagangan, melainkan sebuah penghormatan untuk legenda besar. Terlepas ada embel-embel dibagi menjadi dua part di sana, saya sudah bisa (sedikit) ikhlas legacy Dono, Kasino, dan Indro tidak disia-siakan oleh Falcon Pictures. Anggy Umbara pun tampak menguasai source-nya, lihat saja caranya menempeli Jangkrik Boss Part 1 ini dengan berbagai pernak-pernik khas Warkop DKI, sebuah homage ke film-film terdahulu yang sengaja dipertontonkan untuk mengajak kita bernostal-gila. Dari membacakan berita yang isinya ngawur hingga penampakan cewek-cewek seksi yang pastinya akan membuat penonton (terutama penggemar Warkop DKI) akan berceletuk “wah film Dono banget nih.” Bahkan kita diajak jalan-jalan ke Malaysia (Jodoh Boleh Diatur, 1988), bikin saya jadi kangen Si Montok…dan Ibunya.

95 menit Jangkrik Boss Part 1 dapat dikatakan sepenuhnya milik Vino, Abimana, dan Tora, Anggy memberikan panggung yang selebar-lebarnya untuk ketiganya agar bisa membuktikan peran Dono, Kasino, dan Indro memang pantas diwarisi oleh mereka. Langkah yang diambil oleh Falcon Pictures dan Anggy Umbara tepat untuk memilih Vino, Abimana, dan Tora, karena untuk urusan berlakon, saya sih sudah tidak meragukan akting tiga aktor ini, masalahnya apakah mereka mampu kompak untuk menghadirkan tawa ketika disatukan. Apalagi Warkop DKI salah satunya terkenal dengan celetukan-celetukan yang terkesan spontan asal keluar dari mulut Dono, Kasino, dan Indro, tapi mampu ciptakan tektokan lawakan yang tak sekedar lucu tapi juga nyambung. Sudah mirip secara gerak tubuh dan wajah, Vino, Abimana, dan Tora ternyata secara mengejutkan mampu jadi “peniru” yang ciamik saat tiba waktunya melawak, walau materinya kebanyakan sudah pernah dilontarkan di film-film Warkop DKI terdahulu, termasuk ejekan fenomenal milik Kasino dari Dongkrak Antik (1982) yang bawa-bawa monyet bau, kecoa bunting, hingga dinosaurus dan brontosaurus itu.

Saya tidak menyebut Jangkrik Boss Part 1 ini 100 persen lucu, jika ingin menuruti selera humor, setengah lawakan Vino, Abimana, dan Tora sanggup menciptakan keriuhan tawa, tapi sayang sisanya hanya membuat geleng-geleng kepala sambil mempertanyakan letak kelucuannya. Komedi itu relatif, bagi saya tidak lucu, bisa jadi di mata orang lain justru membuat ngakak guling-guling, setidaknya Anggy paham dalam mengarahkan lawakannya agar tidak terlihat murahan dan norak, cocok atau tidak cocok diserahkan kembali kepada penontonnya. Usaha Warkop DKI Reborn dalam menciptakan kelucuan-kelucuan yang tidak membodohi para penontonnya patutlah dihargai, apalagi Anggy memilih untuk mengisi durasi film dengan lebih banyak porsi lawakan yang bersumber dari dialog serta celetukan-celetukan pemainnya, ketimbang bergantung pada lawak slapstik. Sebagai tribut, Jangkrik Boss bagian pertama ini adalah persembahan yang menyenangkan, sebagai pengingat kita memiliki legenda yang lucunya tak lekang dimakan zaman dan tak bisa tergantikan oleh siapapun. Sekarang legacy tersebut dilanjutkan, agar kita bisa terus tertawa sebelum tertawa itu dilarang.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Raksasa Dar...
Review - 3 Srikandi
Tujuh Film Horor Fav...