Tujuh Film Horor Favorit

written by Rangga Adithia on August 26, 2016 in CinemaTherapy and Features and Horror with 5 comments

Beberapa hari yang lalu akun @Bdisgusting—situs yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan horor, mulai dari film hingga game—melempar kicauan di twitter yang bunyinya mengajak followers-nya untuk menyebutkan tujuh film horor favorit mereka dengan menambahkan tagar #fav7films. Saya iseng ikutan, setelah berpikir sebentar akhirnya terkumpul judul film-film horor yang selama ini “nyangkut” di kepala. Semua film yang saya tweet bukan sekedar menakutkan atau mengerikan, tapi layak untuk ditonton berulang-ulang sampai saya berbusa saking senangnya (senang kok berbusa). Jadi Cannibal Holocaust jelas tidak saya masukan dalam daftar film horor favorit tersebut, walaupun membekas layaknya codetan di jidat saya akibat dulu ketika bocah pernah jatuh ke comberan. Tetapi lain cerita jika yang ditanyakan “apa musik tema film horor favorit saya”, oh saya akan langsung berteriak Cannibal Holocaust dengan musik pembuka masterpiece karya Riz Ortolani. Dari sekian banyak film horor yang saya sukai, agak tidak adil rasanya mengerucutkan menjadi hanya tujuh, namun ketujuh film inilah yang mewakili alasan kenapa saya sejak awal menyukai genre horor.

1. Pengabdi Setan

Film yang punya judul internasional Satan’s Slave ini memang diciptakan untuk membuat bulu kuduk penontonnya berdiri dan melompat dari tempat duduknya (orang maksudnya, bukan bulunya). Adegan-adegan mencekam bercampur aduk bersama kengerian yang dapat dirasakan di film yang premisnya fokus pada satu keluarga, yang kehidupannya mulai tak tentram karena diganggu arwah. Apalagi sejak seorang pembantu baru tinggal di rumah mereka, peristiwa-peristiwa yang janggal nan menyeramkan berdatangan silih berganti. Pengabdi Setan bukanlah film yang sempurna, melirik akting para pemainnya yang rada kaku dan klisenya penceritaan yang dihadirkan. Namun sebagai sebuah film horor, kekurangan tadi jadi tiada artinya karena kelebihannya untuk “meludahi” nyali penontonnya, dari bangunan atmosfir yang efektif merangsang rasa takut, hingga penampakan para setan yang menyeramkan. Siapa sih yang bisa lupa dengan karakter Darminah si pembantu yang ternyata penyembah iblis, atau adegan saat arwah sang Ibu tiba-tiba datang nemplok di jendela. Salah satu film horor lokal paling ngehe.

2. The Evil Dead

85 menitan durasi The Evil Dead isinya emang udah disiapkan untuk merangkai kata awesome di akhir film. Tidak saja bikin lo yang doyan gore langsung “mandi wajib” sehabis nonton The Evil Dead, tapi juga ngerasa kayanya semua film horor nga ada lagi yang asyik, agak lebay tapi itulah yang gw rasain setelah mental dan jiwa “diperkosa” habis-habisan oleh kebejatan Sam Raimi dalam menghadirkan adegan-adegan bangsatnya. Film sedari awal ngajak “main”, main tusuk-tusukan, bacok-bacokan, ngancurin kepala, di akhir The Evil Dead bikin lo seneng mampus habis ngeliat itu semua, bebas dari manyun dan ampe seminggu kedepan dijamin senyum terus walau sadar gaji belum juga di-transfer. The Evil Dead menjadi film horor yang sempurna (buat gw) bukan karena terlalu sadis, efeknya pun konyol, nga bermoral, berdarah-darah—tapi karena film ini sudah bikin gw seneng, The Evil Dead adalah sebuah paket horor yang jarang lagi ditemui di film horor-horor modern kekinian, tontonan horor yang sukses bikin gw takut setengah mampus sekaligus girang setengah gila. Ada yang mau coba kakinya ditusuk pensil?

3. The Cabin in the Woods

Tingkat menyenangkan yang tak dapat diungkap oleh bahasa manusia, The Cabin in the Woods adalah film sangat tidak serius yang dibuat dengan serius. Tidak pernah menyangka apa yang kemudian tersaji selama 95 menit durasinya justru melebihi apa yang dibayangkan, bisa saya katakan sebuah kenikmatan yang lebih nikmat dari sekedar “mimpi basah” di siang bolong, atau mimpi dikelilingi oleh personil JKT48. Kenapa lebih baik? ya karena itu semua hanya mimpi, sedangkan The Cabin in the Woods sudah menawarkan pengalaman menonton yang nyata, bagaikan sebuah “mimpi basah” para penggemar horor yang menjadi kenyataan. Menakutkan, menggelikan, mengagetkan, dan mengacak-ngacak isi kepala saya, melumerkan otak seperti es krim yang terkena panas, dan saya tak ada habisnya bersorak-sorai gembira, layaknya baru lulus dari ujian tersusah. Memang tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan The Cabin in the Woods, selain ya sebuah perayaan bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai pecandu horor, tribut gila dari Goddard dan Whedon untuk genre horor yang selama ini saya cintai.

