Review – Some Kind of Hate

written by Rangga Adithia on February 29, 2016 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Bismillahirrohmanirrohim. Kala film-film horor dengan kelebihan bujet malahan seringkali mengecewakan—misalnya The Forest yang dibintangi Natalie Dormer, atau The Boy—film horor kecil macam Some Kind of Hate yang hanya punya bujet $200,000 justru lebih tahu bagaimana menghabiskan uang dengan benar. Walau dilirik dari segi penceritaan, premis yang diusungnya memang tidak baru, tetapi Adam Egypt Mortimer mampu menambahkan elemen-elemen menarik pada film horornya, termasuk menyempilkan sedikit pesan tentang bullying. Some Kind of Hate memang bukan film horor pertama yang menyinggung isu kekerasan dalam dunia pendidikan, Brian De Palma sudah melakukannya lewat film Carrie (1976), bahkan Deathgasm yang nyeleneh pun berbagi cerita soal bullying, khususnya di sekolah. Dibungkus tema slasher dengan sentuhan supranatural, bullying tak saja sekedar dijadikan kambing hitam untuk membenarkan aksi balas dendam, tetapi juga memberikan sebuah pencerahan terhadap penonton bahwa bullying itu bisa dihentikan. Jadi terlepas dari hiburan berdarah-darah, Some Kind of Hate punya pesan yang kuat, para pem-bully dan korbannya mestinya menonton film ini.

Hidup Lincoln (Ronen Rubenstein) bagaikan di neraka, rumah yang seharusnya jadi tempat ia berlindung dari kerasnya sekolah, malah tak jauh beda. Setelah ia ditinggal pergi Ibunya ke surga, Lincoln harus pasrah menghadapi Ayahnya yang pemabuk dan hanya mengganggap anaknya seperti sampah. Setiap orang punya titik didihnya masing-masing, kesabaran Lincoln pun ada batasnya, tak lagi tahan jadi korban bullying setiap hari, garpu pun akhirnya menancap ke pipi pem-bully. Aksi membela diri berbuah hukuman, Lincoln dikirim ke sebuah sekolah khusus yang menangani anak-anak bermasalah. Di tempat ini Lincoln berteman dengan dua orang cewek: Kaitlin (Grace Phipps), yang naksir dengan Lincoln, dan Moira (Sierra McCormick), yang datang dari alam gaib untuk membantu Lincoln hadapi para pem-bully. Some Kind of Hate bisa dibilang tahu caranya bersenang-senang dengan hanya memanfaatkan sebuah silet, yup silet, senjata andalan Moira saat dia membantai satu-persatu penghuni sekolah yang berstatus tukang bully. Tapi sebelum Some Kind of Hate masuk ke bagian silet-menyilet, Adam memilih untuk memberikan karakternya waktu luang untuk bercerita dan membuat kita peduli.

Tidak seperti suguhan slasher kebanyakan yang haus darah, dan terlalu terburu-buru ingin mengambil parang lalu bacok sana bacok sini. Menurut saya darah itu penting, tapi Adam juga menganggap karakter sama pentingnya. Pendekatannya terhadap karakter-karakter di Some Kind of Hate inilah yang nantinya membuat saya bisa lebih peduli, bahkan terhadap karakter yang tugasnya mem-bully. Alih-alih menginginkan mereka cepat mati karena menyebalkan, saya malah diracuni untuk berpikir kalau tukang bully sekalipun tak pantas untuk mati mengenaskan. Walaupun awalnya merasa girang ketika Moira sudah mulai beraksi. Disini letak menariknya Some Kind of Hate, dimana penonton digiring untuk punya pola pikir yang sama dengan Lincoln, kalau bully itu tidak perlu dibalas dengan bully. Pesan itulah yang sebetulnya ingin disampaikan Some Kind of Hate, bully bisa berhenti kalau siklusnya tidak diteruskan. Korban bully tidak perlu balas dendam dengan balik menyerang atau malah mengganggu orang lain yang lebih lemah, toh hanya akan melanjutkan siklus kekerasan dan melahirkan tukang bully lainnya. Jarang sekali film horor yang peduli bawa pesan yang kuat seperti Some Kind of Hate.

Di sisi lain, saya tidak bisa berbohong begitu menikmati adegan-adegan sadis di Some Kind of Hate, yang memang terasa “manis”. Apalagi sejak awal kemunculan, saya menyukai tampilan Moira yang bentukannya seperti versi death metal dari Carrie White, seram sekaligus ganas. Dengan beraksesoriskan kalung cantik yang terbuat dari setumpukan silet, Moira tak sekedar jadi arwah penasaran yang asal gorok leher orang, tapi melakukannya dengan cara yang bisa dibilang keren. Silet yang dijadikan satu-satunya alat membunuh pun makin membuat Moira menarik dan juga unik. Walaupun setelah pembunuhan ketiga dan seterusnya, saya tidak merasa segirang pertama kali melihat Moira “bermain” dengan korbannya. Tapi atraksi yang mengumbarkan kesadisan dan darah tetap menghibur mata hingga Some Kind of Hate menyelesaikan durasinya. Didukung iringan scoring dan lagu yang mantap, termasuk memasang tembang black metal dari Myrkur, film horor kecil yang satu ini tidak hanya menghadirkan slasher yang mengasyikkan dengan pesan yang powerful, tapi juga tidak menyia-nyiakan potensinya yang besar.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Ada Apa Den...
Review - 3 Srikandi
Review - Train to Bu...