Review – The Wailing (2016)

written by Rangga Adithia on August 31, 2016 in Asian Film and CinemaTherapy and Thriller with 12 comments

Ketika Asia tidak lagi sehebat dulu dalam memproduksi film hantu-hantuan, yah bahkan Sadako dan Kayako yang seharusnya sudah “dipensiunkan” itu terpaksa dibangkitkan lagi untuk menakut-nakuti penonton. Tetapi setidaknya untuk soal tontonan thriller yang berdarah-darah nan berantakan, kita tidak perlu khawatir, apalagi jika film-film itu datang dari negeri ginseng yang notabennya melahirkan orang-orang gila macam Kim Jee-woon, Bong Joon-ho, Jang Cheol-soo, Park Chan-wook, dan Na Hong-jin. Saya memang bisa menemukan film-film thriller bangsat dari benua lain, tapi Korea Selatan punya ciri kebangsatan yang tiada duanya, tak dimiliki oleh Amerika ataupun Eropa. Oldboy, I Saw The Devil, Bedevilled, dan The Chaser tak sekedar menawarkan kebrutalan yang mengasyikan semata, hebatnya film-film thriller Korea Selatan terutama terletak juga pada penceritaannya. Daya imajinasi liar mereka seakan tidak pernah mengenal kata istirahat, ide-ide sakit jiwa selalu dipakai menjadi bahan bakar utama untuk menggerakkan kreativitas dalam mendobrak batas kenormalan.

Tak terkecuali The Wailing, sebuah kegilaan terbaru yang tercipta dari kepala Na Hong-jin ini seperti mempertegas jika Korea Selatan memang negeri yang subur ide sinting, tidak hanya ginseng merah. The Wailing bisa dikatakan muncul disaat yang tepat, kala kerinduan akan kebengisan thriller Korea Selatan berada di titik puncak, jadi kedatangan Jong-Goo, polisi plenga-plengo-konyol yang diperankan Kwak Do-won, tentunya saya sambut dengan suka cita. Oleh Na Hong-jin, si polisi ini nantinya dihadapkan pada rentetan kasus pembunuhan misterius yang mulai menyebar bagaikan wabah penyakit. Awalnya Jong-Goo berasumsi kejadian aneh ini ada hubungannya dengan keracunan jamur, tapi semakin dalam penyelidikan, Jong-Goo justru menemukan petunjuk-petunjuk yang mengarahkan dirinya pada sesuatu yang jauh lebih mengerikan. The Wailing langsung menodongkan banyak tanda tanya sejak awal kita berdiri di tengah TKP yang berantakan dengan mayat dan darah. Kita sama bingungnya dengan Jong-Goo ketika melihat desanya yang damai seketika dirubah menjadi “rumah jagal” oleh Na Hong-jin sialan.

Apabila sudah terbiasa dengan thriller Korea Selatan, formula penceritaan di The Wailing bakal terasa sangat familiar, Na Hong-jin mula-mula akan mengajak kita untuk menikmati tiap kekonyolan dan kebodohan yang datangnya dari Jong-Goo. Bagaimana film-film thriller Korea Selatan menciptakan karakter utamanya bisa disebut ajaib, tapi disitulah sumber keunikannya, dan saya selalu bisa terhubung dengan mereka, termasuk Jong-Goo yang tampangnya menggelikan. Orang-orang biasa yang (terpaksa) berhadapan dengan brutalnya hidup, template inilah yang menjadikan karakter di film-film thriller Korea Selatan terlihat lebih manusiawi dan tidak dibuat-buat. Perlakuan Na Hong-jin terhadap karakternya tak sekedar membuat mereka hanya menjadi bahan tontonan, tapi juga menciptakan koneksi dengan penontonnya. Sambil kita perlahan diseret-seret lebih jauh masuk dalam pusaran misteri yang dipenuhi kengehean dan keanjingan (bahasa planet mana pula ini), Na Hong-jin juga memperlihatkan bangunan karakter yang menarik di The Wailing, Jong-Goo yang kalem, sayang keluarga dan takut mertua ternyata bisa berubah jadi buas.

Na Hong-jin memanjakan mereka yang memang menyukai film-filmnya, gayanya, dan selera dalam menghadirkan kegilaan, suspense serta kekerasan dosis tinggi. Paruh pertama The Wailing memang terasa mengambang, tapi bukan berarti tak ada adegan yang membuat saya berteriak “anjing benar kau Na Hong-jin!” sambil membentur-bentur kepala ke bantal guling. Na Hong-jin ini “pemancing” handal, dia tahu bagaimana membuat penontonnya yang penasaran setengah mati serta lapar akan jawaban pada akhirnya “memakan” umpan buatannya. Butuh sedikit kesabaran, tapi nantinya sepadan ketika The Wailing melangkah ke paruh kedua yang dipenuhi kejutan-kejutan menggila. Na Hong-jin memang sukses membuat mulut saya terbuka lebar tatkala lapis demi lapis misterinya mulai diungkap, tapi apa yang membuat saya semakin menyukai The Wailing adalah sisi supranatural beserta elemen relijius terkait keberadaan iblis. Setelah The Conjuring 2, lalu ada Munafik, kita kembali diingatkan bahwa iblis laknat akan melakukan banyak trik untuk menambah calon penghuni neraka.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Turbo Kid (...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Rumah Malai...