4. The Blair Witch Project

Seram atau tidaknya The Blair Witch Project hanya persoalan selera, di tengah berjamurnya horor dengan model serupa, found footage, sekarang-sekarang ini, saya pikir horor yang dirajut oleh Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez tidak akan luntur di telan jaman dan justru akan jadi seperti sebuah benchmark untuk film-film sejenis yang bermunculan beberapa tahun belakangan. Kerennya The Blair Witch Project ada pada kesederhanaan esekusinya namun begitu efektif saat tiba waktunya berbicara soal membangun atmosfir dan menghadirkan suasana horor yang meyakinkan. The Blair Witch Project mengingatkan saya jika film horor juga bisa sangat menyeramkan, tanpa harus membeberkan apa yang memang sudah seharusnya tidak terlihat oleh mata. Justru dengan cara memanfaatkan suara nan gaduh yang datangnya entah darimana, ditambah ekspresi meyakinkan Heather, semua sudah cukup untuk pada akhirnya memicu ketakutan saya secara spontan memproses bayangan-bayangan menyeramkan di kepala sendiri. The Blair Witch Project belum memperlihatkan apa-apa, nyali saya sudah dibuat ciut duluan.

5. The Shining

Setiap orang mungkin punya favoritnya masing-masing jika berbicara soal film-film Stanley Kubrick, saya terkagum-kagum oleh 2001: A Space Odyssey, tapi The Shining tetap pujaan. Secara teknis pembuatan dan artistik, film ini adalah maha karya yang sulit untuk ditandingi oleh film horor lainnya, saya menyebutnya film horor indah. Terlalu banyak yang saya sukai dari The Shining, mulai dari Kubrick menuturkan babak demi babak, hingga bagaimana nantinya dia menggiring saya dalam sebuah “perangkap” berbentuk hotel, lalu mengisolasi saya untuk jadi gila bersama Jack Torrance (Jack Nicholson). Tinggal sendirian di sebuah hotel besar memang dari awal adalah ide yang buruk, Kubrick memperlihatkan kengerian di Overlook perlahan demi perlahan, atmosfirnya dibuat tidak mengenakan dengan tujuan mengganggu kenyamanan, dan gambar-gambar disturbing yang nantinya hilir-mudik sukses merusak ketenangan. Seram mungkin bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang dipertontonkan Kubrick di The Shining, karena ternyata ada yang lebih menakutkan dari hanya sekedar penampakan hantu.

6. Night of the Living Dead

Serial The Walking Dead yang membosankan itu boleh saja jadi biang kerok yang mempopulerkan zombie jadi se-mainstream sekarang. Dulu, siapa sih yang peduli sama film zombie? walaupun ada Dead Snow, Braindead, 28 Days Later, Pontypool dan Rammbock yang kesemuanya sudah membuktikan kalau film zombie itu bisa keren. Lalu ada Night of the Living Dead, salah satu film yang bertanggung jawab membuat saya jadi mencintai mayat hidup (maksudnya film-film zombie). Serba hitam putih ternyata menjadikan jombi-jombi terlihat makin menyeramkan saja, menutupi balutan make-up yang sederhana—termasuk efek darah yang terbuat dari adukan sirup cokelat dan isi perut yang disumbangkan dari toko daging. Ya, zombie kekinian yang lebih doyan berlari menyaingi Usain Bolt memang tampak mengerikan (saya senang zombie kenceng), tetapi Romero di Night of the Living Dead tahu bagaimana menciptakan pemakan otak untuk tidak sekedar menakuti, dia juga memasukan keresahannya, ada komentar bernada sinis dan satir, kedua elemen ini akan menjadi semacam ciri khas film-film zombie garapan Romero.

7. The Exorcist

Your mother sucks c*cks in Hell, Karras, you faithless slime. Bicara soal film horor bertemakan pengusiran setan, sulit rasanya untuk menandingi The Exorcist. Apa yang ditawarkan William Friedkin pun bukan semata-mata hanya menyeramkan, dengan sosok Regan yang gemar berkata kotor dan nyemprotin muntahan warna hijau ke wajah pendeta, tapi juga mengisahkan tentang harapan. The Exorcist tak sekedar mengumbar adegan-adegan mengerikan, dari aksi akrobat jalan kayang di tangga sampai babak pengusiran setan yang merasuki Regan, film ini memiliki motivasi dan karakter-karakter yang membuat penontonnya peduli. Menakutkan memang tujuan The Exorcist, William Friedkin pun tahu bagaimana menciptakan adegan seram yang berkelas, memanfaatkan segala elemen untuk menghadirkan suasana mencekam yang pekat—musik scoring dan setting-nya amat mendukung munculkan rasa yang tidak menyenangkan. The Exorcist adalah obat yang paling manjur jika ingin ditakuti, dan saya selalu merindukan rasa takut yang film ini berikan. Stick your c*ck up her a**, you motherf***ing worthless c*cksucker.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Headshot
Review - Istirahatla...
Review - The Void (2...