Review – Juara (2016)

written by Rangga Adithia on April 17, 2016 in Action and CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

Jujur, saya awalnya sempat ragu ketika mengetahui Bisma Karisma akan main di sebuah film laga, tapi bermodalkan teaser trailer yang menyuguhkan aksi tarung dirinya melawan Cecep Arif Rahman, keraguan tersebut kemudian bergeser jadi rasa penasaran yang amat besar, apalagi ada nama Charles Gozali duduk di kursi sutradara. Jika ada orang yang saya percayai dapat membuat Bisma terlihat jago berantem, orang itu adalah Charles, sutradara yang tidak pernah main-main soal akting. Juara punya potensi untuk jadi tontonan lintas genre yang mengasyikan, saya tidak akan meragukan Charles dalam urusan drama-dramaan dan komedi, Nada Untuk Asa dan Finding Srimulat buat saya sudah cukup jadi jaminan kalau Charles nantinya bisa membuat drama yang berhati bukan hanya hujan tangisan belaka, serta candaan yang lucunya beneran bukan dibuat-buat. Berangkat saya ke bioskop langganan untuk menonton Juara, film baru mulai sekitar 10 menitan saya sudah menyukai interaksi antara Bisma dan Cut Mini. Selanjutnya keraguan apakah Bisma bisa berantem, secara perlahan terhapus setelah dia menunjukkan beberapa jurusnya untuk menghajar penjahat tengil dan tukang bully sok jagoan.

Melirik ceritanya, Juara agak mengingatkan saya dengan film-film sejenis Karate Kid, dimana nantinya Bisma yang hanya anak tukang bakmi harus rela jadi bahan bully senior-seniornya di kampus. Karena tidak punya dasar beladiri untuk balas pukul, lemparan batu pun hanya bisa dibalas kulit pisang. Tidak kapok diganggu, Bisma malah nekat mendekati Bella (Anjani Dina), kakak senior cantik yang telah membuat Basmi…eh Bisma jatuh hati. Ulah Bisma pun makin membuat murka si Attar (Ciccio Manassero), senior-tukang-bully-sok-mafia-sok-ganteng yang sudah lama mengincar Bella untuk jadi pacarnya. Tak diperbolehkan ibunya berurusan dengan yang namanya belajar berantem, Bisma hanya bisa pasrah dan bertahan jadi bulan-bulanan bully Attar dan gengnya. Hingga akhirnya pertolongan datang di saat Bisma sedang dihajar habis-habisan. Siapa yang menolong? Bukan, bukan Aa Azrax tapi seseorang yang dekat dengan Bisma, tapi dengan metode yang tak disangka-sangka. Kejutan agak nekat yang disodorkan oleh Juara ini awalnya sih sempat membuat saya mengernyitkan dahi, butuh proses untuk mencernanya.

Lebih aneh lagi jika tiba-tiba Aa Azrax muncul menembus kobaran api atau jatuh dari langit menolong Bisma. Saya pada akhirnya bisa berdamai dengan tambalan fantasi yang menambah ramai kisah from zero to hero di film yang ceritanya hasil karangan Charles bersama Hilman Hariwijaya ini. Darimanapun kekuatan Bisma berasal nantinya, entah itu belajar sama Mr. Miyagi ataupun tiba-tiba kerasukan Bruce Lee, Charles setidaknya sudah membuat Juara menjadi tontonan yang bisa dibilang mengasyikan. Walaupun berisi campuran tema, tapi pembagian porsi di masing-masing tema terlihat tak saling sikut, tapi justru kompakan bekerja sama untuk menghadirkan sebuah film utuh yang akan menghibur penontonnya. Saya melihat dramanya membantu kita untuk lebih peduli dengan perjuangan Bisma, Charles sekali lagi mampu menjembatani karakternya untuk terhubung dengan penonton. Ada kehangatan yang amat terasa saat Bisma dan Mamah Sarah hadir dalam satu adegan, mau itu sedang beradegan bercanda ataupun tangis-tangisan, semua berkat bangunan chemistry yang begitu kuat antara mereka berdua. Hati siapa yang tak akan terketuk melihat ikatan Ibu dan anak ini, bahkan Cecep Arif Rahman mungkin sengaja pakai kacamata untuk menyembunyikan air matanya.

Drama menjadi pilar penting yang menopang tak hanya bagian laga bag-big-bug di Juara, tetapi juga jalinan romansa penuh gombalan antara Bisma dan Bella. Ya, walaupun beberapa dialognya terdengar menggelikan, saya masih bisa maklumi, toh bagian percintaannya memang menyesuaikan karakter si Bisma yang sedari awal dibuat komikal dan agak alay hahaha. Sealay apapun, lucunya saya bisa kian peduli dengan karakternya, karena Charles menuturkannya untuk bisa dinikmati berbagai jenis penonton, bukan hanya mereka yang menyebut dirinya Bismaniac atau Smashblast. Ketika tiba gilirannya Juara untuk memamerkan aksi berkelahi, segala koreografi pukulan dan tendangan tersaji mantap, meyakinkan dan terasa punya power, tak asal tonjok sana dan tonjok sini. Bisma di luar dugaan mampu tampilkan yang terbaik, di saat beradu akting dengan Cut Mini, Tora Sudiro, atau Anjani, maupun ketika beradu jurus dengan Kang Cecep. Berimbang antara haru, keseruan aksi baku hantam, dan komedi yang lucu, Juara adalah tontonan paket lengkap yang menghibur, menyenangkan, sekaligus memiliki hati yang besar.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Talak 3
Review - Don't Breat...
Review - Ouija: Orig...