Review – Ghost Diary (2016)

written by Rangga Adithia on April 8, 2016 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 4 comments

Dulu, mungkin saya bisa kuat nonton film horor lokal tiap seminggu sekali, entah itu film horor garapan Nayato atau film horor buatan rumah produksi K2K. Kala keduanya masih rajin “nyampah” di bioskop, saya memang masih dalam kondisi prima untuk melahap segala jenis horor berkualitas terbelakang. Masa Jahiliyyah tersebut sudah berlalu, walaupun sampai sekarang “hobi” saya nonton film horor ajaib tetap susah sekali untuk dihentikan, tapi setidaknya frekuensinya tidak lagi sesering dahulu. Saya masih menonton film Nayato, terakhir saya hampir sekarat disiksa oleh Takut: Tujuh Hari Bersama Setan, saya beruntung selamat tetapi efek psikologisnya tetap bisa dirasakan hingga sebulan. Saya jadi lebih sering sendiri, kadang depresi dan tidak nafsu makan. Makanya saya tidak bisa membayangkan jika harus menghadapi film-film horor seperti itu setiap minggu, mencicipi sekali dalam sebulan saja tampaknya bakal mikir seribu kali. Resikonya besar dan saya masih sayang nyawa. Apalagi saya selalu ingat nasehat Mamah yang bilang sehat itu mahal, lebih baik mencegah daripada mengobati. Jadi demi alasan kesehatan, film horor lokal macam Ghost Diary ini baiknya dikonsumsi dua bulan sekali atau tidak perlu ditonton sama sekali. Sialnya, bisikan setan selalu menggoda saya.

Kebiasaan lama memang susah hilangnya, termasuk mengawali paragraf review dengan curhat. Maafkan saya, padahal sudah beberapa orang yang mengkritik isi tulisan saya untuk jangan banyak curhat, lebih baik langsung ngomongin filmnya atau selipkan sedikit sinopsis. Harap maklum, efek tidak menulis hampir sebulan membuat saya lupa bagaimana caranya menulis resensi dengan baik dan benar, eh tapi tunggu dulu, sejak kapan review saya ditulis dengan benar hahahaha. Loh, malah bercanda terus, sekali lagi mohon maklumi jika tulisan saya terkesan tidak serius. Tapi untuk film seperti Ghost Diary, bercanda adalah salah-satu cara saya untuk tidak berakhir depresi, saya tidak mau kejadian setelah menonton Takut: Tujuh Hari Bersama Setan terulang kembali. Ghost Diary bakal memperkenalkan kita dengan Marsha (Dhea Annisa), karakternya tidak akan asing untuk pemirsa televisi, khususnya para pecinta sinetron hidayah. Tokoh yang nantinya sengaja dibuat paling menderita untuk meminta belas kasihan penonton. Dari sering jadi korban bully sampai punya ibu tiri yang jahat. Ketika teman-temannya yang lain memanfaatkan liburan dengan bertemu orang tua, Marsha justru tetap tinggal di asramanya, terpaksa, karena ibu tirinya tidak suka dia ada di rumah.

Kasihan Marsha, tidak diterima di rumah sendiri, liburan hanya di asrama, terus diganggu hantu pula. Untungnya Marsha tidak sendirian, ada para pem-bully-nya yang juga menghabiskan liburan di asrama karena kena hukuman, dan ada Rossa si pembina asrama yang di seragamnya ada simbol freemason (silahkan googling sendiri bentuk logonya). Misteri hadirnya logo tersebut lebih menarik ketimbang keseluruhan Ghost Diary, apakah filmnya asal main comot untuk hiasan, atau ada semacam teori konspirasi yang menghubungkan sekolah tempat dimana Marsha menuntut ilmu, dengan perkumpulan rahasia yang sering dikait-kaitkan sebagai para penyembah setan. Apakah Kak Rossa yang terlihat baik-baik kepada Marsha itu sebetulnya hamba Lucifer? Mendirikan asrama untuk kedok misi perekrutan jemaat baru sekaligus menjebak korban untuk ditumbalkan. Sayangnya, film tak pernah menjelaskan keterkaitan lambang freemason itu dengan asrama ataupun Kak Rossa, semua tetap jadi misteri hingga durasi berakhir. Mungkin penjelasan yang saya cari akan terungkap di sekuelnya, apalagi Ghost Diary berakhir dengan adegan yang kembali memancing seribu pertanyaan, tapi saya tidak mau spoiler.

Ghost Diary memang tahu bagaimana menyajikan film horor yang membuat saya tidak hanya diam menonton, tapi ikut mengajak berpikir keras menjawab setiap pertanyaan dan misteri yang dihadirkan. Selain lambang freemason, tanda tanya besar lainnya adalah tentang kesaktian Marsha yang mampu mendobrak sebuah pintu dengan mudahnya. Apakah Marsha sebenarnya punya kekuatan yang tidak dia sadari atau sengaja disembunyikan? Mungkin Marsha memang diutus untuk menghancurkan perkumpulan yang dipimpin oleh Kak Rossa, dengan menyamar sebagai murid paling lemah tidak berdaya yang kerap jadi target bully-an. Sekali lagi film ini tidak pernah memberi penjelasan yang masuk akal kenapa si Marsha yang tubuhnya paling mungil bisa sangat gampang mendobrak pintu (ini sengaja diulang). Saya berharap di sekuel Ghost Diary, sosok Marsha bisa ditambah latar belakang yang lebih mendalam, karena jujur di film pertama ini saya tidak diberi waktu banyak untuk mengenalnya, jadi susah rasanya untuk lebih peduli dengan Marsha hanya bermodalkan alasan dia sering kena bully saja. Semoga sekuelnya pun punya kualitas yang lebih baik, tidak ada lagi dialog ala sinetron, karakter-karakter yang ngomong sendirian, penampakan berisik minta ampun dan hantu celangap yang eksis setiap 6 setengah menit sekali.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Turbo Kid (...
Review - Lights Out
Review - Telaga Angk...