Review – Munafik (2016)

written by Rangga Adithia on August 20, 2016 in Asian Film and CinemaTherapy and Horror with 9 comments

Saya bisa dibilang belum lama mengenal sinema horor Malaysia, kira-kira sekitar tahun 2009 dimulai dengan Zombi Kampung Pisang, setelah itu saya jadi tertarik untuk mencicipi beberapa judul film horor asal negeri seberang tersebut. Karena masih satu rumpun, rasa mistisnya pun tak ada beda dengan film-film horor kita, bahkan disana ada hantu kuntilanak yang biasa disebut pontianak. Awalnya agak kaget ketika tahu Malaysia ternyata mampu melahirkan horor-horor yang seram, seperti Khurafat: Perjanjian Syaitan, karena selama ini saya berkiblat hanya pada Jepang, Korea dan Thailand (selain horor bangsa sendiri) untuk urusan dedemit-dedemitan. Saya juga menemukan kalau per-horor-an di Malaysia cukup variatif, tak hanya berputar pada satu tema, selain hantu-hantuan ada juga slasher seperti Claypot Curry Killers (sempat ditayangkan di INAFFF 2011), atau yang dikemas dengan gaya found footage seperti Seru. Nah, yang paling terbaru ada Munafik, di Malaysia sendiri film garapan Syamsul Yusof ini kabarnya jadi paling laris ketika dirilis, mengumpulkan kira-kira RM 19 juta hingga hari ke-49 penayangannya.

Maria (Nabila Huda) dipercaya telah kerasukan arwah jahat, dipanggilah seorang Uztad bernama Adam (Syamsul Yusof) yang awalnya menolak untuk menangani kasus kesurupan, sejak kecelakaan yang telah merenggut nyawa istrinya. Karena tidak ada lagi orang yang bisa membantu, Adam terpaksa datang ke rumah Maria dan mencoba mengusir apapun yang memasuki tubuhnya. Dibantu teman, Adam tidak henti-hentinya membaca ayat-ayat suci hingga akhirnya roh jahat tersebut kalah dan keluar dari tubuh Maria. Sayangnya, kekuatan gaib tampaknya belum mau menyerah, selain kembali mengganggu Maria yang baru saja “sembuh,” iblis laknat pun menyerang Adam yang kala itu sedang dalam kondisi rapuh, imannya goyah karena belum bisa mengikhlaskan kepergian istrinya. Munafik seperti juga Khurafat, tergolong dalam horor yang kental akan nuansa religius, tapi tak serta merta membuat Syamsul Yusof bebas menjadikan filmnya hanya sebagai mimbar untuk berceramah semata. Munafik tahu bagaimana memposisikan agama untuk jadi penyeimbang, di kala Syamsul sedang asyik menakut-nakuti penontonnya.

Munafik kembali mengingatkan bahwa iblis punya banyak trik untuk jerumuskan umat manusia ke dalam siksa api neraka. Lewat penampakan seram atau mimpi buruk, inilah cara-cara iblis untuk menggoyahkan keyakinan orang-orang yang beriman, menyesatkan mereka untuk melupakan kebesaran Tuhan. Kita bakalan dipertontonkan segala macam tipu daya Iblis dalam usahanya menjauhkan anak cucu Adam dari pintu surga. Munafik akan banyak memperlihatkan kemampuan iblis untuk menggoda manusia, sesuai janji mereka ketika diusir dari surga. Iblis mampu berubah wujud menyerupai Maria untuk memperdaya Fazli, kekasihnya Maria, kemudian menghasut kalau Adam sudah pernah menidurinya. Fazli jelas murka termakan kebohongan iblis laknat, mendatangi Adam dan hampir habisi nyawanya. Munafik mengajarkan saya kelaknatan iblis tanpa harus menceramahi terang-terangan, namun secara halus menyelipkan pesan-pesan kebaikan agama tersebut dalam setiap adegannya. Cara Syamsul menakut-nakuti memang diakui efektif timbulkan rasa ngeri, tetapi kengerian yang sebenarnya adalah ketika kita mengetahui betapa mudahnya manusia terpedaya bujuk rayu iblis yang terkutuk hingga akhirnya jatuh dalam jurang kesesatan.

Dari adegan Maria kerasukan iblis laknat hingga Adam gotong-gotong pocong, si Syamsul paham betul bagaimana menciptakan suatu kengerian di Munafik, tanpa harus melulu bergantung pada jump scare. Pola menakuti yang dipakai Syamsul sebetulnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya ketika menyerang nyali penontonnya di Khurafat. Permainan suara dan atmosfir mencekam masih menjadi andalan Syamsul untuk merangsang rasa takut, bisa dibilang saya sudah lebih dulu dibuat dag-dig-dug-ciut sebelum penampakannya dimunculkan. Well, untuk urusan penampakan pun Syamsul tidak sembarangan dan menempatkan para pemainnya yang sudah dipermak jadi hantu di posisi yang tak diduga-duga, plus dengan waktu kemunculan yang pas untuk memaksimalkan daya kejutnya. Dampak kejutan yang pengaruhnya lebih terasa ketimbang jump scare murahan yang hanya mengandalkan efek suara tidak karuan yang volume-nya ditinggikan. Saya puas sekaligus menikmati suguhan uji nyali yang dipersiapkan matang oleh Syamsul Yusof di Munafik, salah satu film horor menyeramkan tahun ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - 3 Srikandi
Review - The Wailing...
Review - Before I Wa...