Review – Talak 3

written by Rangga Adithia on February 14, 2016 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with one Comment

Terlanjur sudah mentalak tiga istrinya, Bagas (Vino G Bastian) terpaksa mencari cara curang untuk rujuk kembali dengan Risa (Laudya Cynthia Bella), mengakali aturan agama yang mengharuskan adanya Muhalil. Dari mencoba menyuap KUA sampai nantinya menyewa suami kontrak untuk nikah bohong-bohongan dengan Risa. Tapi tidak mudah mencari calon suami yang memenuhi syarat, apalagi yang setuju untuk tidak meniduri Risa. Didesak oleh tanggal jatuh tempo pembayaran kredit rumah, dan demi proyek besar yang bakal selamatkan kondisi keuangan, Bimo (Reza Rahadian) akhirnya jadi satu-satunya harapan Bagas dan Risa. Bimo pun setuju setelah sebelumnya menolak karena dia tidak mau berbohong, tetapi dia tidak tega melihat kedua sahabatnya yang butuh pertolongannya. Premisnya bisa dibilang menarik untuk dibawa ke ranah komedi romantis, terbayang akan terjadi banyak kekacauan diantara proses rujuknya Bagas dan Risa. Terlebih lagi, Talak 3 berada di tangan yang benar, ada Hanung Bramantyo yang punya banyak jam terbang menangani rom-com berkualitas, berduet dengan Ismail Basbeth si sutradara langganan festival yang sebelumnya menggarap Mencari Hilal.

Duet Hanung dan Ismail ternyata memang maut, semaut goyangan Siska Nggotik yang sudah berhasil membuat dengkul Mas Bagas lemas. Jika ditengok sekali lagi trailer-nya, saya tidak menyangka jika kolaborasi keduanya mampu melahirkan film komedi romantis dengan rasa yang dahsyat. Maaf saja, karena apabila boleh berkata jujur cuplikan Talak 3 yang berdurasi dua menitan tersebut tampak tak lucu dan garing. Hanung dan Ismail seperti menjungkir-balikan ekspektasi yang awalnya biasa-biasa saja, 10 menit sudah cukup untuk membuat saya kemudian terpikat dengan kisah Bagas dan Risa yang mau rujuk ini. Paruh awal Talak 3 tak banyak basa-basi, Hanung dan Ismail memanfaatkan betul waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya, memperkenalkan karakternya sambil menyeret kita ikut peduli dengan masalah yang tengah dihadapi, tentu saja dengan cara yang paling tidak serius. Kita akan dipertontonkan beragam atraksi kocak, kebanyakan bakal berasal dari orang-orang KUA. Trio Dodit Mulyanto, Gareng Rakasiwi, dan Hasmi (pencipta Gundala) paling bertanggung jawab membuat perut saya sakit.

Komedi jadi cara Talak 3 untuk mencuri perhatian penonton, selama paruh awal kita akan diajak tertawa terpingkal-pingkal melihat upaya Bagas dan Risa untuk bisa berstatus suami-istri lagi. Strategi ampuh yang pada akhirnya membuat kita setidaknya merasa dekat dengan karakter-karakternya. Komedi juga secara tidak langsung jadi alat dakwah, menyampaikan sedikit ajaran Islam, termasuk aturan tentang talak itu sendiri. Sambil ngakak, kita juga dikasih ilmu. Barulah saat film bertemu konflik yang sebenarnya, Hanung dan Ismail perlahan merubah suasana yang tadinya penuh canda menjadi agak serius, kemudian serius banget. Setelah dibuat terpingkal, Hanung dan Ismail sekali lagi membuat saya jungkir balik, kali ini giliran mood saya yang terjungkir. Tawa berganti jadi haru, Talak 3 di separuh keduanya benar-benar menguji daya tahan hati penontonnya, tak ada lagi orang-orang KUA yang mengocok perut, hanya ada Bagas, Risa, dan Bimo yang sengaja kompakan untuk membuat emosi kita terguncang hebat. Hasilnya bioskop yang sebelumnya terdengar riuh suara penonton tertawa, seketika terdiam, hanya ada hening dan sayup-sayup suara perempuan terisak-isak di belakang saya.

Satu setengah jam dibagi merata, antara porsi bercanda dan saat tiba waktunya untuk Talak 3 mendekap erat penontonnya untuk diajak lebih serius. Setelah kita puas tertawa, Hanung dan Ismail pun tahu bagaimana merebut hati penontonnya dengan berbagai adegan haru. Semua adegan tersebut, entah itu ketika bercanda ataupun serius, efeknya terasa maksimal berkat suguhan akting yang memukau dari Vino G Bastian, Laudya Cynthia Bella dan Reza Rahadian. Ketiganya tak saja membuat karakter yang mereka mainkan menjadi lebih mudah untuk kita sukai, tapi juga menempatkan emosi mereka dengan takaran yang pas di setiap adegan. Jadi ketika saya melihat Vino sedang meledak marah-marah, Bella sedang nangis ataupun Reza yang terlihat menahan amarahnya, tak ada kesan berlebihan atau lebay. Alhasil kita tidak seperti dipaksa untuk merasakan, tetapi ikhlas mau ikut bisa merasakan apa yang Bagas, Risa dan Bimo rasakan. Tidak ada teriakan Vino yang mubazir atau air mata Bella yang nantinya seperti terbuang percuma. Vino, Bella dan terutama Reza tak saja tampil total tapi juga gila, seperti Talak 3 yang memang gila. Ruangan kamar Bimo jadi saksi betapa “gila” akting tiga orang itu. Salam cinta.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Bone Tomaha...
Review - Indonesia K...
Review - 3 Srikandi